Kementan: Penggunaan Anggaran Pertanian Semakin Efektif

Jum'at 21 Juni 2019 11:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 21 1 2069089 kementan-penggunaan-anggaran-pertanian-semakin-efektif-xmWnIronsk.jpg Foto: dok.Kementan

JAKARTA – Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), Ketut Kariyasa mengatakan bahwa dengan anggaran yang sangat minim, program kerja di sektor pertanian tetap berjalan dengan baik, bahkan mencapai level tinggi hingga melebihi target nasional yang ditetapkan.

"Terobosan yang dilakukan dalam pengelolaan anggaran selama empat tahun terakhir sangat berdampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan petani," ujar Kariyasa, Kamis (20/6/2019).

Seperti diketahui bersama, pada 2014 jumlah anggaran yang dialokasikan untuk Kementan sebesar Rp32,72 triliun. Namun pada tahun berikutnya nilainya terus menurun. Pada 2018 misalnya, anggaran yang dialokasikan hanya sebesar Rp21,71 trilun atau turun 33,65 persen.

"Walaupun anggarannya turun, tapi sebaliknya dalam empat tahun terakhir produksi dan PDB Sektor Pertanian terus tumbuh positif," katanya.

Kariyasa menjelaskan, PDB sektor pertanian pada 2014 jumlahnya mencapai Rp880 triliun. Kemudian pada tahun berikutnya angkanya meningkat menjadi Rp1.005 triliun atau tumbuh sebesar 3,7 persen. Dengan demikian angka di atas merupakan capaian yang melebihi target 3,5 persen.

"Dengan memperhatikan rasio antara PDB dan jumlah anggaran yang dialokasikan tersebut, tampak dengan jelas bahwa ada lonjakan efektivitas yang luar biasa dalam penggunaan anggaran pada sektor pertanian," katanya.

Efektivitas penggunaan anggaran yang dimaksud Kariyasa adalah sektor pertanian selama 2014-2018 mencapai 72,11 persen atau meningkat rata-rata 14,71 persen pertahun, yang mana nilai pada tahun tersebut hanya 29,91 atau 46,31 persen untuk 2018.

"Maka tidak berlebihan pertama dalam sejarah, kami mendapat opini WTP dari BPK tiga tahun berturut-turut (2016, 2017 dan 2018) dan juga penghargaan anti gratifikasi terbaik dari KPK dua tahun berturut-turut (2017 dan 2018)," katanya.

Menurut Kariyasa, pengelolaan yang dilakukan Kementan selama ini adalah memangkas habis-habisan semua anggaran yang dinilai tidak penting, dan menggunakannya untuk pemenuhan dan kebutuhan para petani di seluruh daerah.

"Jadi, anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan petani terus ditingkatkan, namun sebaliknya anggaran untuk kegiatan yang tidak penting dipangkas. Ini bisa dilihat bahwa hampir 85 persen dari anggaran yang dialokasin digunakan untuk bibit, benih, alsintan dan yang lainya. Sementara sisanya 3 persen untuk belanja operasional saja," katanya.

Kariyasa mengatakan, terobosan dan pengelolaan anggaran ini sangat berdampak pada meningkatnya ekspor produk pertanian selama empat tahun terakhir yang mencapai 26,9 persen.

Kondisi ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan pengelolaan anggaran 2014, yang mana belanja operasional saat itu mencapai 48 persen. Sedangkan anggaran untuk petani hanya diberi kuota 35 persen.

"Kemudian pasokan pangan dalam negeri juga mampu menurunkan inflasi bahan pangan secara konsisten, sehingga baru pertama kali dalam sejarah inflasi makanan/pangan pada tahun 2018 turun menjadi 1,26 persen, yang sebelumnya masih bertengger pada angka 10,57 persen," katanya.

Disisi lain, Kementan juga memiliki kontribusi besar dalam menurunkan angka penduduk miskin di perdesaan hingga 13,20 persen dari angka sebelumnya 14,32 persen.

"Kementan terus berupaya untuk meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran ke depan, serta terus melakukan terobosan dalam meningkatkan kapasistas produksi dalam negeri yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani," pungkasnya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini