nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wakil Ketua Komisi VI DPR Dipanggil KPK Terkait Kasus Distribusi Pupuk

Muhamad Rizky, Jurnalis · Rabu 19 Juni 2019 11:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 19 337 2068176 wakil-ketua-komisi-vi-dpr-dipanggil-kpk-terkait-kasus-distribusi-pupuk-J72MAARtGO.jpg Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Muhammad Haikal terkait kasus dugaan suap sewa-menyewa kapal untuk pendistribusian pupuk. Haikal akan diperiksa oleh penyidik sebagai saksi.

"Yang bersangkutan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IND (Indung)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (19/6/2019).

(Baca juga: Selisik Kasus Suap Bowo Sidik dengan Kemendag, KPK Panggil 2 Anggota DPR)

Dalam perkara ini KPK telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerja sama pengangkutan bidang pelayaran untuk kebutuhan distribusi pupuk menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK).

Ketiganya yakni anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso; anak buah Bowo dari PT Inersia, Indung; serta Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (Foto: Okezone)

Dalam perkara ini Bowo Sidik diduga meminta komisi kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD2 per metrik ton. Diduga Bowo Sidik telah menerima tujuh kali hadiah atau suap dari PT Humpuss.

Bowo disinyalir menerima suap karena telah membantu agar kapal-kapal milik PT Humpuss digunakan kembali oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) untuk m‎engangkut pendistribusian pupuk. Sebab, kerja sama antara PT HTK dan PT PILOG telah berhenti.

(Baca juga: KPK Periksa Dua Orang Anggota DPR Terkait Suap Distribusi Pupuk)

Bowo Sidik diduga‎ bukan hanya menerima suap dari PT Humpuss, tapi juga dari pengusaha lainnya. Total uang suap dan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik dari PT Humpuss maupun pihak lainnya yakni sekira Rp8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan "serangan fajar" di Pemilu 2019.

KPK sendiri telah menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks. Sebanyak 82 kardus serta dua boks tersebut berisi uang pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu dengan total Rp8 miliar yang sudah dimasukkan ke amplop berwarna putih.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini