nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Revolusi Industri 4.0 Menuju 5.0, Rektor IPB Tekankan Pentingnya Kolaborasi

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 25 Juni 2019 19:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 25 65 2070809 revolusi-industri-4-0-menuju-5-0-rektor-ipb-tekankan-pentingnya-kolaborasi-rY5RUPmgB6.jpeg Rektor IPB (Foto: Dok IPB)

JAKARTA - Rektor IPB Arif Satria juga diundang untuk menyampaikan strategi IPB dalam kerjasama hilirisasi riset. Acara Indonesian Scholar International Convention (ISIC) ke 19 yang dihadiri Dubes RI untuk Inggris Raya Dr Rizal Sukma dan Dirjen SDID Kemristekdikti Prof Ali Ghufron Mukti, diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Inggris.

Acara ini juga bekerjasama dengan University of Nottingham dan Ikatan ilmuwan Indonesia International (1-4).pada 22-23 Juni 2019 di Kampus University of Nottingham.

Dalam seminar tersebut, Arif Satria menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memerlukan kecakapan baru. Setiap negara mengidentifikasi kebutuhan kecakapan yang berbeda-beda.

Arif mencontohkan Jepang memilih kolaborasi dan komunikasi sebagai hal yang penting. Sementara Singapore dan Australia menempatkan kemampuan adaptasi dan berpikir kritis masuk dalam daftar kecakapan baru yang diperlukan.

Baca Juga: Peringkat IPB Naik 100 Tingkat dalam Daftar Kampus Terbaik Dunia

Namun, di era penuh dengan ketidakpastian ini, Arif menekankan pentingnya kolaborasi. Ide Triple atau multi Helix yakni kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri dan masyarakat adalah untuk menjawab tantangan baru disrupsi ini.

"IPB memiliki sejumlah pengalaman dalam kerjasama hilirisasi riset," ujarnya dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (25/6/2019)

Arif lalu mencontohkan inovasi sosial pendampingan petani hortikultura di desa lingkar kampus yang menghasilkan produk-produk unggul yang sekaligus dipasarkan ke 31 super market. Begitu pula inovasi lapangan lainnya dengan Varietas padi IPB 3S, yang produktivitanya bisa mencapai 11.2 ton per hektar jauh di atas rata-rata nasional yang 7 ton/ha,dan kini telah diterapkan di 26 provinsi.

Tentu ini adalah hasil kerjasama antara IPB, pemerintah, industri benih, serta petani. Begitu pula pengembangan Kawasan Estate Padi yang mencoba mengkonsolidasi lahan para petani agar bisa dikelola secara lebih efisien.

Baca Juga: IPB Gandeng Universitas of Nottingham di Bidang Pendidikan dan Penelitian

Sementara itu varietas Pepaya Callina kini telah diproduksi secara komersial dan terdistribusi di 126 kabupaten/kota dan di 11 negara seperti Malaysia, Pakistan, Tanzania, Jepang, India, Thailand, Philippine, Vietnam, Singapore , Brunei dan Timor Leste.

Kemudian ada juga pengembangan nanas dengan varietas PK-1 yang bekerjasama IPB dengan petani Kediri dan telah ekspor ke Singapore.

Sementara inovasi sosial di kelautan ditunjukkan dengan praktek Sea Farming 4.0 di Pulau Seribu bekerjasama dengan Pemerintah DKI, PT Aquatech dan masyarakat lokal.

Sea farming adalah sebuah sistem pemanfaatan ekosistem laut dangkal berbasis marikultur, dengan tujuan akhir pada peningkatan stok sumberdaya ikan dan menjadi pendukung bagi kegiatan pemanfaatan sumberdaya perairan lainnya seperti penangkapan ikan dan wisata bahari serta peningkatan kesejahteraan nelayan.

Dalam perkembangannya, Sea Farming PKSPL IPB masuk ke dalam era Industri 4.0 dimana akan dilakukan berbagai upaya integrasi sistem teknologi 4.0 seperti upaya seperti automatisasi pakan ikan yang terintegrasi dengan daya dukung perairan, sistem deteksi automatis kualitas udang, automatisasi penghitung benih udang, pengembangan sistem automatisasi dan aplikasi deteksi penyakit udang dan ikan budidaya, dan pengembangan Artificial Intelligence (AI) yang mengintegrasikan signal budidaya dengan signal kualitas air akan dikembangkan di sistem Sea Farming.

"Riset akan segera dimulai bersama dengan University of Wageningen Belanda. Dengan aplikasi Sea Farming 4.0 ini, berbagai proses di dalam Sea Farming akan menjadi lebih cepat, akurat dan presisi serta memberikan hasil yang lebih baik," jelas Arif

Di bidang peternakan, IPB telah mengembangkan sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang merupakan Sinergi IPB, pemerintah kabupaten, dan komunitas peternak kecil untuk dapat mewujudkan bisnis kolektif berjamaah melalui kerjasama dengan investor.

Pembelajaran bersinergi tersebut dari IPB ke komunitas peternak dilakukan dengan proporsi 45% perubahan pola pikir, 35% pemahaman bisnis kolektif berjamaah, dan 20% penguatan ipteks.

"Ini diberikan maksimum 4 tahun," ucapnya

Nantinya lanjut Arif, sekitar 32 SPR terbentuk sejak tahun 2013 dan enam SPR dinyatakan lulus. Tahun ini akan diluluskan lagi 6 SPR. Bahkan di Bojonegoro, SPR sudah mengadopsi teknologi 4.0 dengan teknologi satelit.

Baca Juga: Peringkat IPB Naik 100 Tingkat dalam Daftar Kampus Terbaik Dunia

Rektor IPB, yang juga sebagai Ketua Forum Rektor Indonesia terpilih 2020-2021, juga berbagi pengalaman dalam pengembangan bisnis hasil inovasi tanaman obat-obatan.

Kemudian ada pengembangan temulawak organic unggulan antara Pusat Studi Biofarmaka IPB, Soho Global Health, dan pemerintah Sukabumi telah menghasilkan produk curcuma yang telah dikomersialkan.

Ketika ditanyakan kunci keberhasilan triple helix, Arif menjawab bahwa kunci paling pokok adalah trust atau kepercayaan. Kalau kepercayaan sudah terbangun akan mudah berkolaborasi.

Baca Juga: Gandeng Pupuk Kaltim dan PTPN, IPB Wujudkan Pertanian 4.0

Paparan Rektor IPB tersebut sekaligus menunjukkan bahwa konsep IPB Agro-Maritim 4.0 bukan merupakan wacana, tetapi sudah mulai diterapkan di lapangan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dimulai dari program Precision Village dan PreciPalm yang menggandeng dua BUMN yakni PKT dan PTPN, kini agro-maritim 4.0 makin meluas ke berbagai aspek.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini