nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Cristo dan Surya, Mahasiswa Tunarungu Asal Indonesia yang Berprestasi di Amerika

Agregasi VOA, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 16:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 15 65 2079164 cerita-cristo-dan-surya-mahasiswa-tunarungu-asal-indonesia-yang-berprestasi-di-amerika-K9zf5RGv1j.jpg Cristo dan Surya (Foto: VoA)

Berjuang Masuk Universitas Yang ‘Ramah’ Bagi Tuli

Sebelum kuliah di Amerika, Cristo dan Surya pernah mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika. Cristo mengikuti program pertukaran pelajar tahun 2012, di mana pada waktu itu ia adalah satu-satunya Tuli dalam rombongan, yang selama satu bulan berkesempatan untuk berkunjung ke Washington, D.C., Virginia, dan California.

“Ini merupakan kesempatan emas. Saya banyak bertemu orang dari seluruh dunia, namun sayangnya, tidak ada yang bisa saya jadikan panutan karena semua adalah orang dengar. Tapi saya banyak belajar tentang kepemimpinan dan tanggung jawab,” kata Cristo yang adalah pria kelahiran tahun 1993 ini.

Baca juga: KDEI: Mahasiswa Indonesia di Taiwan Bantah Alami Kerja Paksa


Tahun 2016 giliran Surya yang mengikuti program pertukaran pelajar ‘Deaf Youth Leadership Exchange Program’ yang diselenggarakan oleh kedutaan besar Amerika untuk Indonesia di Jakarta.

Selama dua minggu di Amerika, Surya sempat berkunjung ke Gedung Putih, NASA, juga universitas Gallaudet di Washington, D.C. yang memiliki program inklusif untuk tuli.

Dalam perjalanannya Surya banyak bertemu dengan tokoh Tuli sukses yang berkiprah menjadi dokter, pengacara, dan juga pada waktu itu asisten dari presiden Barack Obama. Ia terkesima saat mempelajari berbagai fasilitas untuk Tuli di kampus-kampus Amerika.

“Dari pengalaman tersebut, kami tularkan perspektif baru ke teman-teman di Indonesia bahwa teman-teman Tuli bisa mengembangkan diri mereka dengan dukungan aksesibilitas seperti Bahasa isyarat dan serta pemahaman terbuka masyarakat terhadap potensi teman-teman disabilitas,” papar Surya.

Pengalaman inilah yang mendorong keduanya bertekad untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Amerika.

Baca juga: Rekrutmen Magang Mahasiswa di Taiwan Diminta Dievaluasi


“Saya ingin belajar di Amerika karena pengakuan dan pendidikannya. Beranjak dewasa saya tidak mendapat dukungan dari orang sekitar dan keluarga karena saya tuli. Tuli di Indonesia yang ingin menekuni bidang medik dan sains seperti saya (dianggap) tidak masuk akal. Inilah yang terus mendorong saya untuk berjuang dan membuktikan bahwa mereka salah,” jelas Cristo yang hobi membaca dan main video game ini.

Situs BestColleges.com yang memuat berbagai informasi mengenai beragam universitas menyorot lima universitas di Amerika yang memiliki program inklusif untuk Tuli dan mahasiswa dengan gangguan pendengaran.

Selain RIT di New York dan Gallaudet University di Washington, D.C., ada Howard College di Texas, The University of Wisconsin-Milwaukee di Wisconsin, dan California State University-Northridge di California.

Cristo lalu memilih RIT/NTID, karena universitas ini memiliki fasilitas untuk Tuli dan mahasiswa dengan gangguan pendengaran, serta program ilmu bio-medik yang ingin ia tekuni.

Yang menarik, situs pemerintah kota Rochester di mana RIT/NTID berada menyebutkan bahwa Rochester adalah kota yang dikenal paling ramah Tuli dan orang dengan gangguan pendengaran di Amerika Serikat. Kota ini menyediakan akses bagi Tuli di bidang rekreasi dan sosialiasi, layanan kesehatan, agama, bisnis, dan masih banyak lagi.

RIT sudah berdiri sejak tahun 1829. Program inklusif NTID untuk Tuli dan mahasiswa dengan gangguan pendengaran menjadi bagian dari RIT tahun 1968.

Dilansir dari situs RIT, jumlah mahasiswa yang tergabung dalam program NTID saat ini melebihi 1.000 orang. Menurut Surya, banyak mahasiswa RIT/NTID yang berasal dari berbagai negara.

Baca juga: Ini Skema Program Kuliah Magang Mahasiswa Indonesia yang Diduga Kerja Paksa di Taiwan


“Saya memilih RIT/NTID karena memiliki program inklusif di mana Tuli bisa berkuliah di kelas umum. Di sana saya mengikuti kelas regular yang disediakan juru bahasa isyarat, notetaker (red: pencatat) dan bahkan captioner (red: penulis transkrip),” kata Surya yang juga pernah kuliah di Sampoerna University-Lone Star College di Jakarta dengan jurusan pendidikan bahasa Inggris.

Para penerjemah atau juru bahasa isyarat, pencatat, dan penulis transkrip ini adalah mahasiswa berprestasi yang tergabung dalam tim profesional di kampus.

Perjuangan Cristo untuk bisa menempuh pendidikan tinggi di Amerika pun tidak mudah. Berbekal ketekunan dan tekad yang bulat, ia berhasil meraih beasiswa untuk kuliah di RIT/NTID.

“Awalnya saya sempat menyerah mencari beasiswa. Untungnya saya mendapat informasi dari kenalan saya sewaktu mengikuti program pertukaran pelajar Indonesia-Amerika tahun 2012,” kenang Cristo.

Cristo mengaku sempat frustrasi saat mendaftar ke universitasnya ini, karena semua harus dilakukannya sendiri, karena orang tuanya tidak mengerti bahasa Inggris. Ditambah lagi ia berusaha mendapatkan beasiswa untuk kuliah.

Mulai dari biaya aplikasi, penulisan esai, hingga surat rekomendarsi dari pemerintah Indonesia, surat keterangan keuangan keluarga, hingga transkrip nilai dari SMA, semua diurusnya sendiri. Ia pun rela harus melek tengah malam untuk menghubungi pihak administrasi universitas, mengingat perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika.

“Waktu itu saya hampir menyerah untuk mencari beasiswa,” ujarnya.

“Yang paling menantang adalah saat harus mengikuti tes ACT, karena saya besar di sekolah Tuli yang memiliki kurikulum/pendidikan rendah. Untuk menghadapi ini, saya memutuskan untuk belajar sendiri melalui ‘Khan Academy’ (red: Khan Academy adalah situs dan aplikasi daring yang mengajarkan murid-murid beragam mata pelajaran) dan meminta bantuan,” jelasnya lagi.

Namun, Cristo tidak menyerah begitu saja. Kuncinya menurut Cristo sebenarnya ‘simple,’ yaitu selalu bertanya jika mememerlukan bantuan dan tidak berhenti belajar.

“Jangan berhenti mencoba dan belajar dari kesalahan. Pencarian beasiswa mungkin kompetitif, tapi layak untuk dicoba dibanding tidak melakukan apa-apa,” katanya.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini