nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dipindah ke Kelas Bisnis, Penumpang Maskapai Inggris Dipaksa Terbang di Kursi Bekas Muntahan

Rahman Asmardika, Jurnalis · Selasa 11 Juni 2019 16:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 11 18 2065326 dipindah-ke-kelas-bisnis-penumpang-maskapai-inggris-dipaksa-terbang-di-kursi-bekas-muntahan-2xrwF6a08L.jpg Foto: Reuters.

SEORANG penumpang maskapai Inggris, British Airways menceritakan bagaimana dia dipaksa melakukan penerbangan sepanjang 10 jam di atas bangku dengan bekas muntah yang mengering. Penumpang itu mengatakan bahwa dia tidak ditawari bangku alternatif atau pun permintaan maaf setelah melaporkan situasinya pada pramugari.

Dave Gildea, seorang wakil presiden direktur perusahaan perangkat lunak di San Francisco tengah dalam perjalanan dari London ke Seattle ketika dia dipindahkan ke kelas bisnis di Bandara Heathrow. Namun bukannya merasa nyaman melainkan ia kecewa karena melihat bekas muntahan di sekitar kursinya.

Pria berumur 38 tahun itu berkata bahwa dia menarik kaki kursinya, kemudian dia menemukan bahwa kursi tersebut terdapat bekas muntahan yang sudah kering dari penerbangan sebelumnya. Ia mengatakan bahwa bagian belakang kursinya sama kotornya seperti lantai.

Gildea mengklaim lebih lanjut bahwa dia sudah memberitahukan kondisinya kepada pramugari, namun dia tidak ditawari tempat duduk alternatif maupun permohonan maaf. Pramugari tersebut hanya memberikan selimut kepada Gildea untuk menutupi bekas muntahan tersebut agar dia dapat menaruh kakinya ke atas dan tidur. Demikian dilaporkan Indian Express.

Setelah sampai ditempat tujuan, dia mengajukan keluhan dia ke maskapai penerbangan melalui Twitter. Karena keluhan dia tidak mendapat tanggapan, dia membagikan foto di Twitter untuk menarik perhatian dari perusahaan maskapai tersebut.

“Tentu saja ketika saya tertidur, saya bergerak di sekitar selimut sehingga ketika saya terbangun, saya melihat ada nya bekas muntahan yang sudah kering berada di posisi kaki saya. Hal tersebut sangat menjijikkan. Pelayanan yang diberikan dengan harga yang saya bayar sangat berbeda,” tambahnya.

 (Nico Wijaya)

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini