nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ternyata Pilihan Kampus dan Jurusan Pengaruhi Masa Depan CEO

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 17 Juni 2019 13:59 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 17 65 2067329 ternyata-pilihan-kampus-dan-jurusan-pengaruhi-masa-depan-ceo-G7Hki5YQJU.jpg Ilustrasi: Shutterstock

Tak Sesuai Jurusan

Banyak CEO ataupun miliarder justru bekerja atau mengembangkan bisnis yang tidak sesuai dengan jurusannya. Bukan jaminan seorang sarjana komputer bisa menjadi miliarder ketika mendirikan perusahaan. Bukan jaminan pula seorang sarjana filsafat akan menemukan kegagalan ketika memulai bisnis. Dalam kajian yang dilakukan Business Insider menemukan banyak CEO dan miliarder terbaik di bidang teknologi berasal dari berbagai latar belakang yang beragam. Karena itu, bagi yang tidak kuliah di jurusan komputer, tak perlu takut dengan masa depan. Lihatkan CEO Google Sundar Pichai yang dulunya adalah kuliah bidang teknik metalurgi tetap bisa memimpin perusahaan teknologi terbesar di dunia.

Namun Pichai juga berkuliah di kampus elite seperti Universitas Stanford. Dia juga mengikuti kuliah pascasarjana administrasi bisnis di Universitas Pennsylvania. Jack Ma, pendiri Alibaba, du lunya belajar bahasa Inggris di Hangzhou Normal University. Dia juga tidak langsung lulus dalam tes perguruan tinggi. Dia mendaftar empat kampus hingga akhirnya dia diterima di Jurusan Bahasa Inggris. Tapi itu justru mengantarkannya untuk menjadi miliarder dengan kekayaan USD40 miliar. Bagi mahasiswa yang tidak kuliah di jurusan teknologi, tak perlu khawatir. Kalian bisa berkaca pada Whitney Wolfe yang belajar kajian internasional Universitas Southern Methodist tapi bisa mendirikan Bumble, Sebuah aplikasi kencan.

Kemudian, Susan Wojcicki, CEO YouTube, juga awalnya kuliah jurusan sejarah dan sastra di Universitas Harvard. Sebenarnya dia ingin meraih Ph.D di bidang ekonomi, meskipun semangat dan gairah hidupnya di bidang teknologi. Dia pun menjadi karyawan ke-16 yang direkrut Google dan kariernya terus menanjak sejak saat itu. CEO Slack Stewart Butterfield awalnya juga kuliah dan jurusan yang tidak sesuai bidangnya saat ini. Dulunya dia kuliah jurusan filsafat di Universitas Victoria dan melanjutkan dengan jurusan yang sama di Universitas Cambridge. Namun, ternyata dia sukses mendirikan Slack, perusahaan yang menyediakan aplikasi manajemen tim dan membangun Flickr, sebuah situs berbagi foto. “Belajar filsafat mengajar saya dua hal,” kata Butterfield ke pada Forbes.

“Saya belajar bagai mana menulis dengan jelas. Saya belajar bagaimana mengikuti argumen untuk dijabarkan dan memilah hal yang tidak berharga pada rapat.” Bagi yang kuliah di Sastra Inggris juga tidak menutup peluang untuk berkarier hingga pun cak di perusahaan teknologi. Adalah Mandy Ginsberg sukses menjadi CEO Match Group, sebuah perusahaan yang mengoperasikan beberapa situs kencan online. Pada hal, dia awalnya adalah kuliah sastra Inggris di Universitas California di Berkeley.

(Andika Hendra M)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini