nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Cristo dan Surya, Mahasiswa Tunarungu Asal Indonesia yang Berprestasi di Amerika

Agregasi VOA, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 16:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 15 65 2079164 cerita-cristo-dan-surya-mahasiswa-tunarungu-asal-indonesia-yang-berprestasi-di-amerika-K9zf5RGv1j.jpg Cristo dan Surya (Foto: VoA)

Keterbatasan Bukanlah Penghalang

Lahir dengan keterbatasan tidak pernah mematahkan semangat Cristo dan Surya dalam mencapai cita-cita. Keduanya dikenal sebagai mahasiswa yang aktif di kampus.

Beroganisasi di kampus telah mengajarkan Cristo untuk menjadi pemimpin yang baik. Ia juga belajar banyak mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan acara, salah satunya Deaf Media Festival yang ikut ia garap. Dalam mempersiapkan festival yang berlangsung selama satu minggu ini, Cristo bertugas membuat surat pengajuan dana, menghias ruangan, dan memasarkan festival tersebut.

Dalam satu waktu Cristo ditunjuk menjadi ketua budaya yang menyelenggarakan Holi Festival, yang menyediakan lokakarya melukis henna, kuliner India, sejarah dari perayaan Holi, dan juga pojokan foto.

“Lokakarya ini diadakan untuk menyebarkan kesadaran akan pentingnya Holi Festival untuk orang-orang India, juga mendidik masyarakan untuk menghargai kebudayaan mereka, dan mengajak masyarakat untuk merasakan bagaimana orang-orang India merayakan hari ini,” kata Cristo saat dihubungi VOA Indonesia melalui surel.

Selain itu ia juga menciptakan sebuah proyek baru bersama Stripeticle (Strip + article), sebuah bulletin yang menceritakan tentang sejarah NTID.

“Saya mengakui komunitas Tuli tidak banyak yang tahu mengenai komunitas Tuli di NTID. Buletin ini tidak hanya ditujukan untuk komunitas Tuli saja, tetapi juga komunitas dengar, karena komunitas Tuli perlu diakui oleh komunitas dengar,” jelas Cristo.

Selain aktif berorganisasi, kerap kali Cristo menjadi relawan. Ia bergabung dengan American Medical Professionals with Hearing Loss, untuk menjadi pembimbing dan pelayan makanan, di mana ia banyak bertemu dengan para pelaku di bidang kesehatan.

“Mereka menginspirasi dan memotivasi saya untuk meraih dan berjuang dengan cara saya. Saya belajar bahwa menjadi relawan tidak hanya membantu, tetapi juga membangun jaringan dan hubungan dengan para orang Tuli yang sukses di Amerika Serikat,” jelasnya.

Di RIT, Surya juga kerap mengikuti acara-acara yang diselenggarakan oleh beberapa klub, seperti Asian Deaf Club, Deaf International Student Association, dan juga organisasi keagamaan, Muslim Student Association.

“Mereka sering menyediakan lokakarya untuk mempelajari hal yang baru contoh kebudayaan baru dari beberapa negara lain seperti hari Bahasa isyarat internasional dan sebagainya. Kemudian, MSA juga beberapa kali mengundang tamu untuk sebagai pembicara. Acaranya untuk orang dengar tetapi selalu ada juru bahasa isyarat yang tersedia,” ujar Surya.

Di Indonesia, Surya dikenal sebagai aktivis yang giat memperjuangkan hak-hak masyarakat Tuli.

Ia pernah bergabung dengan organisasi Tuli yang mengajarkan anak-anak dan remaja mengenai kepercayaan diri dalam berinteraksi, lalu juga di organisasi kesejahteraan Tuli untuk belajar tentang identitas dan isu bahasa isyarat.

“Karena aktif dalam berorganisasi, saya mengikuti perkemahan Tuli Internasional di Turki. Disana saya banyak belajar tentang kepemimpinan, cara advokasi serta kesadaran hak Tuli,” ujar Surya.

Keterbatasan Surya dalam mendengar tidak membuatnya berhenti berjuang untuk menoreh segudang prestasi di berbagai di bidang.

Anak muda kelahiran tahun 1993 ini pernah meraih juara di bidang teknologi bagi penyandang disabilitas, untuk ajang “Global IT Challenge for Youth with Disabilities" yang diselenggarakan oleh organisasi khusus PBB, UNESCAP, dan The Korean Society for Rehabilitation of persons with Disabilities di Thailand tahun 2013.

Surya juga pernah meraih Young Voices Indonesia Award 2017 atas kampanyenya yang menonjol untuk Bahasa Isyarat Indonesia dan advokasinya terhadap berbagai isu disabilitas di Indonesia.

Tahun 2018, Surya mendapat Ruang Guru Influencer Award atas usahanya memperjuangkan hak-hak Tuli untuk bisa mendapat akses untuk ‘konten’ informasi pendidikan dan informasi lain yang bermutu.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini