nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pentingnya Fasilitasi Siswa Sekolah Dasar Belajar Keberagaman Agama Secara Kontekstual

Risna Nur Rahayu, Jurnalis · Senin 13 Mei 2019 08:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 13 65 2054887 pentingnya-fasilitasi-siswa-sekolah-dasar-belajar-keberagaman-agama-secara-kontekstual-cY5SqjscWv.jpg Foto: Unpar

BANDUNG - Tim dosen pada program studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan menginisiasi program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan menanamkan sikap toleransi antar-umat beragama di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Prorgam tersebut bertemakan ‘Pendampingan Pendidikan Nilai-Nilai Keberagaman Kepada Guru, Orang Tua dan Siswa Sekolah Dasar di Ciumbuleuit Bandung: Upaya Pencapaian SDGs #16’.

Dosen tetap pada Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNPAR, yang juga anggota tim pengabdian masyarakat, Anggia Valerisha mengatakan, program pengabdian masyarakat merupakan bagian dari tridharma perguruan tinggi yang tidak pernah luput dilakukan oleh universitas. “Penting bagi akademisi di perguruan tinggi untuk merancang program pengabdian kepada masyarakat yang diarahkan untuk menjawab tantangan lokal maupun global, ujarnya dalam rilis yang diterima Okezone.

Universitas Parahyangan menggandeng Komunitas Bhinneka, mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam organisasi Kakak Asuh, serta guru, orang tua dan siswa-siswi SDN 108 Ciumbuleuit dan SDN 188 Bandung Baru. Kegiatan tersebut didanai oleh LPPM UNPAR dan Alumni FISIP Angkatan 1992 yang dalam pelaksanaannya melibatkan 150 orang.

unpar 

Selain pembekalan terhadap guru, orang tua, mahasiswa dan juga siswa-siswi terkait nilai-nilai keberagaman, kegiatan utama dari program itu adalah mendampingi siswa-siswi sekolah dasar kelas 4 dan 5 untuk berkunjung ke rumah ibadah dari berbagai agama dan kepercayaan yang diakui di Indonesia. Di antaranya kunjungan ke Pura Wira Chandra Dharma Secapa AD (Hindu), Masjid Sabiilul Iman Secapa AD (Islam), Gereja Katedral (Katolik), Gereja Kristen Indonesia Taman Cibunut (Protestan), Vihara Dharma Ramsi (Buddha Tri Dharma), Klenteng Kong Miao (Kong Hu Chu).

Menurut Anggia, di setiap kali kunjungan ke rumah ibadah, siswa-siswi memperoleh informasi yang disampaikan langsung oleh pemuka agama, seperti mengenai pengetahuan umum tentang agama, sejarah dan arsitektur tempat ibadah, pengucapan salam, perlengkapan ibadah, alat musik, hingga simbol-simbol yang melekat pada agama atau kepercayaan tersebut. Merespon pengetahuan yang didapat, siswa-siswi menunjukkan sikap aktif, kritis dan terbuka.

unpar 

“Dari pengalaman kegiatan pengabdian masyarakat ini, dapat disimpulkan bahwa pertama, sikap dan karakter yang toleran dapat terbentuk jika terdapat pendidikan pengenalan nilai-nilai keberagaman. Kedua, adalah sesuatu yang mendasar untuk menyampaikan pentingnya nilai keberagaman kepada siswa-siswi sejak usia dini. Ketiga, proses pembelajaran yang menarik dan kontekstual (turun ke lapangan) dirasa lebih efektif karena siswa-siswi tidak saja beroleh pengetahuan secara kognitif namun juga secara afektif dan psikomotorik,” urainya.

Mengenai alasan pihaknya mengangkat tema tersebut untuk program pengabdian masyarakat, karena ramainya kasus yang berkaitan dengan inteloransi meliputi diskriminasi, radikalisme dan kekerasan yang sejatinya bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Selain itu, dalam rangka mendukung pemerintah memenuhi target Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang diadopsi tahun 2015 oleh negara-negara anggota PBB, di mana indikator pencapaian SDGs adalah terciptanya masyarakat adil, damai dan inklusif, anti-diskriminasi dan anti-kekerasan yang didasarkan oleh berbagai latar belakang termasuk agama.

“Kita perlu mengakui bahwa di antara semua aspek keberagaman yang ada di negeri ini, salah satu aspek yang seringkali sulit dibahas bersama adalah mengenai agama. Padahal, agama merupakan bukti kepercayaan seseorang yang nyata terlihat secara sosial. Orang beribadah kepada Tuhan-nya dengan berbagai cara dan berbagai simbol yang melekat tentu adalah sesuatu yang dapat kita lihat. Ketika suatu hal yang nyata tersebut tidak dipahami oleh orang lain yang berbeda agama, maka yang terjadi adalah munculnya kecurigaan, stigma, bahkan secara ekstrem melahirkan sikap-sikap intoleransi yang mengarah pada diskriminasi, radikalisme, serta kekerasan. Tak terhitung berapa banyak nyawa yang menjadi korban di seluruh dunia akibat berbagai tindakan yang lahir dari pemahaman dan sikap-sikap tersebut,”

Sementara itu, selain Anggia Valerisha, anggota tim pengabdian masyarakat lainnya dari Universitas Parahyangan yaitu Elisabeth A. S Dewi, Giandi Kartasasmita dan Putu Agung Nara Indra.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini