nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi Iran Tangkap 30 Orang Karena Ikuti Kelas Yoga

Rahman Asmardika, Jurnalis · Sabtu 25 Mei 2019 18:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 25 18 2060345 polisi-iran-tangkap-30-orang-karena-ikuti-kelas-yoga-eBsiNZ4lUt.jpg Foto: Reuters.

GORGAN – Tiga puluh orang yang ambil bagian dalam sesi pelajaran yoga telah ditangkap oleh pihak keamanan Iran di tengah sebuah kelas privat yang berlangsung. Penangkapan tersebut menimbulkan reaksi dari warganet di media sosial Negeri Para Mullah.

Diwartakan BBC, mereka ditahan di sebuah kediaman pribadi di Kota Gorgan, utara Iran, di mana mereka ambil bagian dalam sebuah kelas yoga campuran.

Pejabat departemen kehakiman setempat, Massoud Soleimani mengatakan instruktur, yang juga ditangkap, tidak memiliki izin untuk menjalankan kelas dan telah mengiklankan acara tersebut melalui Instagram.

Soleimani juga mengatakan bahwa mereka yang ikut dalam kelas itu mengenakan “pakaian yang tidak pantas” dan “berperilaku tak pantas”. Demikian dilaporkan kantor berita Tasnim.

Soleimani, yang menjabat sebagai wakil kepala Pengadilan Revolusi Islam di Gorgan tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang pakaian atau perilaku kelompok yang ditahan. Namun, dia mengatakan bahwa pasukan keamanan telah memantau kediaman itu selama beberapa waktu sebelum melakukan penangkapan.

Pemerintahan Islam di Iran tidak mengizinkan kegiatan olahraga campuran gender. Pengajaran yoga tingkat profesional juga dilarang di negara itu.

Insiden itu menimbulkan reaksi dari media sosial Iran, Banyak yang mengecam penangkapan tersebut, dan ada yang mengatakan bahwa mereka terpaksa membatalkan pendaftaran kelas yoga karena tindakan pihak berwenang itu.

Yoga bukanlah satu-satunya olahraga yang dilarang di Iran. Pada 2017 Otoritas olahraga Iran mengumumkan pelarangan zumba dan “setiap latihan gerakan yang harmonis atau instruksi yang mengguncang tubuh" karena bertentangan dengan “ideologi Islam”.

Meski ada pertemuan publik penggemar yoga di negara ini selama beberapa tahun terakhir, kelas "bawah tanah" dan "tidak Islami", yang dipromosikan di media sosial, tidak disukai dan mendapat cibiran.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini