nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kembali Terapkan Hukuman Mati, Sri Lanka Pekerjakan Dua Algojo Baru

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 01 Juli 2019 14:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 01 18 2073146 kembali-terapkan-hukuman-mati-sri-lanka-pekerjakan-dua-algojo-baru-G3T2xOPNSE.jpg Presiden Maithripala Sirisena kembali meneraokan hukuman mati untuk pertama kali sejak 1976. (Foto: Reuters)

KOLOMBO - Pemerintah Sri Lanka dilaporkan telah mempekerjakan dua algojo di tengah persiapan untuk melakukan empat eksekusi mati, pertama kalinya dalam 43 tahun terakhir. Eksekusi mati itu direncanakan menyusul pengumuman presiden yang menyatakan bahwa empat terdakwa kasus narkoba akan dijatuhi hukuman mati.

Hukuman mati dengan digantung itu akan mengakhiri moratorium yang telah diberlakukan sejak 1976.

Pada Februari, pemerintah Sri Lanka telah memasang iklan untuk mencari algojo dengan “karakter moral yang kuat”. Kandidat yang dicari adalah pria warga negara Sri Lanka, berusia antara 18-45 tahun dan memiliki “kekuatan mental”.

Lebih dari 100 kandidat telah merespons untuk mengisi lowongan sebagai algojo yang ditawarkan dalam iklan tersebut. Media pemerintah Daily News bahkan melaporkan bahwa dua warga Amerika Serikat (AS) dan dua perempuan melamar untuk menjadi algojo.

Juru bicara penjara mengatakan bahwa dua kandidat yang diterima perlu lulus latihan terakhir yang akan berlangsung selama dua pekan sebelum menjalankan tugas mereka.

Algojo tukang gantung ter kahi mengundurkan diri lima tahun lalu setelah melihat tiang gantungan dan menjadi shock. Sementara algojo lainnya dipekerjakan tahun lalu tetapi tidak muncul untuk bekerja.

Di Sri Lanka, pemerkosaan, perdagangan narkoba dan pembunuhan dapat dihukum dengan hukuman mati, tetapi tidak ada eksekusi yang dilakukan sejak 1976.

Presiden Maithripala Sirisena mengatakan hukuman mati sedang dipulihkan untuk menekan perdagangan narkoba di Sri Lanka.

"Saya telah menandatangani surat kematian empat orang," kata Presiden Sirisena sebagaimana dilansir BBC, Senin (1/7/2019).

"Mereka belum diberi tahu. Kami belum ingin mengumumkan nama-nama itu karena itu bisa mengakibatkan kerusuhan di penjara."

Dia mengatakan ada 200.000 pecandu narkoba di negara itu dan 60 persen dari jumlah itu berada di tahanan berada di penjara karena tuduhan narkoba.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini