nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

AS Rencanakan Pengiriman 120.000 Pasukan ke TimTeng untuk Hadapi Iran

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 14 Mei 2019 11:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 14 18 2055411 as-rencanakan-pengiriman-120-000-pasukan-ke-timteng-untuk-hadapi-iran-BoQbXMdnK3.jpg Foto: Reuters.

WASHINGTON – Pejabat tinggi pertahanan Amerika Serikat (AS) telah mengajukan sebuah perbaruan rencana militer kepada pemerintahan Presiden Donald Trump yang merencanakan pengiriman sampai 120.000 pasukan AS ke Timur Tengah jika Iran melakukan serangan terhadap tentara AS atau mempercepat pengerjaan pembuatan senjata nuklir. Hal itu dilaporkan New York Times pada Senin.

Mengutip pejabat pemerintah yang tidak disebutkan namanya, Times mengatakan Penjabat Sementara Menteri Pertahanan Patrick Shanahan mempresentasikan rencana itu pada pertemuan para pejabat keamanan Trump pada Kamis pekan lalu

Gedung Putih belum menanggapi permintaan komentar sementara Pentagon menolak berkomentar. Reuters tidak dapat segera mengonfirmasi laporan Times tersebut.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah meningkat sejak Trump menarik diri dari kesepakatan program nuklir 2015 yang disepakati oleh Iran dengan kekuatan dunia. Perjanjian itu mengekang kegiatan nuklir Iran sebagai ganti pencabutan sanksi.

Namun, setelah keluar dari kesepakatan tersebut Trump menjatuhkan kembali sanksi ketat terhadap Teheran.

Trump ingin memaksa Teheran untuk menyetujui perjanjian kontrol senjata yang lebih luas dan telah mengirim kapal induk dan pesawat pengebom B-52 ke Teluk dalam unjuk kekuatan terhadap apa yang para pejabat AS katakan merupakan ancaman bagi pasukan AS di wilayah tersebut.

Iran telah mengatakan AS melakukan "perang psikologis," menyebut kehadiran militer AS di Teluk sebagai "target" daripada ancaman. Teheran juga menegaskan tidak akan membiarkan ekspor minyaknya dihentikan.

Times mengatakan di antara mereka yang menghadiri pada pertemuan Kamis adalah Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, Direktur CIA Gina Haspel, Direktur Intelijen Nasional Dan Coats, dan Pimpinan Kepala Staf Gabungan, Jenderal Jenderal Joseph Dunford.

Laporan Times menyebutkan bahwa ada beberapa rencana yang dirinci dalam pertemuan tersebut, dan "opsi paling atas menyerukan penggelaran 120.000 pasukan, yang akan membutuhkan waktu beberapa pekan atau berbulan-bulan untuk diselesaikan."

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini