nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

UGM Bikin Mesin Daur Ulang Sampah Plastik

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 30 Juni 2019 13:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 30 65 2072793 ugm-bikin-mesin-daur-ulang-sampah-plastik-tZU1qTpzRL.jpg Ilustrasi Kantong Plastik (Foto: VOA Indonesia)

JAKARTA - Mesin pencacah plastik merupakan salah satu produk penelitian yang dihasilkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Produk ini digunakan untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam mengolah sampah plastik agar bisa didaur ulang dan menjadi produk yang mempunyai nilai tambah.

Mesin ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengguna terkait dengan waktu dan hasil cacahan yang diinginkan. Mesin pencacah plastik tidak dijual secara bebas, namun dibagikan oleh pemerintah kepada masyarakat.

Penggunaan kantong plastik di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di dunia.Sifatnya ringan dan mudah dibawa membuat masyarakat Indonesia menggemari penggunaan kantong plastik, khususnya saat berbelanja.

Berdasarkan data Jambeck tahun 2015, Indonesia menempati peringkat ke-2 setelah China dalam hal produksi sampah plastik. Tingginya penyebaran sampah plastik ini menjadi persoalan serius yang dihadapi Indonesia.

Baca Juga: Kisah Haru Buruh Bangunan Sekolahkan Anaknya hingga Masuk UGM

Berkaca dari kejadian tersebut, Tim UGM mencari solusi mengatasi sampah plastik. Mereka membuat mesin pencacah plastik agar hasil cacahan plastik mudah didaur ulang.

Ide mesin pencacah plastik juga didasari oleh permintaan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono saat berkunjung ke UGM beberapa bulan lalu.

Permintaan tersebut disambut baik oleh Dr. Muslim Mahardika selaku ketua tim peneliti. “Pak Menteri PUPR, Pak Basuki datang ke kampus dan meminta dibuatkan mesin pencacah plastik, Pak Menteri risau dengan banyaknya sampah plastik,” kata Muslim.

Mesin pencacah plastik mulai dikembangkan pada tahun 2018. Muslim merancang bersama rekan peneliti lain, yaitu Dekan Fakultas Teknik Prof Nizam, Dr Rachmat Sriwijaya, Sigiet Haryo Pranoto, dan Fajar Yulianto Prabowo.

Baca Juga:

Tujuan utama pembuatan mesin ini adalah mengembangkan pengolahan sampah plastik menjadi produk bernilai tambah. Pengolahan sampah plastik sekaligus meminimalisasikan penyebarannya di lingkungan masyarakat.

“Hasil cacahan plastik digunakan sebagai bahan daur ulang pabrik plastik dan juga sebagai bahan campuran aspal karena senyawanya sama dengan aspal, campurannya sekitar 6 persen (sampah),” katanya.

Mesin ini memiliki beberapa keunggulan, jika dibandingkan dengan mesin pencacah plastik yang dijual di pasaran. Salah satu keunggulannya adalah berdaya rendah. Mesin buatan UGM memiliki daya dua sampai lima horsepower (hp), sedangkan mesin serupa di pasaran berdaya tujuh sampai sepuluh hp.

Baca Juga: Bekali Mahasiswa UGM soal Penangkapan Ikan, Menteri Susi Sempat Nari Flashmob

Satu hp setara dengan 745,7 watt. Saat ini mesin telah diproduksi massal oleh PT Barata Indonesia, Gresik. Mesin-mesin itu dibagikan oleh Kementerian PUPR kepada pemerintah daerah dan masyarakat di sejumlah daerah. Muslim menambahkan, harga satu unit mesin pencacah plastik sekitar Rp25 juta.

Harga tersebut bukanlah harga di pasaran karena mesin pencacah plastik karya UGM dibagikan gratis. “PT Barata sudah memproduksi sekitar 190 unit dan disebar ke seluruh Indonesia, itu gratis,” katanya.

Bentuk dan ukuran mesin ini tidak jauh berbeda dengan mesin di pasaran. Panjang mesin sekitar satu meter dengan tinggi 1,7 meter dan lebar satu meter.

Mesin ini dibuat dari enam komponen utama, yaitu tempat penampung hasil cacahan plastik kresek (hopper), motor listrik, roda gila (fly wheel), belt, poros, serta pisau statis dan pisau dinamis. Sebagian besar komponen mesin memanfaatkan bahan lokal.

Proses kerja dan cara pengaplikasiannya mesin ini tidaklah sulit. Setiap orang bisa menggunakannya dengan mudah, bahkan tanpa bantuan dari orang lain sekalipun. “Plastik kresek dimasukkan ke dalam mesin, kemudian dicacah oleh pisau statis dan pisau dinamis,” kata Dosen UGM itu.

Ada tiga kategori mesin pencacah dalam setiap proses. Kategori mesin ini dibagi berdasarkan jumlah plastik yang akan dicacah dan hp yang dibutuhkan. “Ada tiga kategori mesin, kapasitas kecil 10-20 kg/jam dengan daya 3 hp, kapasitas sedang 20-40 kg/jam daya 4 hp, kapasitas besar 40-50 kg/jam daya 5 hp,” ungkapnya.

Meskipun mudah diapli ka sikan, tapi ada be - berapa hal yang harus diperhatikan. Keselamatan kerja menjadi faktor penting dalam menggunakan mesin ini. Selain itu, sampah plastik yang akan dicacah harus bersih dari logam dan batu agar tidak merusak mesin.

“Mesin ini menghasilkan cacahan plastik kresek yang bisa disesuaikan kebutuhannya, ukuran cacahan bisa disetel satu sampai empat milimeter. Sedangkan pada mesin pencacah plastik di pasaran biasanya menghasilkan ukuran sekitar 0,5 cm,” kata Muslim.

Mekanisme kerja mesin ini menggunakan motor listrik AC yang ditransmisikan menggunakan fan belt sehingga memutar poros pisau untuk mencacah plastik dengan roda gila yang berfungsi sebagai penyimpan inersia.

Kecepatan putar mesin antara 400- 1000 rotasi per menit (rpm). Kantong plastik atau lebih dikenal dengan istilah “kresek,” jarang sekali didaur ulang masyarakat maupun pabrik plastik. Sebagian besar kantong plastik digunakan sekali pakai, maksimal tiga kali jika tidak rusak atau robek.

Pengolahan sampah kantong plastik berbeda dengan botol atau gelas plastik. Sampah botol dan gelas plastik sering didaur ulang menjadi berbagai kerajinan, seperti mainan anak, bunga hias, hiasan lampu dan lain sebagainya.

“Plastik kresek ini kan sampahnya nggak ada yang mau, berbeda dengan sampah botol aqua, tapi plastik kresek ini kan nggak laku nggak ada yang mau, nggak ada kolektor yang mau menampung karena nggak laku,” ujar Muslim.

Muslim menceritakan tentang bangkai paus yang terdampar di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Ada sesuatu mengejutkan dengan isi perut paus. Saat dibedah, isi perut paus dipenuhi aneka ragam sampah yang sebagian besar adalah sampah plastik.

Penemuan itu menjadi salah satu indikator bahwa wilayah laut Indonesia dipenuhi dengan sampah plastik. Peningkatan polusi plastik di lautan semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya pencemaran, tapi juga rusaknya ekosistem makhluk hidup di lautan.

Menurut organisasi World Wide Fund for Nature (WWF), dunia kini memproduksi hampir 300 juta ton plastik setiap tahun. Sebagian besar dari jumlah itu adalah sampah yang tidak didaur ulang dan kebanyakan dibuang begitu saja ke laut.

Menyadari bahwa ancaman terus datang, Muslim ber ha rap inovasi ini mampu mendukung upa ya pemerintah mengatasi sampah plas tik dan mendorong pengolahan sampah plastik yang lebih baik di masa depan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini