nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mantan Wapres Iran Bunuh Istri, Pengakuannya Disiarkan TV Sambil Minum Teh

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 31 Mei 2019 09:31 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 31 18 2062391 mantan-wapres-iran-bunuh-istri-pengakuannya-disiarkan-tv-sambil-minum-teh-ngs6XlBQcj.jpg Ilustrasi penembakan. (Foto: Shutterstock)

MOHAMMAD Ali Najafi, mantan wakil presiden Iran dan wali kota Teheran, mengatakan, "Cara berpikirnya telah membuatnya mati." Demikian dia ungkapkan alasan membunuh sang istri.

Najafi meminta cerai dan istrinya menolak. Lalu ia menembak istrinya, Mitra Ostad, sebanyak lima kali. Dua peluru mengenai Ostad dan satu menembus jantungnya.

Najafi lalu menyerahkan diri. Di kantor polisi, ia disambut kamera televisi yang merekam beberapa babak yang dramatis.

Breaking News

TV pemerintah Iran, IRIB, merekam Najafi saat berjalan memasuki kantor polisi, dan seluruh peristiwa ini ditampilkan sebagai "breaking news" yang menimbulkan debat mengenai keadilan di Iran.

Polisi tampak membungkuk menghormatinya dengan tangan di dada serta memberi salam pada Najafi dengan hormat.

Ia kemudian difilmkan dalam keadaan duduk, bercakap dengan polisi sambil terlihat minum teh di latar belakang, sementara reporter melaporkan rincian kasus ini melalui kamera ke pemirsa.

Kontroversi

Najafi diperlakukan amat sopan, memunculkan perbandingan dengan perlakukan terhadap warga biasa yang melakukan kekeliruan, seperti tidak berpuasa di depan umum atau tidak mengenakan jilbab.

Padahal, Najafi saat itu akan membuat pengakuan bahwa ia membunuh istrinya.

Perbuatan ini bahkan dibandingkan dengan adegan film Se7en saat Kevin Spacey masuk ke kantor polisi bersimbah darah.

Namun pertanyaannya: Kenapa kamera mendapat akses langsung ke tersangka dan barang bukti? Jawabannya politis.

Najafi, politikus reformis, memiliki kedekatan dengan Presiden Rouhani sampai dipaksa mundur dari posisi wali kota Teheran sesudah politikus garis keras mengkritiknya karena menghadiri acara Hari Perempuan Dunia di sebuah sekolah di mana para perempuan menari —sesuatu yang "tidak Islami".

Najafi sudah lama menjadi target politikus garis keras, dan stasiun penyiaran milik pemerintah IRIB menjalin hubungan erat dengan mereka.

Namun, kenapa ia membunuh istrinya?

Poligami dan Perceraian

"Saya hanya ingin menakutinya. Saya minta cerai, tapi ia menolak. Saya salah," kata Najafi kepada petugas penyidik. Mitra Ostad (35) adalah istri kedua Najafi.

Poligami legal di Iran, tetapi pernikahan kedua Najafi ini dianggap skandal oleh kaum reformis karena tak lazim bagi kaum terdidik. Najafi sendiri adalah akademisi dan lulusan universitas top di Amerika, MIT.

Najafi mundur dari posisi wali kota lantaran kritik terhadap poligaminya ini.

Pengakuan

Video Najafi di kantor polisi diikuti keesokan paginya oleh rekaman pengakuan –yang juga dibuat oleh IRIB– di mana ia mengaku membunuh istrinya sesudah sempat berkelahi.

Dalam video itu, Najafi berkata punya masalah panjang dalam pernikahannya dengan Ostad dan ini terus meningkat.

"Saya kehilangan ketenangan. Saya ambil senjata, dan ia ke kamar mandi. Saya ikuti. Sebetulnya hanya untuk membuat ia takut. Saya perlihatkan senjata itu dan berkata: Kamu mau akhiri percakapan ini atau tidak? Ia panik dan bisa dibilang sempat bergelut dengan saya. Ia melemparkan diri ke saya, dan senjata itu menyambutnya."

Najafi terus menjelaskan bahwa ia meminta cerai baik-baik, tapi Ostad menolak. Najafi bahkan menawarkan membayar 1.362 koin emas untuk meninggalkan Ostad —sebagaimana disepakati dalam pernikahan mereka.

Ujung-ujungnya, Najafi berkata bahwa sikap keras kepala Ostad menyebabkan kematiannya.

Penanganan Polisi

Namun, hal teraneh adalah akses reporter IRIB terhadap senjata yang diduga digunakan untuk membunuh.

"Oke, ini adalah senjata Colt yang digunakan Najafi untuk membunuh istri keduanya. Tadinya ada 13 peluru di dalamnya. (Sambil menghitung sisa peluru) Satu, dua, tiga, empat, ... delapan! Ia telah menembakkan lima peluru. Dua mengenai istrinya dan tiga mengenai dinding," kata si reporter.

Aktivis hak asasi manusia Shadi Sadr mengutuk kegagalan mempertahankan integritas penyelidikan kriminal ini.

"Saya pernah membela kasus pembunuhan sebelumnya. Senjata yang dipakai membunuh tak bisa diberikan kepada siapa pun selain disegel, apalagi ke orang yang tak berhubungan sama sekali dengan kasus (misalnya wartawan). Bahkan untuk standar Iran sekalipun, penyelidikan pidana seperti ini bisa dianggap sebagai lelucon."

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini