nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Anies Tanggapi Komentar Ahok soal Penanganan Banjir Ibu Kota

Fahreza Rizky, Jurnalis · Kamis 02 Mei 2019 13:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 02 338 2050553 anies-tanggapi-komentar-ahok-soal-penanganan-banjir-ibu-kota-jhk43Nr6Y2.jpg Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Ahok (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan membandingkan jumlah warga yang mengungsi akibat banjir di era pemerintahan dirinya dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Hal tersebut dikatakan Anies untuk merespons saran dari Ahok terkait penanganan banjir di Jakarta. Mantan Gubernur DKI itu menyarankan semua pihak tidak membiarkan sampah di sungai hingga menyumbat saringan.

"Saya terima kasih semua orang yang pernah bertugas di Jakarta, termasuk Pak Basuki pasti berpengalaman terkait dengan banjir. Apalagi Pak Basuki, karena banjir yang kemarin itu bukan apa-apanya dibanding banjir yang pernah dialami Pak Basuki. Kalau sekarang itu hanya 1.600 orang yang harus mengungsi. Kalau dulu bisa sampai 200 ribu," kata Anies di Monas, Jakarta, Kamis (2/5/2019).

Menurut Anies, Ahok mengalami situasi yang lebih sulit dibandingkan dengan dirinya terkait penanganan banjir Ibu Kota. Pasalnya jumlah pengungsi yang terdampak banjir di era Ahok sangat besar, sekitar 200 ribu lebih. Sedangkan ketika era dirinya hanya 1.600-an orang.

"Jadi beliau memang pernah mengalami situasi yang sangat sulit dibandingkan dengan apa yang saya alami kemarin," imbuh dia.

Baca Juga: Ahok: Gubernur Sekarang Pintar Berkata-kata Soal Penanganan Banjir

Ahok dan Anies

Anies menuturkan, banjir yang terjadi beberapa waktu lalu berada di wilayah sebelum masuk ke pusat kota. Banjir terjadi di bantaran sungai karena ada air dari hulu dan belum masuk sampai saringan sebagaimana dibilang Ahok.

"Belum masuk sampai ke wilayah saringan, belum sampai wilauah pompa. Itu sekarang. Yang minggu lalu itu terjadi Anda lihat, Jatinegara, sekitar Kampung Pulo, sekitar Klender. Itu semua masih di wilayah timur dan selatan. Nah pompa-pompa kita itu banyaknya di pusat dan utara. Itu wilayah kebanyakan pompa," terangnya.

"Nah kenapa pompa ada? Karena permukaan kanal-kanal seperti Gunung Sahari air sungainya lebih tinggi dari pada ke daratannya. Jadi kalau hujan nanti kita akan cek juga. Tapi poin utamanya adalah kita apresiasi semua perhatian dan Insya Allah semua yang disebut sebagai isu-isu teknis akan selalu diantisipasi dengan baik," sambungnya.

Sebelumnya, Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menceritakan pengalaman dirinya saat memimpin Ibu Kota dalam menangani banjir yang datang akibat meluapnya sungai Ciliwung.

Ahok mengatakan, Pemprov DKI tak boleh lupa dalam menempatkan alat berat di sekitar kali untuk mengangkut sampah selama 24 jam. Ia meminta alat itu tetap ditempatkan meskipun sedang memasuki musim kemarau.

"Kita dulu selalu taruh alat berat.. Kalau saringan ketutup, volume air kan enggak bisa turun cepat dan tentu pasukan orange mesti keliling, pasukan biru mesti keliling," kata Ahok.

Banjir

Ahok menambahkan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga harus memastikan sampah tidak ada yang tersumbat di dalam saluran air. "Tiap kali hujan Jakarta kan banyak kadang-kadang ada buang sampah jangan nyumbat, kalau nyumbat, volume air turunnya telat," kata dia.

Selain itu, setiap mengetahui adanya indikasi banjir yang akan datang, jangan sampai telat menyalakan pompa. Sehingga, air tak akan tumpah ke jalan terlalu banyak karena pompa sudah siap menyedot air kali yang meluap.

"Sama pompa mesti diperhatikan, jalan jamnya mesti dipenuhi jangan menghidupkan pompa telat, kalau kamu telat enggak keburu," ujarnya.

Seperti diketahui, pada pekan lalu ada sekira 43 titik tergenang banjir akibat meluapnya sungai Ciliwung pada Jumat, 26 April 2019 lalu. Akibat musibah itu dua orang harus meregang nyawa karena terseret derasnya arus banjir.

(edi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini