nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cantiknya Dian Sastrowardoyo Jadi Penguji Talenta Kerja Mahasiswa Vokasi Humas UI

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 20 Mei 2019 21:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 20 65 2058147 cantiknya-dian-sastrowardoyo-jadi-penguji-talenta-kerja-mahasiswa-vokasi-humas-ui-GdVuXlKgfe.jpeg Foto: Universitas Indonesia

DEPOK - Universitas Indonesia melalui Program Studi Vokasi Humas menyelenggarakan Uji Talenta Kerja berbasis Kompetensi Mata Kuliah. Uji coba ini sebagai bagian persiapan memasuki dunia kerja.

Dalam acara tersebut dihadirkan para penguji profesional dari berbagai bidang seperti misalnya Dian Sastrowardoyo, Muhammad Qadavi, Etsa Amanda, Maria Britta, Albert Koto, Ria Maharani, Sari Wardi Astuti, Farida Widyastuti, Rini Soraya, Ariyani Marwadi, Reska Herlambang, Anggi Nurjihan, yang mewakili pelaku industri kreatif, perusahaan startup dan unicorn, perbankan, pertambangan, media, talent management, dan lainnya.

Ketua Program Studi Vokasi Humas UI Devie Rahmawati mengatakan, kehadiran para penguji profesional ini menyusul sederet profesional lainnya yang telah lebih awal mengajar sebagai pengajar praktik secara reguler di Program Vokasi Humas (dahulu komunikasi). Program study ini sendiri memiliki tiga peminatan yaitu Humas, Broadcasting dan Periklanan.

“Adapun beberapa professional yang dimaksud adalah Reza Rahadian, Sheila Timothy, Angga Dwi Sasongko, Acha Septriasa, William Utomo, Krishna Nugraha, Wida Septarina, Bernaldi Pamuntjak, Asep Sutresna, dan lainya. Mereka bersama pengajar teori di Program Vokasi Humas, mengajar dengan sistem team teaching untuk 16 kali pertemuan selama satu semester,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin (20/5/2019).

Sementara itu, Founder Klinik Digital Vokasi UI Devie mengatakan, soal-soal yang diujikan meliputi tiga aspek yaitu Presentation (Clear and relevant content, compact and straight forward, clear and relevant visualization, proper animation (if any slides), time management), Personal (Posture, Appearance, Articulation, Eye contact, Confident, Positive mindset), Interaction (Understanding the question, Sharp answering, Flow of thought, Ability to implement learning from campus to daily activity or responding to the question).

“Uji kompetensi Talenta Kerja berbasis mata kuliah ini merupakan upaya Program Vokasi Humas, memastikan para mahasiswa memiliki pengalaman nyata berkompetisi merebut kursi di industri. Ujian ini menjadi salah satu cara industri untuk lebih awal mendapatkan SDM berkualitas (talent search) untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja,” ujarnya.

Sementara itu, Amelita Lusia yang merupakan pengajar teori sekaligus co-founder Klinik Digital Vokasi UI mengatakan, Program studi Vokasi Humas, sejak tahun lalu telah menerapkan kurikulum 3-2-1 secara utuh. Maksudnya adalah para mahasiswa selama 3 semester akan menempuh pendidikan di kelas dan laboratorium.

“Lalu selama dua semester melakukan studi di industri secara penuh dan satu semester kembali ke laboratorium atau tetap berada di industri untuk menyusun laporan akhir,” seru Amelita, peneliti komunikasi bencana,” jelasnya.

Sementara itu, Rangga Wisesa yang merupakan pengajar teori yang menjadi team teaching bersama Reza Rahadian mengatakan adanya program ini adalah agar mahasiswa biusa siap untuk memasik indsutri selepas kuliah. Oleh karena itu program vokasi humas ini menyiapkan ujian kompetensi talenta kerja berdasarkan mata kuliah yang telah diambil oleh para mahasiswa selama 3 semester sebelumnya.

“Sehingga ketika mereka lulus dari program vokasi, hampir seluruh mahasiswa vokasi humas tidak lagi mencari pekerjaan, karena sebelum lulus, mereka sudah praktik selama 1.5 tahun secara penuh di industri. Mahasiswa telah memiliki jaringan dan pengalaman yang kuat sebelum menyandang gelar kelulusan,” jelas Rangga

Peneliti komunikasi social Devie Rahmawati mengatakan, berdasarkan data Institute of Public Policy Research (IPPR) tahun 2014 lalu disebutkan bahwa berbagai profesi-profesi di masa datang, yang ditengarai akan mendorong terjadinya partumbuhan ekonomi dan pergerakan manusia secara massif, tidak membutuhkan pendidikan akademik tradisional. Studi The Edge Foundations menunjukkan bahwa 90% pekerjaan ke depan membutuhkan kualifikasi Vokasi.

“Pelaksanaan di tanggal 20 Mei ini menjadi momen simbolis Kebangkitan Pendidikan Vokasi Indonesia. Pendidikan yang akan menghantarkan negeri ini menjadi negeri yang semakin mandiri, dengan kemampuan professional masyarakatnya, melalui pendidikan Vokasi, yang dimulai dari pendidikan kejuruan di tingkat dasar (SMK), hingga Master dan Doktor terapan di jenjang pendidikan tinggi,” tutup,

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini