nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BMKG Didik Petani Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Marlene Karamoy, Jurnalis · Rabu 10 Juli 2019 07:58 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 10 65 2076886 bmkg-didik-petani-beradaptasi-dengan-perubahan-iklim-2gyfsV93M4.jpg Sekolah Tani BMKG (dok)

TEMANGGUNG - Ma'ruf, petani di Desa Ngadirejo Temanggung Jawa Tengah, awalnya mengira, hujan salah mongso atau hujan salah musim terjadi saat perubahaan iklim.

Dia tak tahu sama sekali tentang ilmu pengetahuan, yang dapat membantunya beradaptasi untuk memutuskan apakah akan menanam atau menunda bercocok tanam.

Baca juga:  Nilai Tukar Petani Naik 0,38% pada Mei 2019

Pada April lalu, Ma'ruf mengikuti Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap 3 yang diadakan oleh Badan Meteorologi, Kimatologi, dan Geofisika (BMKG), bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Temanggung.

 Sekolah tani BMKG (dok)

Ma'ruf menerangkan, "Kami belajar tentang perubahan iklim, kalau dulu kan disebut hujan salah mongso (musim), ternyata bukan soal hujan salah mongso, tetapi memang siklusnya."

Dalam 3 bulan SLI, para kelompok tani menerapkan pola bercocok tanam berdasarkan saran dan rekomendasi penyuluh lapang pertanian, dan dibekali info kondisi iklim yang sedang terjadi, pada satu musim tanam dari tim BMKG.

 Baca juga: Rektor ITB Ungkap Sponsor Rokok Incar Mahasiswa

Dengan konsep "belajar dengan melakukan" (Learning by doing) & "belajar dengan mengalami" (Learning by experiencing), para peserta dapat memahami pengamatan suhu, kelembaban udara, bahkan diajak langsung melihat peralatan BMKG.

Dari banyaknya pengetahuan iklim yang didapat, Ma'ruf yakin dapat menerapkan dan membagikan kepada teman-teman petani.

"Mengamati curah hujan, dengan menggunakan alat ukur, itu ilmu yang paling berguna. Sebelumnya tidak tahu sama sekali," cerita Ma'ruf.

 Baca juga: Mahasiswa Brawijaya Buat Inovasi agar Kaca Tetap Bersih dan Dingin

SLI merupakan respon kongkret BMKG dalam mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim.

Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, rata-rata produktivitas di SLI Temanggung mencapai 6.8 Ton/Ha.Apabila dibandingkan dengan hasil rata-rata Kecamatan sebesar 6.1 Ton/Ha, hasil ini masih di atas rata-rata mengingat beberapa serangan hama.

Baca juga: 7 Kampus Ini Akan Dijadikan Pusat Pencetak Pengusaha Baru"Sekolah Lapang Iklim di Jawa Tengah khususnya di Temanggung ini tidak saja dapat meningkatkan pemahaman kita mengenai iklim, tetapi lebih jauh dampaknya dapat meningkatkan produktivitas pertanian kita," harap Dwikorita. Sejak tahun 2011 SLI telah diadakan secara bertahap di provinsi sentra pangan Indonesia sebagai bentuk pendekatan literasi iklim, guna mengurangi resiko gagal panen akibat iklim ekstrim. Literasi tersebut memanfaatkan isi informasi iklim di bidang pertanian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini