nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Arab Saudi Akan Eksekusi Tiga Ulama Setelah Ramadan

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 23 Mei 2019 19:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 23 18 2059644 arab-saudi-akan-eksekusi-tiga-ulama-setelah-ramadan-3LMhpsmKje.jpg Foto: Reuters.

RIYADH - Arab Saudi dilaporkan berencana untuk mengeksekusi tiga ulama Sunni setelah bulan Ramadan berakhir. Laporan Middle East Eye melaporkan bahwa ketiga ulama itu akan dieksekusi atas tuduhan keterlibatan dalam terorisme.

Ketiga pria akan dieksekusi adalah wad al-Qarni, seorang pengkhotbah, akademisi, dan penulis Sunni; Ali al-Omari, seorang penyiar populer; dan Sheikh Salman al-Odah. Ketiga pria yang semuanya digambarkan sebagai ulama “moderat” itu ditangkap pada September 2017 bersama 20 ulama lainnya dalam tindakan keras pemerintah terhadap para pembangkang.

Laporan Middle East Eye yang dilansir Sputnik, Kamis (23/5/2019) mencatat bahwa Al-Odah sejauh ini merupakan yang paling terkenal dari ketiga ulama tersebut, dengan 13,4 juta pengikut di Twitter yang menelurkan tagar seperti #freesalmanalodah dan "Salman al-Odah bukan teroris" setelah penangkapannya. Stasiun TV-nya, "For Youth," juga memiliki banyak pengikut.

Al-Odah dituntut dengan 37 tuduhan terorisme karena mengkritik pemerintah, sebuah langkah yang mulai diberlakukan oleh Arab Saudi pada 2014.

Dia juga dituduh berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, sebuah gerakan Islam Sunni yang moderat menurut standar Wahhabisme, sekte Muslim ultra-konservatif resmi Arab Saudi.

Seorang sumber mengatakan kepada Middle East Eye bahwa Riyadh pada awalnya berhati-hati untuk mengejar eksekusi bagi para ulama itu. Tetapi "ketika mereka menemukan ada sangat sedikit reaksi internasional, terutama di tingkat pemerintahan dan kepala negara, mereka memutuskan untuk melanjutkan" eksekusi tersebut.

"Eksekusi itu, jika mereka melanjutkan, akan sangat serius, dan dapat menghadirkan titik kritis yang berbahaya," kata anggota keluarga salah satu tertuduh kepada Middle East Eye.

Sumber itu juga mengatakan bahwa pemerintah Arab Saudi berharap untuk mengambil keuntungan dari ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, untuk meminimalkan dampak dan reaksi internasional dari eksekusi tersebut.

"Mereka terdorong untuk melakukannya, terutama dengan ketegangan di Teluk saat ini.

Bulan lalu, Arab Saudi mengeksekusi 37 orang, sebagian besar aktivis Syiah, atas tuduhan terorisme, memancung dan menyalibkan mayat mereka. Menurut kelompok hak asasi manusia Reprieve, sejauh ini Kerajaan telah mengeksekusi 105 orang pada 2019, dengan 44 di antaranya warga negara asing.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini