nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Akhir Juni, Persediaan Uranium Iran Akan Lampaui Batas Perjanjian Nuklir

Agregasi VOA, Jurnalis · Selasa 18 Juni 2019 08:16 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 18 18 2067651 akhir-juni-persediaan-uranium-iran-akan-lampaui-batas-perjanjian-nuklir-l9lIlU3Xfh.jpg Behrouz Kamalvandi (VoA)

IRAN — Dalam konferensi pers di fasilitas rektor air berat di Arak, hari Senin (17/6/2019), juru bicara badan energi atom Iran, Behrouz Kamalvandi, mengatakan kepada wartawan bahwa dalam sepuluh hari ke depan Iran akan melewati batas 300 kilogram pengayaan uranium tingkat rendah yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir tahun 2015 lalu atau dikenal sebagai JCPOA. Ini merupakan langkah konkrit pertama Iran di luar perjanjian itu.

Stasiun televisi pemerintah Iran mengudarakan konferensi pers kepala badan energi atom negara itu secara langsung dari fasilitas reaktor air berat di Arak yang simbolis itu, yang mengumumkan keputusan untuk melewati batas yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir tahun 2015 dengan lima negara adidaya dan Jerman.

Baca juga:  Mantan Wapres Iran Bunuh Istri, Pengakuannya Disiarkan TV Sambil Minum Teh

Juru bicara badan energi atom Iran Behrouz Kamalvandi mengatakan kepada wartawan bahwa Iran “telah melipatgandakan produksi uranium dalam beberapa hari terakhir ini dan pada tanggal 27 Juni nanti akan melewati batas 300 kilogram yang ditetapkan dalam perjanjian tahun 2015 itu.’’ Ditambahkannya, Iran juga akan meningkatkan produksi lebih banyak uranium yang sudah lebih diperkaya.

Behrouz mengatakan kebutuhan akan produk-produk nuklir lain telah meningkat, dan Iran akan memproduksi hingga 130 ton air berat dalam 2,5 bulan mendatang.

 Baca juga: Polisi Iran Tangkap 30 Orang Karena Ikuti Kelas Yoga

Namun, Behrouz Kamalvandi tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan untuk kembali ke batas yang ditetapkan dalam perjanjian itu jika negara-negara di Eropa menandatanganinya. Perancis, Inggris dan Jerman sepakat untuk tidak menerapkan sanksi-sanksi ekonomi Amerika yang diberlakukan pada November 2018, setelah Amerika menarik diri dari perjanjian tahun 2015 itu.

Mantan Presiden Iran Abolhassan Bani Sadr mengatakan kepada VOA, ia menilai pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei mendapati diri dalam situasi sulit.

 Baca juga: Diancam Trump, Menlu: Iran Telah Berdiri Tegak Selama Ribuan Tahun

Bani Sadr mengatakan badan energi atom Iran berupaya menunjukkan kepada publik bahwa pihaknya melakukan sesuatu terhadap tekanan pemerintah Amerika, tetapi Iran benar-benar tidak punya banyak pilihan. Ia ragu Iran dapat benar-benar membatalkan perjanjian nuklir tahun 2015 karena akan membuat negara itu lebih terisolasi lagi di panggung internasional dan dapat dikenai sanksi lebih lanjut oleh Dewan Keamanan PBB.

Analis Iran Ali Nourizadeh mengatakan kepada stasiun televisi Arab Saudi Al Arabiya, Presiden Iran Hassan Rouhani, dalam KTT di Kyrgyzstan beberapa hari lalu, dilaporkan telah berjanji pada Presiden Rusia Vladimir Putini bahwa Iran “akan tetap menghormati perjanjian nuklir tahun 2015.” VOA tidak dapat mengukuhkan klaim itu secara independen.

 Baca juga: Iran Resmi Hentikan Sebagian Komitmen Kesepakatan Program Nuklirnya

Pengumuman bahwa Iran akan melampaui batas pengayaan uranium yang disepakati dalam perjanjian nuklir tahun 2015 itu disampaikan ketika ketegangan di Teluk meningkat, pasca serangan terhadap dua kapal tanker di Teluk Oman. Amerika menuduh Iran yang melakukan serangan itu. Sejumlah pejabat Iran, termasuk ketua parlemen Ali Larijani, membantah bertanggungjawab terhadap serangan itu.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini