nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Di Tengah Konflik Keraton Solo, 600 Anggota Trah Dinasti Mataram Berkumpul

Bramantyo, Jurnalis · Selasa 18 Juni 2019 02:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 17 512 2067596 di-tengah-konflik-keraton-solo-600-anggota-trah-dinasti-mataram-berkumpul-jZJn9VPjby.jpg (Foto: Bramantyo/Okezone)

SOLO - Ada yang berbeda di Keraton Kasunanan Hadiningrat atau Kraton Solo, Senin (17/6/2019) siang. Sebanyak 600 ratusan anggota trah Mataram, mulai dari keturunan trah Amangkurat Agung hingga trah Pakubuwono XIII tampak hadir dalam acara silaturahmi besar Keraton Solo itu. Mereka mengenakan batik.

Adannya konflik internal berkepanjangan yang hingga kini belum selesai di tubuh Keraton Solo, membuat silaturahmi trah Dinasti Mataram ini tak bisa digelar di dalam Kraton, namun digelar di Ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo.

Silahturahmi besar para keturunan Raja Keraton Kasunanan ini, selain sebagai ajang mempererat kembali kekerabatan dinasti trah Mataram, juga menandai bangkitnya kembali semangat pelestarian kebudayaan yang mulai memudar dan menimbulkan keprihatinan.

Foto: Bramantyo/Okezone

Salah satu putri PB XII, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari mengatakan, bangkitnya kembali upaya mengembalikan semangat pelestarian kebudayaan Keraton Solo salah satunya dengan memperingati 88 tahun berdirinya organisasi Putri Narpowandowo.

"Organisasi Putri Narpowandowo ini merupakan salah satu organisasi wanita tertua di Indonesia," kata putri raja yang biasa disapa Gusti Moeng.

(Baca juga: Kisah Pintu Masuk Kecil yang "Menyelamatkan" Keraton Solo saat Banjir 1966)

Menurut Gusti Moeng, organisasi wanita Putri Narpowandowo itu berdiri pada tanggal 5 Juni 1931. Organisasi ini didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwono X. Dan beranggotakan para putri dan kerabat wanita Keraton Kasunanan Surakarta.

Gusti Moeng.

Yayasan Putri Narpowandowo, lanjut Gusti Moeng, pada masanya juga mengikuti kongres perempuan pertama di Indonesia.

Sempat vakum hingga beberapa waktu lamanya, organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan dan budaya ini kembali dihidupkan sekitar 1995. "Karena ada yayasannya yakni Pawiyatan Pamardi Siwi, di bawah organisasi Putri Narpowandowo, maka organisasi ini sudah aktif di dunia pendidikan," lanjutnya.

Perwakilan yayasan Putri Narpowandowo ini juga tersebar di berbagai daerah di luar kota Solo, salah satunya ada di Jakarta.

"Karena Pakasa (Paguyuban Kawula Surakarta) mulai ngerembaka (berkembang) maka perempuannya mulai diajari organisasi yang dasarnya hanya untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan yang sumbernya dari Keraton Surakarta," ujarnya.(qlh)

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini