nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi Bangun PLB, Menpar Meriahkan dengan Crossborder Festival

Selasa 25 Juni 2019 15:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 25 1 2070675 presiden-jokowi-bangun-plb-menpar-meriahkan-dengan-crossborder-festival-DvG7LZZ6pJ.jpg Foto: Kemenpar

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengubah wajah perbatasan jadi tampak megah. Hal tersebut dilakukan karena kawasan perbatasan merupakan beranda Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI ).

Potret megahnya perbatasan tersebut terlihat dari kokohnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di berbagai titik. Contohnya PLBN di Kecamatann Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, PLBN Nanga Badau di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Kemudian pemandangan yang sama juga terlihat di PLBN Mota’ain Atambua, PLBN Motamasin, dan PLBN Wini, yang semuanya berada di Nusta Tenggara Timur dan berbatasan langsung dengan Timor Leste di NTT. Selain itu perbatasan yang megah juga tampak di Papua, yakni di PLBN Skouw.

Nah, untuk mengimbangi kemegahan itu Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menghidupkan daerah-daerah perbatasan dengan berbagai Crossborder Festival (festival perbatasan). Semua even tersebut dirancang untuk menarik wisatawan baik dari dalam negeri mau pun turis asing.

“Silakan Googling atau ketik di-searching media social dengan hastag #crossborderfestival atau #crossborder saja, berbagai events Kemenpar dikembangkan di sana,” ujar Arief Yahya.

Kata dia, pada prinsipnya perbatasan adalah wajah terdepan sebuah negara. Oleh karena itu dibuat PLBN yang cantik agar menimbulkan kesan pertama yang baik bagi wisatawan yang masuk lewat perbatasan.

Jika kesan pertamanya bagus, maka semua menjadi penuh pesona. Sebaliknya, jika kesan pertama menakutkan, kotor, sepi, tidak banyak aktivitas, maka negara ini akan dipersepsikan seperti itu. “Karena itu, kita buat kesan yang menakjubkan,” ucap Arief.

Crossborder festival sendiri dirancang dengan menyuguhkan berbagai rangkaian acara, beberapa di antaranya pertunjukan musik dengan menghadirkan artis-artis ibu kota dan mancanegara, bazar, kuliner, pertujukan budaya, dan lain-lain. “Inilah yang membuat ekonomi di daerah perbatasan akan meningkat,” jelas Arief.

Lebih lanjut, membangun dari pinggiran termasuk merenovasi PLBN yang diprogramkan Presiden Jokowi ini sudah dilakukan sejak 2016. Hal tersebut tertuang dalam poin ketiga Program Nawacita, yakni membangun Indonesia dari pinggiran. Poinnya pembangunan tak lagi terpusat di perkotaan, melainkan harus dilakukan menyebar di seluruh pelosok.

Nah, pembangunan infrastruktur di kawasan perbatasan tersebut secara otomatis mempermudah Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggarakan Festival Crossborder, Wonderful Indonesia Festival, Konser Musik Perbatasan, dan lain-lain.

kemenpar 

Berbagai event pariwisata di PLBN itu sendiri telah terbukti meningkatkan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman), contohnya ke Kalbar. Wisman yang ke Kalbar tersebut masuk melalui dua pintu, yakni PLBN Entikong, Sanggau dan Bandara Supadio Pontianak, di Kabupaten Kubu Raya. Dan ternyata Wisman yang melalui PLBN Entikong lebih besar, yaitu mencapai 22.234 orang. Dan melalui Bandara Supadio Pontianak sebanyak 18.682 orang.

Wisatawan yang masuk melalui pintu PLBN Entikong berasal dari tiga negara. Ada Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Singapura. Kenaikan siginifikan dialami para pelintas batas dari Brunei Darussalam dengan jumlah 50 hingga 100 orang per hari. Angka tersebut mengalami lonjakan hingga 50% per hari dari tahun lalu.

Crossborder di Kalimantan Barat akan moncer dengan semakin siapnya PLBN Nanga Badau sebagai destinasi wisata segera bergulir. Fisik pengembangan zona pendukung PLBN sudah 100% selesai. Aktivasinya akan dilakukan tahun ini. Dengan kapasita barunya, PLBN siap jadi motor penggerak ekonomi baru di Badau, Kapuas Hulu.

“Secara fisik, bangunan zona penunjang sudah selesai semuanya. Kami tinggal menunggu pelimpahan dari instansi terkait. Zona penunjang ini memang diarahkan untuk pengembangan ekonomi dan seni budaya. Kawasan inilah yang nantinya akan menjadi destinasi menarik di PLBN Nanga Badau,” ungkap Kepala PLBN Nanga Badau Agato Limat, Minggu 23 Juni 2019.

Kawasan penunjang memiliki luas total sekitar 2.493 meter persegi. Rinciannya, untuk luas 1.193 meter persegi digunakan untuk Wisma Indonesia, mess karyawan, hingga gedung serbaguna. Adapun sisa luas 1.300 Meter Persegi dikembangkan berbagai fasilitas pelengkap. Sebut saja restoran, pusat ATM, tempat peribadatan, hingga pos keamanan.

“Kalau sudah dilimpahkan kepada PLBN, pasti langsung diaktifkan. Mungkin dalam 2-3 bulan semua sudah siap, meski kami berharap secepatnya. Mensikapi perkembangannya, yang jelas tahun ini zona penunjang PLBN Nanga Badau sudah diaktivasi. Publik Serawak, Malaysia, bisa memanfaatkan fasilitas ini sebagai destinasi baru. Sebab, kalau zona utama sudah berfungsi sejak lama,” terang Agato.

Lebih lanjut, mendukung zonasi sebagai penggerak perekonomian, beberapa fasilitas yang diberikan. Zona pendukung dilengkapi dengan 20 spot bisnis. Penggunaanya 12 unit bisnis untuk display produk craft, lalu 8 unit difungsikan foodcourt. Nantinya pengisi area bisnis ini diutamakan yang berfungsi pada peningkatan kreativitas dan budaya. Contohnya, souvenir khas Dayak dan kuliner otentik Kapuas Hulu.

Data dari Papua tidak kalah mentereng. Hal ini bisa dilihat dari laporan situs Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), khususnya dari PLBN Terpadu Skouw, di Jayapura. Saat Festival Crossborder Skouw 2019 berlangsung pada 9 sampai 11 Mei 2019, jumlah wisatawan terdongkrak. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Administrator PLBN Terpadu Skouw Yan Numberi menjelaskan, jumlah wisatawan yang melintas saat adanya Festival Crossborder Skouw 2019 mencapai 1000-1500 wisatawan per hari. “Angka tersebut jauh dari hari biasa. Jika tidak ada kegiatan, PLBN yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini ini hanya dilintasi sekitar 300-500 orang. Tapi kalau hari pasar atau event seperti Festival Crossborder jumlahnya bisa mencapai 1000-1500 wisatawan per hari,” katanya.

Yan Numberi menambahkan, sejak diresmikan Presiden Jokowi pada Mei 2017, banyak wisatawan mancanegara maupun masyarakat dari Jayapura berkunjung untuk berfoto. Wajah baru pos yang telah berdiri pada tahun 2006 ini mengadaptasi bangunan Rumah Tangfa, rumah adat masyarakat pesisir di daerah Skouw. Ciri khasnya adalah bagian atapnya dengan bentuk perisai. Ada juga dua ruang panjang tempat masyarakat berkumpul.

"Saya selaku orang Papua dan administrator memberikan apresiasi khusus kepada Bapak Presiden RI Jokowi dengan nawacitanya. Pembangunan dibangun dari pinggiran ke kota. Terbukti telah dibangun satu gedung megah yang tadinya ini pintu belakang yang terbelakang, dan sekarang menjadi beranda depan Timur Indonesia. Banyak yang datang dan mengagumi pos lintas batas ini," tutur Yan Z Numberi, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sejak gedung ini dibangun, kunjungan warga Papua Nugini dilaporkan semakin meningkat. Baik untuk bertransaksi di Pasar Skouw yang berada tak jauh dari pos perbatasan, maupun sekadar berswafoto.

PLBN di NTT juga tak kalah ramai. Pada 2017 lalu, kunjungan wisatawan internasional dari Timor Leste mencapai 593.000 orang. Mereka masuk dari 3 PLBN, Mota Ain, Motamasin, dan Wini.

Dampak lain dari semakin semaraknya PLBN adalah akses jalan yang semakin baik. Jalan-jalan di pelosok dibangun. Wisatawan dan pelintas batas dijamin akan nyaman saat memasuki wilayah Indonesia. Kesan medan yang berat dan berlumpur sudah tidak ada lagi.

Hadirnya Festival Crossborder atau Wonderful Indonesia Festival di Kalimantan dan Papua, yang juga dimeriahkan konser musik perbatasan di NTT, turut membuat PLBN kian dikenal.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini