nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bekerja Terlalu Keras, Pria Jepang Bunuh Diri Setelah Lembur 70 Jam Sebulan Tanpa Bayaran

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 08 April 2019 18:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 08 18 2040693 bekerja-terlalu-keras-pria-jepang-bunuh-diri-setelah-lembur-70-jam-sebulan-tanpa-bayaran-jfcXLNiY7B.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

SEORANG pria di Jepang diduga memutuskan bunuh diri karena terlalu banyak bekerja setelah dia diketahui melakukan lembur selama 70 jam dalam satu bulan tanpa dibayar.

Berdasarkan keterangan pengacara keluarganya, Yukinobu Sato telah dipekerjakan oleh badan antariksa Jepang dan telah diberi target kerja yang "tidak dapat diraih". Pria berusia 31 tahun itu melakukan bunuh diri di rumahnya pada Oktober 2016.

Pekan ini, klaim kompensasi keluarga Sato disetujui setelah kematiannya diakui sebagai "karoshi" kata dalam bahasa Jepang yang berarti kematian karena terlalu banyak bekerja.

Sato dipekerjakan oleh Software Consultant Corp, pada sebuah proyek badan antariksa nasional, JAXA, yang telah dikontrakkan kepada perusahaan itu. Dia terlibat dalam operasi pengendalian satelit Pengamat Gas Rumah Kaca Ibuki di Pusat Antariksa Tsukuba JAXA di Tsukuba.

Laporan Asahi yang dilansir Mirror, Senin (8/4/2019) menyebutkan bahwa selain menangani operasi pengendalian satelit, Sato juga diminta untuk mengembangkan perangkat lunak untuk sistem yang mengatur jadwal satelit tersebut.

Dia juga mengalami kesulitan dengan bosnya, dan beban kerjanya meningkat sesaat sebelum kematiannya.

Berbicara pada konferensi pers, Kawahito, yang duduk di sebelah ibu Sato, Hisae, mengatakan bahwa pihak berwenang di Tsuchiura mengutip tekanan fisik dan psikologis yang berat yang dialami pemuda itu. Hal ini menyebabkan gangguan penyesuaian, yang pada akhirnya mendorong Sato untuk mengakhiri hidupnya.

Kawahito menunjukkan bahwa Sato bekerja pada jam kerja yang sangat menuntut untuk operasi kontrol, yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Dia bekerja shift malam selama 16 jam tujuh kali sebulan.

Setelah ia mulai memikul tanggung jawab yang lebih berat di tempat kerja pada September 2016, jam lemburnya mencapai 70 atau lebih per bulan.

Parahnya lagi, Ketika Sato mencoba untuk mengklaim lembur, bosnya memberinya peringatan, memaksanya untuk bekerja lembur tanpa bayaran.

Perwakilan Software Consultant Corp. mengatakan "Kami dengan tulus menerima pengakuan kematian terkait pekerjaan ini dan akan melakukan yang terbaik untuk mengambil tindakan pencegahan."

Sementara JAXA dalam pernyataannya mengatakan "Sebagai kontraktor proyek, kami akan melakukan upaya untuk menilai situasi untuk melihat apakah ada area untuk perbaikan."

"Karoshi" adalah istilah yang diciptakan pada 1970-an untuk menggambarkan kematian akibat gagal jantung atau stroke, atau orang yang mengambil nyawanya sendiri, sebagai hasil dari jam kerja yang panjang.

Diperkirakan pada 2017 terdapat 200 kematian di Jepang terkait dengan pekerjaan yang berlebihan.

(dka)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini