nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Moses Mayer Penemu Aplikasi Pengelolaan Sampah yang Mengidolakan Habibie

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 19:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 12 65 2042731 moses-mayer-penemu-aplikasi-pengelolaan-sampah-yang-mengidolakan-habibie-f3SAApvBR8.jpg

JAKARTA - Moses Mayer salah seorang siswa Jakarta Intercultural School (JIS) Indonesia menemukan inovasi baru. Adalah SampahLink yang merupakan sebuah aplikasi smartphone untuk pengelolaan sampah.

Melalui aplikasi ini, Moses melakukan sejumlah kegiatan peningkatan kesejahteraan para pemulung, seperti memberikan bantuan microfinance untuk pengadaan alat dan pendidikan para pemulung serta komunitasnya.

Menurut Moses, SampahLink dan microfinance club bisa memberikan solusi untuk menanggulangi polusi, kesadaran daur ulang, serta membantu menciptakan tingkat kehidupan serta masa depan yang lebih baik bagi kelompok masyarakat ekonomi lemah. Apalagi saat ini sendiri pemerintah juga tengah serius untuk memerangi sampah plastik.

"SampahLink ini pengelolaan sampahnya terhubung pada aplikasinya smartphine. Jadi bisa memantau orang juga. SampahLink juga buat meningkatkan kesadaran," ujarnya saat ditemui di JIS, Jakarta, Jumat (12/4/2019).

 Baca Juga: Moses Mayer, Putra Indonesia Jawara Matematika Dunia

Memang menurutnya, saat ini belum ada respon dari pemerintah mengenai aplikasi yang dikembangkannya tersebut. Namun dirinya membuka pintu lebar jika nantinya aplikasi ini akan dipakai pemerintah untuk membantu mengurangi sampah plastik.

"Komunikasi dengan pemerintah masih belum ada. Tapi saya tidak akan menolak jika pemerintah menginginkan aplikasi SampahLink. Karena saya yakin menggunakan ini bisa mengurangi sampah plastik," katanya.

Moses pun menceritakan awal mulanya menciptakan aplikasi ini. Awal mulanya inti terjadi berkat minatnya kepada mata pelajaran Matematika.

Dirinya mengaku lewat Matematika, dirinya mengembangkan research paper berjudul On the Game-Theoritics Model of Indonesia’s Pollution State, Moses menggunakan salah satu teori matematika, game theory, untuk membuat rumus matematika dalam mengatasi problem sampah.

Penelitian itu dia kembangkan saat melakukan riset matematika di bawah mentor Carl Yerger dari Davidson College di Amerika Serikat. Inilah awal dari munculnya ide SampahLink

"Saya sering melihat pemulung sedang mengorek tempat sampah di pinggir jaan untuk mencari sampah kering yang bisa mereka jual untuk daur ulang. Padahal banyak pihak (terutama rumah tangga) yang memiliki sampah kering justru bingung dalam mengelola sampah tersebut," katanya.

 Baca Juga: Jagoan Matematika Ini Diterima di Harvard hingga Universitas Singapura

"Di sinilah muncul ide SampahLink yang menghubungkan para pemulung dengan pemilik sampah kering melalui aplikasi berbasis smartphone sehingga kedua pihak menjadi saling diuntungkan, serta dapat meningkatkan kesejahteraan para pemulung,” imbuhnya.

Di masa depan, Moses ingin meniti awal kariernya di luar negeri untuk mencari pengalaman dan menembus jaringan internasional. Dan mimpi besarnya adalah menjadi social entrepreneur yang sukses di negeri ini.

"Saya berharap, saya dapat membawa jaringan-jaringan ini agar dapat berguna untuk perkembangan perekonomian Indonesia. Dan tentu saja, saya akan menggunakan ilmu dan ketrampilan data science, matematika dan computer science saya untuk membantu mengatasi permasalahan di Indonesia,” jelasnya

Mengidolakan BJ Habibie

Moses sendiri mengaku mengidolakan sosok Presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. Memurutna, sosok Habibie dinai sebagai seorang yang sanga pandai dan jenius.

"Bapak BJ Habibie adalah seorang yang sangat pandai dan jenius. Beliau berkesempatan menimba ilmu di luar negeri dan beliau membawa ilmunya kembali ke Indonesia untuk membangun Indonesia. Saya ingin seperti dia,” katanya.

Berkaca pada sosok Habibie, dirinya juga selain belajar mengikuti berbagai macam aktivitas diluar rumah seperti main Basket.

"Namun sebagian besar waktu saya adalah latihan untuk seleksi tim Olimpiade Indonesia dalam International Olympiad in Informatics. Sekarang saya bisa lakukan sendiri karena banyak website untuk belajar mandiri. Saya juga sering menjadi pembicara untuk sharing mengenai peran matematika dalam banyak aspek kehidupan, tentang riset game theory saya, dan lainnya,” katanya.

Sementara itu, Head of School JIS Tarek Razik mengatakan, kiprah Moses dengan berbagai pencapaian di tingkat dunia dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk tidak pernah berhenti meraih yang terbaik.

“Dan tentu saja, dalam perjalanan meraih prestasi, mereka juga harus melihat lebih dekat problem yang dihadapi masyarakat dan aktif menemukan solusi untuk kehidupan yang lebih baik bagi sesama,” katanya.

Sebagai informasi, Moses Mayer siswa Jakarta Intercultural School (JIS) berhasil mengharumkan nama Indonesia di sejumlah kompetisi bergengsi di bidang bahasa, matematika, sains, robotika, informatika dan komputasi dunia.

Tak hanya pada tahun ini saja, Moses sudah berprestasi sejak masih di sekolah dasar hingga saat ini di kelas 12.

Dia memenangkan banyak penghargaan olimpiade maupun kompetisi matematika serta informatika atau computer science di tingkat nasional maupun internasional, di antaranya medali emas OSN, medali emas National Olympiad in Informatics di Singapura, medali perunggu Internasional Olympiad of Metropolises di Moscow, medali perunggu di Junior Balkan Mathematics Olympiad di Romania, hingga medali-medali dan penghargaan bidang matematika maupun bidang informatika di Cina, Kazakhstan, Hong Kong dan lainnya.

Moses sendiri telah menerima tawaran untuk kuliah di kampus-kampus top kelas dunia. Lima kampus yang masuk dalam jajaran Ivy League dan siap menyambutnya adalah Harvard University, Princeton University, Yale University, Cornell University dan University of Pennsylvania. Selain itu, M.E.T UC Berkeley, UCLA, University of Michigan dan Carnegie Melon University juga telah menerima Moses untuk belajar di kampus mereka.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini