nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Unpar Gelar Seminar Intercultural Learning and Global Engagement 2019

Risna Nur Rahayu, Jurnalis · Rabu 10 April 2019 07:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 09 65 2041163 unpar-gelar-seminar-intercultural-learning-and-global-engagement-2019-aWYjel0sR5.jpg Suasana seminar ILGE di Unpar (Foto: Unpar)

BANDUNG - Agar dapat bersaing di era berkembangnya isu-isu lintas budaya yang disebabkan oleh globalisasi, penting bagi suatu institusi pendidikan tinggi untuk memiliki kompetensi interkultural. Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas sivitas akademika, Kantor Internasional dan Kerjasama Universitas Katolik Parahyangan (KIK Unpar) menyelenggarakan kegiatan seminar dan workshop Intercultural Learning and Global Engagement (ILGE), pada 23-24 Maret 2019 di Operatioon Room, Unpar.

ILGE ini diadakan atas kerja sama dengan Malmo University, James Madison University dan Viadrina University melalui hibah Konsorsium International Network of Universities (INU). Adapun rangkaian acara selama dua hari mencakup seminar dan workshop dengan topik yang beragam.

Dalam kata sambutannya, Rektor Unpar Mangadar Situmorang PhD berharap agar kegiatan seminar dapat memberikan hasil positif dalam menginternasionalisasikan perguruan tinggi di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa dewasa ini, tekanan dari dalam negeri untuk dapat berkontribusi dalam komunitas global semakin terasa. “Forum semacam ini sangatlah penting, tidak hanya dapat membantu dalam hal managerial kegiatan internal, tetapi juga dalam menyokong kurikulum, kegiatan akademik, mahasiswa dan staf-staf kami untuk menjadi lebih mendunia,” tegasnya.

Hari pertama memiliki fokus pada pembelajaran materi melalui rangkaian seminar yang diadakan pada Jumat, 23 Maret 2019. Terdapat total lima seminar oleh enam pembicara, yang terdiri dari tenaga pengajar dan praktisi di bidang interkultural dari Malmo University, James Madison University, Universitat Rovira i Virgili, dan Viadrina University.

Teaching in an International Higher Education Context

Sesi pertama diawali dengan presentasi yang dibawakan oleh Dr. Gundulla Gwenn Hiller dari Viadrina University yang berjudul “Teaching in an International Higher Education Context”. Pembicara menjelaskan pentingnya institusi pendidikan tinggi untuk membuat kelas yang terinternasionalisasi agar dapat membangun institusi dengan kompetensi interkultural yang dapat bersosialisasi secara akademis dan memudahkan proses transisi dalam sistemnya.

Terdapat dua pendekatan interkultural yang dapat diaplikasikan ke dalam pengajaran atau pelatihan institusi pendidikan tinggi. Pertama adalah reflexive culture, yaitu adanya kesadaran bahwa latar belakang budaya yang berbeda dapat dijadikan penjelasan suatu fenomena lintas budaya namun tidak dijadikan sebagai suatu stereotype. Kedua, adalah pendekatan praxeological, di mana perlu adanya pemahaman kolektif bahwa praktik sosial dalam konteks mengajar dan diajar dianggap sebagai perilaku kebiasaan, dan mungkin berbeda di setiap negara. Hal ini menjelaskan perbedaan dalam sistem pendidikan di seluruh Eropa menjadikan Eropa memiliki kompetensi interkultural yang tinggi.

 

SUCTI

Kemudian dalam presentasinya yang berjudul “The Internationalization at Home and the SUCTI Project”, Marina Cassal-Sala dari Universitat Rovira I Virgili membahas tentang konsep Internationalisation at Home dan mengenalkan peserta dengan program Systemic University Change Towards Internationalisation (SUCTI). Internationalisation at Home menjadi solusi bagi universitas yang memiliki keterbatasan untuk mengirimkan pelajar atau staf ke luar negeri untuk mencapai internasionalisasi secara komprehensif dengan menggunakan program SUCTI.

Program SUCTI berisikan berbagai macam pelatihan, sharing informasi, pelatihan bahasa, dan kebutuhan lainnya untuk memberdayakan baik pelajar maupun staf, khususnya staf non-akademik universitas. Melalui program SUCTI, universitas dapat memberikan kesempatan bagi pelajar dan stafnya untuk mengembangkan diri dan turut berperan dalam proses internasionalisasi dari dalam institusi.

Intercultural Learning in a Globally Engaged University

Sesi ketiga diisi dengan presentasi berjudul “Intercultural Learning in a Globally Engaged University” oleh Cecilia Christersson dan Patricia dari Malmo University. Presentasi ini memberikan perspektif Internationalisation at Home (IaH), atau cara Swedia memandang inti dari internasionalisasi itu sendiri.

Pembicara menjelaskan bahwa dalam membangun kompetensi interkultural yang komprehensif, perlu adanya pembelajaran interkultural dalam kurikulum institusi pendidikan dan juga kolaborasi antar institusi pendidikan tinggi dan dengan pemerintahnya. Kota Malmo, Swedia yang multikultur dan Malmo University, yang merupakan institusi pendidikan tinggi dengan kompetensi interkultural tinggi dijadikan sebagai model dalam presentasi ini.

Deep Dive into Assessment of Global Learning Experience

Dalam presentasinya yang berjudul “Deep Dive into Assessment of Global Learning Experience”, Vesna Hart dari James Madison University menjelaskan pentingnya melakukan assessment atau penilaian mendalam mengenai pengalaman pembelajaran global. Penilaian mendalam ditujukan untuk melihat bagaimana perspektif suatu individu dapat mempengaruhi interaksi, dipengaruhi oleh konteks sosial, dan berubah karena adanya perbedaan latar belakang budaya dari pengalaman pembelajaran global.

Pembicara mengenalkan peserta dengan salah satu metode yakni Beliefs, Events, and Values Inventory (BEVI), yang merupakan alat analitis untuk melihat bagaimana dan mengapa kita melihat diri sendiri, orang lain, dan dunia sebagaimana kita melakukannya, juga pengaruh dari proses tersebut dalam berbagai aspek dari fungsi manusia.

Intercultural Peer Tutoring – Learning Support at Eye Level within Higher Education

Presentasi terakhir yang berjudul “Intercultural Peer Tutoring – Learning Support at Eye Level within Higher Education” dibawakan oleh Stefanie Vogler-Lipp dari University Viadrina. Pembicara mengenalkan peserta dengan salah satu metode pembelajaran interkultural Peer Tutoring/Learning, yang merupakan proses di mana peserta belajar dari sesama peserta satu sama lain baik secara formal maupun informal. Peer di sini dimaksudkan sebagai kelompok kolega dengan umur atau latar belakang yang sama dengan kondisi pembelajaran yang simetris, atau pada eye-level. Metode ini dapat dijadikan sebagai pendukung pembelajaran yang dapat diterapkan dalam institusi pendidikan tinggi.

Selain seminar, hari pertama dari rangkaian acara ILGE juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengikuti seleksi melalui presentasi poster terkait internasionalisasi dan pembelajaran interkultural. Para peserta yang terpilih akan mengikuti pelatihan lanjutan yang akan diadakan di Malmo University, Swedia, pada September 2019 mendatang. Dalam sesi ini, para peserta terlihat antusias memaparkan presentasi singkat dengan menyajikan poster-poster yang unik dan menarik secara visual.

Sesi sharing melalui diskusi dan evaluasi kelompok mengenai materi seminar dan apa yang sudah dipresentasikan oleh masing-masing peserta menjadi penutup rangkaian acara ILGE hari pertama.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini