nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Para Penyebar Hoaks di Solo Beraksi dari Malam hingga Dini Hari

Agregasi Solopos, Jurnalis · Jum'at 29 Maret 2019 21:43 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 29 512 2036867 para-penyebar-hoaks-di-solo-beraksi-dari-malam-hingga-dini-hari-yX7XHXxUBJ.jpg Ilustrasi Hoax atau Berita Bohong (foto: Shutterstock)

SOLO - Jelang penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) pada 17 April 2019, Tim Siber Polresta Surakarta mencatat penyebaran informasi yang diragukan kebenarannya, kabar bohong atau hoaks kian meningkat.

Ketua Tim Cyber Crime Polresta Surakarta, AKBP Andy Rifai, mengatakan, trennya para penyebar hoaks beraksi pada malam hingga dini hari. Dia menjelaskan, penyebaran berita hoaks semakin masif belakangan ini.

Baca Juga: Hentikan Hoaks, Elite Politik Diminta Jadi Pemersatu Bangsa 

Hampir setiap hari tim siber Polresta Surakarta menemukan berita hoaks yang berpotensi memicu konflik sosial. Pada pekan-pekan terakhir Maret, ada delapan hingga sepuluh hoaks yang beredar setiap harinya.

“Dulu tidak setiap hari dan waktunya fluktuatif, tapi semakin dekat Pemilu semakin banyak. Masyarakat harus waspada jangan sampai terprovokasi. Apabila mendapat informasi dilihat dahulu sumbernya apakah dari media mainstream yang dapat dipercaya atau dari sumber lain yang tidak bisa dipercaya,” kata Andy saat ditemui Solopos di Mapolresta Solo, Jumat (29/3/2019).

Dia menambahkan, hoaks biasanya berasal dari akun-akun media sosial yang memiliki jumlah follower yang cukup banyak sehingga dapat menyebar lebih cepat. Ditambah, follower dari akun-akun penyebar hoaks itu juga turut menyebarkan berita hoaks itu.

Sementara hoaks yang sumbernya berasal dari luar wilayah dan luar negeri, upaya take down berita itu menjadi kewenangan Tim Cyber Crime Bareskrim Polri. Menurutnya, berita hoaks yang paling mengkhawatirkan yakni yang bertujuan mengajak masyarakat tidak memilih dalam Pemilu atau golput.

Hoaks lain tak kalah mengkhawatirkan seperti yang menyangkut suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Tim Cyber Polresta Surakarta memiliki 38 personel yang bertugas mengamati dan mendata akun-akun penyebar hoaks.

Namun, penelusuran, tindak lanjut, dan penindakan masuk dalam ranah Bareskrim Mabes Polri. “Masyarakat harus bijak dalam menerima informasi jangan mudah terhasut informasi yang diragukan kebenarannya di media sosial. Kami khawatir berita hoaks yang semakin masif dapat menimbulkan perasaan takut dan menjadikan suasana Kota Solo tidak kondusif. Dugaan kami ada unsur kesengajaan karena penyebarannya mendekati Pemilu,” urai AKBP Andy Rifai yang juga Wakapolresta Surakarta.

Dia menerangkan, pihaknya telah bekerja sama dengan kelompok yang memiliki kepedulian dan fokus dalam memberantas berita hoaks. Kelompok itu juga melakukan upaya memberikan kabar yang benar dan valid untuk meredam penyebaran hoaks.

Koordinasi dengan Tim Siber Bareskrim juga semakin ditingkatkan untuk memberantas persebaran hoaks. Beberapa waktu terakhir, berita hoaks sempat menyasar Polri yang menyebutkan kepolisian di tingkat kecamatan dan kota mendapat perintah melakukan pemetaan pendukung pasangan tertentu.

Baca Juga: Hoax Membahayakan, Polri: 2018 Saja Ada 30.056 Konten Negatif di Medsos 

Ia menegaskan berita itu tidak benar dan tidak ada perintah untuk melakukan itu. Menurutnya, Kapolri menegaskan Polri bersifat netral dan profesional dalam pemilu.

Penyebaran hoaks dapat dijerat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 pasal 14, 15, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial. Sanksi dari perbuatan itu dikenakan ancaman hukuman selama enam tahun penjara. (fid)

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini