nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perempuan Inggris Ditahan di Dubai karena Sebut Istri Baru Mantan Suaminya "Kuda"

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Senin 08 April 2019 18:28 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 08 18 2040685 perempuan-inggris-ditahan-di-dubai-karena-sebut-istri-baru-mantan-suaminya-kuda-evs6q8dtq7.jpg Laleh Shahravesh berfoto bersama anaknya. Foto/ITV

DUBAI - Seorang perempuan Inggris ditahan di Dubai, Uni Emirat Arab karena menyebut istri baru mantan suaminya "kuda" di Facebook tiga tahun lalu.

Organisasi hak asasi manusia (HAM), Detained melaporkan Laleh Shahravesh (55) telah melanggar undang-undang kejahatan siber UEA, dan bisa di penjara selama 2 tahun.

Kejadian bermula saat Shahravesh mengomentari foto-foto suaminya yang telah menikah lagi di Facebook. Ia pun menulis komentar dalam bahasa Farsi.

"Aku harap kamu pergi ke neraka, idiot. Sialan kamu. Kamu meninggalkan aku untuk kuda (perempuan) ini," tulis dia.

Shahravesh dan putrinya yang masih remaja ditahan pada bulan Maret 2019 ketika mereka melakukan perjalanan ke Dubai untuk menghadiri pemakaman mantan suaminya.

Shahravesh menikah dengan mantan suaminya selama 18 tahun. Mereka tinggal sebentar di Dubai, tetapi setelah bercerai, dia membawa putri mereka ke Inggris.

Undang-undang kejahatan siber UEA menyebut seseorang dilarang menghina di media sosial. Namun janda mantan suaminya itu melaporkan Shahravesh ke pihak berwenang.

Shahravesh dibebaskan setelah membayar denda, tetapi paspornya disita dan dia tinggal di sebuah hotel sambil menunggu persidangan, lapor BBC News.

Shahravesh mengatakan bahwa dia menghabiskan tabungannya untuk membayar hotel, dipecat dari pekerjaannya, dan mungkin kehilangan apartemennya di Inggris.

"Saya takut. Saya tidak bisa tidur atau makan. Berat badan saya turun karena stres, dan putri saya menangis setiap malam," katanya kepada di Dubai.

Radha Stirling, CEO Detained di Dubai, yang mewakili Shahravesh, mengkritik kurangnya dukungan Kantor Asing dan Persemakmuran (FCO).

"Laleh dan keluarganya tidak mengetahui adanya intervensi diplomatik dan merasa sepenuhnya ditinggalkan oleh pemerintah mereka," katanya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini