nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Pecandu Game Online di Indonesia Diduga Tertinggi di Asia

Jum'at 14 Juni 2019 14:33 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 14 65 2066456 jumlah-pecandu-game-online-di-indonesia-diduga-tertinggi-di-asia-94bcFH09AW.jpg Foto: Game Online (Lifehack)

Prefrontal cortex Area Prefrontal cortex pada otak manusia akan rusak akibat adiksi game yang membuat pecandu tidak bisa mengendalikan diri dan perilakunya (Quora)

Dalam jangka panjang adiksi game online juga dapat memicu gangguan fungsi eksekutif untuk membuat perencanaan.

"Ini dalam jangka panjang akan menjadi masalah nasional. Bisa dibayangkan seperti apa kualitas sumber daya manusia Indonesia nantinya."

"Kalau generasi muda kita banyak yang tidak bisa mengeksekusi pekerjaan karena mereka tidak tahu urutan melakukan sesuatu [membuat perencanaan] akibat kerusakan pada otaknya tersebut." ungkapnya.

Menyikapi bahaya dampak kecanduan game online ini, dr Siste menilai pemerintah perlu membuat kebijakan yang bersifat nasional untuk mencegah paparan dampak buruk adiksi game online.

Ia mencontohkan Korea Selatan yang memiliki kebijakan nasional berupa UU pembatasan jam bermain game online sejak tahun 2011 yang dikenal dengan 'UU Cinderella'.

"Pada jam itu, warnet juga dilarang menerima anak kurang dari 17 tahun. Itu mereka sampai seperti itu.' katanya.

Korea Selatan termasuk salah satu negara dengan tingkat kecanduan internet termasuk di dalamnya kecanduan game online cukup tinggi di dunia.

Dan dr. Siste memperkirakan problem kecanduan internet di Indonesia lebih besar dibandingkan Korea Selatan.

Karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya pada 2018 lalu menyimpulkan sekitar 14% remaja berstatus pelajar SMP dan SMA di ibukota saja mengalami kecanduan internet.

Dua aktivitas di internet yang terbanyak dilakukan adalah bermain media sosial dan bermain game online.

"Data ini termasuk tinggi yah, ini di ibukota saja sekitar 14% anak remaja kecanduan internet berupa bermain di media sosial dan game online. Sedangkan di Korea Selatan saja angka prevalensi adiksi gamenya 12%. Jadi kita kayaknya sudah sama dengan Korea Selatan, padahal itu termasuk salah satu negara yang tertinggi kecanduan gamenya di dunia." kata lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2018 lalu telah menetapkan adiksi game online sebagai salah satu bentuk gangguan mental dan disebut dengan istilah gaming disorder.

Gaming disorder ini termasuk dalam kategori kecanduan non zat atau kecanduan perilaku, seperti hanya juga adiksi gawai, judi online, media sosial, porno, dan lain-lain.

Klinik adiksi perilaku di RSCM ini merupakan klinik pertama dan satu-satunya di Indonesia yang khusus menangani masalah kecanduan jenis ini.

Menurut dr. Siste, mayoritas pasien yang datang ke klinik ini cenderung mengarah pada adiksi games.

Di klinik ini mereka ditangani oleh tim dari multidisiplin.

"Jadi tim kita disini, tim komprehensif, tidak hanya psikiater, tapi juga ada psikiater adiksi, psikiater anak dan remaja, adabagian rehabilitasi medik, sampai terapis akupuntur karena ternyata terapi akupuntur itu bisa mengurangi craving games. Jadi intinya begitu pasien dateng mereka langsung ditangani oleh semua multidisiplin." katanya.

Pasien di klinik ini akan ditangani sesuai dengan kondisi kecanduannya. Dan metode yang diberikan tidak hanya konseling, obat-obatan tapi juga pemantauan aktivitas sehari-hari.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini