nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Canggihnya Mesin Pendingin Ikan Tenaga Surya Buatan Mahasiswa ITS

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 16 Juni 2019 11:29 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 16 65 2066978 canggihnya-mesin-pendingin-ikan-tenaga-surya-buatan-mahasiswa-its-eUnSrB47A4.jpg Nelayan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Inovasi mesin pendingin ikan tenaga surya karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) membantu nelayan dalam menjaga kualitas ikan hasil tangkapan selama melaut.

Mesin ini tidak membutuhkan listrik, tapi hanya memanfaatkan energi matahari untuk mengaktifkan seluruh komponen yang ada. Rangkaian mesin menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan, agar tidak mencemari laut yang notabene sebagai salah satu sumber kehidupan.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah mencapai 17.000 pulau dan diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Kepulauan ini membuat Indonesia menciptakan banyak nelayan, karena hasil laut Indonesia sangat melimpah.

Saat berlayar, sebagian besar nelayan di Indonesia hanya menggunakan peralatan seadanya untuk menangkap ikan. Mereka tidak memiliki peralatan yang lengkap atau modern, apalagi tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan. Faktor ini membuat mahasiswa ITS mengambil langkah positif untuk membantu para nelayan.

Baca Juga: Pertama di Dunia, Ilmuwan RI Teliti Dampak Geoengineering Radiasi Matahari

Bermula dari mata kuliah sistem logistik, tiga mahasiswa Departemen Teknik Industri ITS yang bernama Reza Aulia Akbar, Edrian Hamijaya, dan Dito Abrar telah melakukan inovasi pendingin ikan tenaga surya. Alat itu diberi nama Eco Storage Portable (ES-PORT).

Pengiriman ikan yang memakan waktu lama, hingga berhari-hari, menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Ikan yang sudah mati akan cepat membusuk dalam waktu singkat jika tidak didinginkan dengan suhu tertentu.

“Konsen di sini banyak sekali, masalah terkait dengan pengiriman barang menggunakan cold storage , jadi penyimpanan cold storage sangat penting untuk menjaga kualitas ikan,” kata Reza saat dihubungi tim Sindo.

Reza menjelaskan bahwa jumlah nelayan mencapai ratusan ribu dan jarang di antara mereka membawa peralatan yang memadai. Salah satu contohnya adalah nelayan di Kenjeran, Surabaya, mereka tidak membawa perlengkapan/peralatan khusus untuk menjaga kualitas ikan yang di dapat.

Baca Juga: Benarkah Matahari Akan Padam dan Menyebabkan Kepunahan?

Berdasarkan hasil pengamatan Reza, beberapa nelayan ada yang membawa es, bahkan ada juga yang tidak membawa es sama sekali. “Padahal kita lihat penyimpanan menggunakan es itu sebenarnya kalau di laut sering sekali cepat habis karena kita tahu panas di laut cukup tinggi, sehingga memudahkan es untuk mencair,” tambahnya.

Dalam pengujiannya, ES-PORT masih dalam bentuk prototipe alfa yang disesuaikan dengan kebutuhan energi dari sistem termoelektriknya. Mahasiswa ITS itu menggunakan 2 termoelektrik, di mana 1 termo membutuhkan daya 30 watt.

Suplai energi pada termo tidak selalu membutuhkan daya 60 watt untuk kedua termo. Namun, proses pendinginannya akan berkurang dan tidak bisa maksimal, “Bisa dingin, tapi tidak akan mencapai suhu terdinginnya,” ungkap Reza.

Dia juga memanfaatkan limbah High Density Polyethylene (HDPE), plastik daur ulang sebagai pelapis dinding ES-PORT. Bahan HDPE terkenal sulit diuraikan, dengan daya tahan puluhan tahun, sehingga menjadi nilai tambah keramahan pada lingkungan.

“Harapannya, penggunaan untuk HDPE di bodi ikan kami itu juga bisa mendapatkan hasil yang baik dan perlu kita tahu bahwa HDPE itu food grade , jadi bisa kita gunakan,” tambahnya.

Agar suhu dingin dapat merata, mahasiswa ITS itu menambahkan es blue atau es gel di setiap dindingnya. Jika sistem pendingin hanya diletakkan di bagian tengah dan bagian dinding tidak dilapisi es gel, maka proses pendinginannya sangat lama dan belum tentu bisa merata.

“Es blue di dinding-dinding ESPORT fungsinya juga mendinginkan suhunya biar merata, jadi kiri, kanan, atas, bawah, semuanya ada es bluenya, sehingga pendinginan bisa merata,” kata ketua Red Team.

Saat ini, ES-PORT mempunyai kapasitas penyimpanan sebesar 70 liter, dengan suhu terdingin mencapai 9,4°C. kapasitas ini disesuaikan dengan kebutuhan nelayan di Surabaya, yang jenis ikannya tidak terlalu besar. Untuk wilayah luar Surabaya, ESPORT membutuhkan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, karena ukuran ikan lebih besar dan jenisnya berbeda.

Jika dipaksakan dengan ukuran saat ini, pastinya tidak dapat di gu nakan dengan baik. “Solusinya bisa kita upgrade ukurannya, kalau nanti dikembangkan lebih besar itu sangat mungkin, sangat bisa, nanti tinggal menyuplai energi dan panel surya yang lebih besar,” tambah Reza.

Daya tampung ikan yang akan dikembangkan lebih lanjut berkisar antara 500-550 liter. Hal ini juga menyesuaikan dengan kebutuhan nelayan di suatu daerah tertentu. Sebenarnya, Reza dan kawankawannya tidak ingin membuat ESPORT berukuran besar.

Ukuran saat ini sudah cocok digunakan untuk para nelayan di wilayah Kenjeran, Surabaya. Selain itu, bahan untuk membuat ES-PORT sangat mudah cari, karena memiliki watt yang kecil.

Bentuknya juga memudahkan pemindahan ikan dari kapal nelayan ke tempat penjualan ikan menggunakan kendaraan roda dua (motor). Reza membayangkan jika pendingin ikan ini berukuran besar dan berada di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), akan sulit mendapatkan listrik.

Kekurangan suplai energi akan menyebabkan alat ini tidak dapat digunakan. “Sudah kita sesuaikan dengan watt yang kecil untuk menghidupkan dan mendinginkan penyimpanan ikan yang kami ciptakan,” imbuhnya.

Untuk menjaga kualitas ikan dari laut, para nelayan biasanya membutuhkan waktu satu hari untuk mencapai daratan atau sebelum ikan tersebut dijual. ESPORT menyesuaikan kebutuhan itu dengan bertahan selama kurang lebih dua hari.

ES-PORT belum bisa mencapai suhu minus atau membuat es, karena alat ini tidak menggunakan Freon. Proses pendinginan suhunya pun membutuh waktu cukup lama, kurang lebih satu jam.

“Kita hanya menggunakan alat/termoelektrik yang ramah lingkungan, tanpa Freon, paling tidak suhu 9,4 °C ini sudah bisa menjaga kualitas ikan selama kurang lebih dua hari,” kata mahasiswa asal Yogyakarta.

Reza menambahkan bahwa penggunaan es untuk membekukan ikan tidak akan mencapai suhu 0°C, karena yang memiliki suhu 0°C adalah es. Suhu pemaparan pada ikan sebetulnya di bawah 10°C, namun tidak sampai pada angka nol atau titik beku air. Selama penelitian, Reza dan kawan-kawan menghabiskan dana lebih dari Rp3juta.

Biaya ini digunakan untuk membeli perlengkapan mesin pendingin ikan, yang diubah hingga tiga kali desain. Pada uji coba edisi pertama, mereka menemui beberapa nelayan dan meminta pendapat tentang hasil penelitiannya.

Pertemuan itu mendapat beberapa masukan dan saran, sehingga desain diubah. Uji coba kedua, mereka menemukan beberapa kendala dari segi komponen saat diletakkan di perahu. Selain itu, setiap komponen pada mesin pendingin juga belum bekerja maksimal.

Pada desain ke-3, mereka berhasil menciptakan mesin pendingin ikan yang mampu berkerja dengan maksimal. Desain ini juga mudah diterima oleh nelayan dan dapat digunakan secara portable.

“Sampai desain ke-3 ini muncul, generasi ini yang bisa menjawab (kebutuhan nelayan), walaupun sebenarnya masih perlu di-improve,” tambahnya.

Reza mengungkapkan bahwa biaya pembuatan untuk satu mesin pendingin ikan menghabiskan dana sekitar Rp1,5 juta. Biaya itu baru digunakan untuk membeli komponennya saja, belum termasuk biaya keuntungan.

Mesin buatan ITS ini butuh diproduksi secara massal, mengingat kebutuhan nelayan dalam menjaga kualitas ikan hasil tangkapan. Penggunaan es untuk menjaga kualitas ikan hanya menambah beban nelayan dan mengurangi pendapatan mereka.

“Kami sudah memperhitungkan biaya jikanya jika diproduksi massal, harganya akan jauh lebih rendah daripada harga yang sekarang,” kata mahasiswa angkatan 2016 ini.

Konsep inovatif mahasiswa ITS ini menjadi unggulan Asia Tenggara dalam Design Competition for Industrial System and Environment 2019 (Descomfirst 2019), yang diselenggarakan di Universitas Negeri Surakarta (UNS) pada 4-5 Mei lalu.

ES-PORT memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki tim lain. Keunggulan itu meliputi tiga aspek, yakni proposal dengan data lengkap, presentasi yang menarik dan terstruktur, serta prototipe yang telah dilakukan pengujian secara langsung.

“Kami tidak akan berhenti, pengembangan dan penelitian lebih lanjut akan terus dilaksanakan agar menghasilkan produk yang jauh lebih sempurna,” tambah Reza.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini