nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

25 Tahun Pecandu Narkoba, 3 Kali Masuk Bui Wanita Paruh Baya Ini Insyaf

Bramantyo, Jurnalis · Kamis 04 Juli 2019 18:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 04 512 2074678 25-tahun-pecandu-narkoba-3-kali-masuk-bui-wanita-paruh-baya-ini-insyaf-Cb0PDjQZaA.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

SOLO - Lebih dari 25 tahun menjadi pecandu narkoba jenis sabu dan tiga kali keluar masuk bui, seorang wanita berinisial IP (56), warga Kalioso, mengaku ini sudah menjadi titik balik bagi kehidupannya. Selama puluhan tahun menggunakan sabu, entah berapa rupiah yang sudah dikeluarkan oleh ibu dari satu anak ini.

Ditemui saat hadir dalam acara sosialisasi yang digelar Balai Pemasyarakatan (Bapas) Surakarta tentang pelayanan program rehabilitasi klien pemasyarakatan terkait kasus narkoba, IP sampaikan dirinya mengaku menyesali apa yang sudah dilakukannya selama ini.

Menurutnya, menjadi pecandu narkoba merupakan hal yang sangat disesalinya seumur hidupnya. Bukan hanya uang saja yang habis percuma, namun juga kebebasan untuk berkumpul dan merawat anak semata wayangnya yang kini sudah berkeluarga.

"Terus terang saya menyesali kebodohan saya selama ini, sia-sia saya habiskan sebagian hidup saya untuk hal bodoh dan menyesatkan," jelasnya kepada Okezone, Kamis (4/7/2019).

 Narkoba

Dirinya mengaku pertama kali mengenal sabu saat berada dirinya merantau di Yogyakarta. Suaminya sudah meninggal di tahun 1987 dan sampai saat ini dirinya tidak menikah lagi. Disana IP memiliki usaha membuka warung makan kaki lima.

Usahanya terbilang sukses. Sayangnya di tahun 1989 mulai mengenal sabu dari rekan yang ada disekitar lingkungannya. Dari awal coba-coba hingga akhirnya IP menjadi kecanduan. Sekian lama terjerat narkoba akhirnya IP berusaha pindah ke Solo.

Namun sayangnya kepindahannya ke Solo tidak membuatnya bisa berhenti menggunakan narkoba. meski sudah tiga kali IP harus merasakan dinginnya tembok penjara di tiga lokasi yang berbeda.

Saat pertama masuk dirinya sudah berupaya untuk jauh dari narkoba. Namun saat keluar dari lapas, bertemu kembali dengan lingkungan dan kawan lama yang membuatnya kembali terjerumus.

"Apalagi sejak suami meninggal, mungkin saya merasa bebas tidak tanggungjawab makanya dengan gampang pakai narkoba," akunya.

 Penangkapan

Namun sejak ketiga kalinya dirinya tertangkap dan kembali masuk penjara, IP mengaku sudah tidak ingin lagi bertemu atau berhubungan dengan teman-teman lamanya. Lebih baik saya cari lingkungan baru atau mengasingkan diri ke desa agar bisa hidup damai dan tidak mengenal narkoba lagi.

"Saat suami masih ada saya tidak kenal narkoba. Setelah suami meninggal saya merasa broken, akhirnya merasa hidup bebas sehingga saya kena masalah seperti ini," tandasnya.

Usai mendapatkan pembebasan bersyarat dan menjalani rehabilitasi, IP menjadi petani juga menekuni usah jahit dan membuat tas rajut di desanya.

Ketrampilan tersebut diperolehnya selama menjalani masa tahanan di Sragen. Beragam ketrampilan diajarkan oleh petugas Rutan, termasuk jahit dan membuat kerajinan.

"Hasil belajar di rutan saya manfaatkan, buat tas, kerudung, mukena lalu saya jual di online-online," lanjut IP.

IP yang terakhir menjalani penahanan di Boyolali dan harus mendekam selama dua tahun di Rutan, sangat berharap dengan mengikuti rehabilitasi ini bisa membuat kehidupannya menjadi lebih baik dan jauh dari narkoba.

"Saya mohon doanya Insya Allah ini yang terakhir dan saya ikhlas akan menjalani kehidupan ini apa adanya dan tidak ingin terulang kembali," ucapnya.

Dirinya berpesan kepada generasi muda agar jauhi narkoba. Karena menjadi pemakai narkoba tidak ada manfaatnya sama sekali. Uang hilang, badan rusak dan tidak mendapatkan manfaat malah ujungnya masuk bui.

"Kepada orang tua agar betul-betul mengawasi anaknya dengan ekstra. Karena lingkungan dan pertemanan (jika salah memilih) juga membahayakan. Pantau anak yang sudah menginjak dewasa," pesannya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini