nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Seorang Pelukis Ditolak Tinggal di Pleret Yogya karena Beda Agama

Agregasi KR Jogja, Jurnalis · Selasa 02 April 2019 13:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 02 510 2038209 seorang-pelukis-ditolak-tinggal-di-pleret-yogya-karena-beda-agama-7kecmJGXrn.jpeg Slamet Sumiarto (Foto: KRJogja)

BANTUL - Slamet Sumiarto, seorang seniman lukis yang tercatat ber-KTP Notoprajan Ngampilan Kota Yogyakarta ditolak tinggal di kawasan RT 08 Dusun Karet, Kelurahan Pleret, Kecamatan Banguntapan Bantul, Yogyakarta. Alasannya, karena Slamet dinilai memiliki kepercayaan (agama) berbeda dari warga mayoritas yang ada di lingkungan tersebut.

Slamet menceritakan, ia bersama istri dan anaknya pindah mengontrak sebuah rumah di kawasan RT 08 Dusun Karet, Kelurahan Pleret, Kecamatan Banguntapan Bantul pada Sabtu 29 Maret 2019 lalu. Namun, setelah itu muncul penolakan tinggal yang disampaikan Kepala Dusun dan RT setempat.

“Hari Minggu (30 Maret 2019) saya izin Ketua RT membawa berkas Kartu Keluarga dan KTP serta surat nikah. Namun, kemudian Ketua Dukuh dan juga Pak RT melarang saya tinggal di sini. Alasannya, karena saya merupakan non-muslim,” ujar kepada KRJOGJA.com, Selasa (2/4/2019) pagi.

(Baca Juga: Isu SARA dan Hoaks Dinilai Masih Meresahkan Proses Pemilu 2019

Beberapa langkah telah ditempuh Slamet sejak adanya penolakan tersebut, seperti bertemu Sekda DIY Gatot Saptadi dan ke Sekda Kabupaten Bantul. “Kami dipertemukan dengan Pak Lurah, Kepala Dukuh dan ketua kampung, namun tetap saja mereka menolak saya mengontrak di Dusun Karet,” ujarnya.

Ilustrasi 

Senin 1 April 2019 kemarin, menurut Slamet lantas diadakan pertemuan kembali bersama Kepala Kelurahan, Kepala Dusun dan ketua kampung dengan disaksikan Kapolres serta Kapolsek setempat. Ketua kampung akhirnya mengizinkan untuk tinggal selama enam bulan ke depan, di mana sisa enam bulan sang pemilik rumah diminta mengembalikan uang sewa yang telah diberikan Slamet.

“Sebenarnya warga sesepuh tidak mempermasalahkan saya tinggal, tetapi pak ketua kampungnya mengaku mewakili warga mengizinkan saya hanya kontrak enam bulan saja. Supaya (penolakannya diperhalus) pemilik rumah mengembalikan sisa uang sewa enam bulannya kepada saya. Saya menolak kalau hanya tinggal enam bulan saja,” tuturnya.

(Baca Juga: Kemendagri Sebut Penggunaan Isu SARA Belum Capai Level Mengkawatirkan

Pengurus kampung, Daryanto yang ditemui Slamet saat menyampaikan izin tinggal pun mengatakan ada keputusan bersama di kampung sejak dahulu secara tertulis sejak 2012 lalu bahwa non muslim tak boleh tinggal di kawasan tersebut termasuk dalam jual beli tanah pun harus sesama muslim.

“Ini sudah keputusan kampung ada secara tertulisnya, yang sembrono Saryono (pemilik rumah) mengapa membolehkan tinggal padahal sudah ada peraturan kampungnya, sembrono dia,” ujarnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini