nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jalur Zonasi, Tren Pindah Rumah ke Sekolah Favorit Meningkat

Koran SINDO, Jurnalis · Minggu 30 Juni 2019 14:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 30 65 2072804 jalur-zonasi-tren-pindah-rumah-ke-sekolah-favorit-meningkat-LLkIMO48Hs.jpg Pendaftaran PPDB (Foto: Okezone)

JAKARTA - Penerapan jalur zonasi atau jarak tempuh dari sekolah ke rumah dalam sistem pendaftaran peserta didik baru (PPDB) masih banyak dikeluhkan beberapa anggota masyarakat, terutama yang memiliki tempat tinggal jauh dari sekolah favorit.

Dengan sistem ini siswa yang memiliki nilai tinggi tidak bisa mendapatkan sekolah favorit hanya karena letak rumah yang jauh dari sekolah. Begitu juga dengan siswa yang rumahnya jauh dari sarana pendidikan akan bingung menentukan sekolahnya.

“Salah satu syarat mutlak untuk mengikuti jalur zonasi adalah peserta didik harus memiliki KK atau surat keterangan domisili yang berada dalam satu wilayah kota atau kabupaten yang sama dengan sekolah asal,” ujar pengamat pendidikan, Itje Chodijah.

Penerapan sistem ini mengharuskan calon siswa memilih sekolah yang memiliki jarak terdekat dengan rumah tinggalnya. Hal ini pastinya berpengaruh terhadap meningkatnya pemindahan domisili.

Baca Juga: Bima Arya Cek Dugaan Manipulasi Data Kependudukan Terkait PPDB di Bogor

Misalkan yang dulu tinggal di daerah jauh dari sekolah, mereka rela untuk pindah ke wilayah yang memang banyak menyediakan pilihan sekolah terbaik. “Jalur zonasi tidak hanya bisa memberikan pemerataan di bidang pendidikan, tapi juga mampu menghemat biaya dan juga lebih mudah orang tua memantau lingkungan anak karena jarak antara sekolah dan anak yang tidak terlalu jauh,” papar Itje.

Adanya jalur zonasi juga bisa memberikan dampak lain seperti orang tua yang rela melakukan pindah domisili. Otomatis dengan begitu beberapa hunian yang dekat dengan wilayah sekolah akan dicari.

“Aturan sistem zonasi yang kaku membuat para calon peserta didik yang berlokasi di daerah jauh beralih untuk pindah. Hal ini juga berpengaruh terhadap pencarian hunian baru yang dekat dengan saran fasilitas, seperti sekolah favorit,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan. Dengan diberlakukannya sistem zonasi, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan tren pencarian hunian melihat dari faktor sarana fasilitasnya bukan lagi melihat model hunian. Ike menjelaskan, para pembeli hunian saat ini banyak mempertimbangkan jarak kedekatan pada sarana pendidikan.

Baca Juga: 86 Kasus PPDB Jawa Barat Diadukan ke Ombudsman

Bukan lagi melihat dari sistem transportasi umumnya atau pun desain rumah tersebut. Berdasarkan riset Rumah.com dari 1.000 responden hampir 47% cenderung memilih kawasan hunian yang mempunyai jarak lebih dekat dengan fasilitas sekolah.

“Ini berada di peringkat kedua tertinggi yang paling banyak di cari setelah lokasi,” ungkap Ike.

Para pencari rumah sekarang banyak memilih hunian second dan dekat dengan beberapa fasilitas yang dicari. Untuk masalah harga, rata-rata mereka masih memiliki standar tersendiri.

“Pertimbangan jarak dan lingkungan yang menjadi pertimbangan utama tersebut berkaitan dengan kelompok usia responden yang berencana membeli rumah dalam enam bulan ke depan, yakni usia 21-39 tahun. Usia ini merupakan usia produktif dan akan atau berkeluarga kecil, sehingga mobilitas dan lingkungan yang ramah anak-anak jadi pertimbangan utama,” kata Ike.

Kebijakan sistem zonasi saat ini, kata Ike, terutama diterapkan untuk sekolah negeri jenjang SMP dan SMA. Artinya, jika melihat perjalanan hidup seseorang secara umum, kebijakan ini memang baru akan berdampak ketika mereka berusia 35-40 tahun ke atas dan memiliki anak usia sekolah tingkat lanjut.

Sangat mungkin belum terbayang untuk mereka yang baru membeli rumah pertama kali di usia yang relatif masih muda, misal 25-30 tahun, untuk memikirkan tentang kedekatan rumah dengan sekolah yang diinginkan.

Dengan demikian, lanjut Ike, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi masalah ini.

Pertama, yang wajib dilakukan adalah mempelajari area rumah baru tersebut. Sangat dianjurkan untuk melakukan pengecekan mengenai rencana tata kota daerah yang bersangkutan.

Hal kedua yang perlu dipertimbangkan, seseorang tidak harus tinggal di rumah yang sama seumur hidupnya. Mereka bisa mempertimbangkan untuk melakukan upgrade atau pindah rumah pada saat membutuhkannya.

Dalam kasus ini, ketika anak-anak sudah berusia sekitar 9-10 tahun, mereka bisa upgrade atau pindah ke daerah di mana sekolah incaran tersebut berada. Dengan demikian, orang tua anak bisa mengurus sesuai prosedur yang berlaku bila sistem zonasi sekolah tetap diberlakukan.

Anak-anak pun bisa beradaptasi dulu dengan lingkungan barunya sebelum memutuskan sekolah mana yang nantinya akan diambil. Namun, perumahan baru yang ada saat ini biasanya memang memiliki lokasi yang relatif jauh dari sekolah-sekolah negeri.

Hal ini akan menyulitkan orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah negeri pilihan mereka jika tidak masuk ke area sistem zonasi sekolah itu. Hendra Mulya, 52, rela menjual rumahnya dan pindah domisili demi anaknya bisa masuk ke sekolah yang dinginkan.

Dia mengaku pindah ke rumah baru untuk bisa mendaftarkan anaknya melalu jalur zonasi. Dengan adanya sistem zonasi, mustahil bagi Hendra memenuhi keinginan anaknya untuk sekolah di SMPN 49 Jakarta Timur dengan jalur murni.

Hendra pun menjual rumah lamanya dan mencari hunian baru di daerah Kramatjati, Jakarta Timur, jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dibuka. Tetapi, persoalan tak hanya selesai dengan membeli rumah baru.

Sebab, pindah rumah juga harus mengurus perubahan domisili. “Saya sudah mengurus pindah domisili dari bulan September 2018 lalu, karena syarat untuk bisa mengikuti jalur zonasi ini harus memiliki kartu keluarga dan telah berdomisili selama 6 bulan lamanya. Jadi, saya menjual rumah lama dan memilih membeli di wilayah yang banyak menyediakan sekolah negeri terbaik,” ujar Hendra.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini