nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dewan Militer Sudan dan Pihak Oposisi Capai Kesepakatan Pembagian Kekuasaan

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 05 Juli 2019 20:06 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 05 18 2075217 dewan-militer-sudan-dan-pihak-oposisi-capai-kesepakatan-pembagian-kekuasaan-RibKuMOL13.jpg Foto: Reuters.

KHARTOUM – Dewan Militer Sudan yang berkuasa, koalisi oposisi dan kelompok demonstran telah berhasil mencapai kesepakatan untuk pembagian kekuasaan selama periode transisi menuju digelarnya pemilihan umum. Kesepakatan tersebut disambut dengan suka cita oleh ribuan warga Sudan yang turun ke jalan melakukan perayaan.

Kedua belah pihak, yang telah mengadakan pembicaraan di Khartoum selama dua hari terakhir, sepakat untuk "membentuk dewan berdaulat dengan rotasi antara militer dan warga sipil untuk jangka waktu tiga tahun atau lebih," kata mediator Uni Afrika, Mohamed Hassan Lebatt pada sebuah konferensi pers yang dilansir Reuters, Jumat (5/7/2019).

Mereka juga sepakat untuk membentuk pemerintahan teknokratis independen dan meluncurkan penyelidikan yang transparan dan independen terhadap peristiwa kekerasan dalam beberapa pekan terakhir.

Kedua belah pihak sepakat untuk menunda pembentukan dewan legislatif. Mereka sebelumnya telah sepakat bahwa koalisi Pasukan untuk Kebebasan dan Perubahan (FFC) akan mengambil dua pertiga dari kursi dewan legislatif sebelum pasukan keamanan menghancurkan protes duduk pada 3 Juni, menewaskan lusinan orang, dan menyebabkan pembicaraan gagal.

Ribuan orang turun ke jalan saat berita tersebut diumumkan, menerikkan slogan: “Warga sipil! Warga sipil!, Warga sipil!”

Para pemuda menabuh drum, orang-orang membunyikan klakson mobil mereka, dan para wanita yang membawa bendera Sudan ditulisi bersorak dengan gembira.

"Perjanjian ini membuka jalan bagi pembentukan institusi otoritas transisi, dan kami berharap ini adalah awal dari era baru," kata Omar al-Degair, seorang pemimpin FFC.

"Kami ingin meyakinkan semua kekuatan politik, gerakan bersenjata dan semua orang yang berpartisipasi dalam perubahan dari pria dan wanita muda ... bahwa perjanjian ini akan komprehensif dan tidak akan mengecualikan siapa pun," kata Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, wakil kepala Dewan Militer Transisi.

Para petugas medis oposisi mengatakan lebih dari 100 orang terbunuh dalam pembubaran demonstrasi dan kekerasan yang terjadi setelahnya. Pemerintah mengatakan jumlah korban tewas berada di angka 62 orang.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini