nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketua GIPI Puji Komitmen Presiden Jokowi Majukan Pariwisata Indonesia

Kamis 18 Juli 2019 19:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 18 1 2080686 ketua-gipi-puji-komitmen-presiden-jokowi-majukan-pariwisata-indonesia-qaVvmgVYD5.jpg Presiden Jokowi (Foto: Kemenpar

JAKARTA – Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengaku salut dan terkesan dengan komitmen Presiden Joko Widodo dalam membangun sektor pariwisata. Menurut catatannya, inilah satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang paling serius mendorong kemajuan sektor pariwisata.

“Dan konkret! Tidak basa-basi, cepat dan sudah terasa impact-nya dalam lima tahun terakhir,” aku Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Didien Junaedy belum lama ini.

Dia punya segudang pengalaman di industri pariwisata. Lebih dari 50 tahun dia menggeluti dunia industri tersebut. Presiden silih berganti, Menteri Pariwisata juga datang dan pergi. Tetapi dia tidak pernah bosan menekuni industri ini.

“Kalau orang nomor satu-nya mau, semua akan bergerak! Begitu pun sebaliknya. Saya melihat beliau ini sangat concern dengan pariwisata,” kata Didien dengan topi bulat khas yang selalu dia kenakan.

Bahkan, sampai di akhir masa jabatannya pun, menurut Didien, semangat menjadikan Indonesia sebagai destinasi kelas dunia masih sangat tinggi ditunjukkan oleh Presiden Jokowi. Dia mengamati presiden yang dalam sebulan terakhir fokus kunjungan kerja ke beberapa destinasi. “Dari meninjau Bitung, Manado, Sulawesi Utara, sampai ke Labuan Bajo Komodo. Goa Batu Cermin pun beliau kunjungi,” ungkap Didien.

Joglosemar, Jogja Solo Semarang juga dirapatkan khusus, untuk menjadikan destinasi di kawasan segitiga pariwisata itu. Harapannya, devisa dari bisnis pariwisata segera meroket, sekaligus memberi benefit kepada masyarakat yang ada di sana. “Buat GIPI, kami beruntung punya presiden yang serius di pariwisata,” kata Didien.

Terakhir pada 15 Juli 2019, Presiden Jokowi lagi-lagi mengumpulkan para stakeholder di destinasi super prioritas ke istana Negara. Ada Gubernur Sumatera Utara, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur NTB, Gubernur NTT, Menteri Pariwisata, Kabekraf, untuk lebih cepat lagi membangun destinasinya. “Infrastruktur disupport besar-besaran, agar akses dan koneksi antar destinasi semakin kuat,” ungkapnya.

Didien yang menjadi saksi sejarah itu bahwa baru kali ini mendapatkan sosok pemimpin yang bersungguh-sungguh membangun industri pariwisata. “Tidak mudah lho, menciptakan sebuah destinasi kelas dunia! Apalagi masyarakat sudah punya ekspektasi yang sangat tinggi, ingin cepat-cepat punya kawasan seperti Nusa Dua Bali,” papar Didien.

“Saya masih ingat, untuk membuat Nusa Dunia seperti sekarang butuh waktu 20-30 tahun. Padahal itu di Pulau Bali, yang secara generic sudah ratusan tahun sudah punya tradisi dan budaya pariwisata yang kuat. Menciptakan Bali Baru itu, benar-benar harus super ekstra serius, dari alam, budaya, buatan, SDM-nya, masyarakatnya, pemerintahnya, semua harus satu visi satu tujuan,” ungkapnya.

Didien juga sering menggunakan istilah Penthelix Model, harus ada kekuatan bersama, spirit bersama, antara Academician, Business, Community, Government, Media. Kekompakan dan kesamaan visi dari mereka inilah yang akan membuat sebuah daerah itu bisa melompat lebih cepat. “Dari sisi Government, saya melihat sudah sangat cepat dan responsive,” jelas Didien.

“Kebetulan saya ikut dalam pertemuan dengan Presiden Joko Widodo beberapa lalu. Saat itu disampaikan mengenai pembangunan pariwisata. Beliau kaget karena ternyata untuk membangun Nusa Dua dibutuhkan waktu sampai 20-30 tahun. Dan menurut Presiden itu sangat lama,” kata Didien.

Didien menilai, kondisi itu terjadi lantaran pemerintahan sebelumnya tidak ada yang berani mengangkat pariwisata. Atau, pariwisata tidak menjadi prioritas. Baru pada era Joko Widodo, selama lima tahun berturut-turut menempatkan pariwisata sebagai sektor prioritas. Di lapangan, komitmen seperti ini sangat terasa semangatnya.

“Baru pada pemerintahan Joko Widodo juga ada penetapan 10 Destinasi Prioritas, atau 10 Bali Baru. Destinasi-destinasi top di Indonesia mulai digarap. Dan hasilnya sudah terlihat. Proses pembangunannya jauh lebih cepat dari Nusa Dua zaman dulu,” papar Didien.

Dia mencontohkan bagaimana kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, yang dibangun dengan sangat serius. Bahkan, targetnya pada tahun 2020 Mandalika akan memiliki sirkuit internasional untuk menggelar MotoGP. Ini luar biasa, menempatkan Indonesia satu level dengan negara-negara di dunia.

“Mandalika termasuk dalam 10 Destinasi Prioritas. Pembangunannya sangat gencar. Dan Mandalika akan memiliki sirkuit internasional yang akan menggelar MotoGP. Ini juga salah satu bukti. Bahkan tidak sampai 10 tahun jika dihitung dari penetapan sebagai destinasi prioritas,” paparnya.

Didien pun dengan tegas mendukung pernyataan Presiden Joko Widodo yang akan menggunakan orang-orang yang sigap dan memiliki terobosan. Karena pariwisata membutuhkan orang-orang seperti itu. “Baru kali ini juga pariwisata sukses menjahit industri di 3A, Atraksi Akses Amenitas, dengan cantik. Mengkolaborasi semua industri yang bersentuhan dengan pariwisata, dan kami salut,” ungkapnya.

Ditambahkannya, Presiden Joko Widodo adalah sosok yang punya political will jelas. Komitmen yang tegas, dan kemauan keras. “Dan semua diterjemahkan dengan baik oleh seorang Arief Yahya. Sebagai seorang Menteri Pariwisata, Arief Yahya selalu memiliki inovasi. Selalu memiliki terobosan. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Sebagai pengusaha, dia bersama teman-teman di GIPI juga ikut semangat, karena banyak terobosan baru, banyak teknologi digital, banyak melakukan deregulasi, yang menjadikan sektor ini semakin eksis. Di mana-mana orang memperbincangkan business opportunity dari pariwisata di daerahnya masing-masing. “Suasana ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” aku Didien.

Dalam setiap guyonan, Didien sering menyebut dirinya termasuk Generasi Yes, maksudnya “yesterday”. Tetapi dia tidak pernah menentang program digitalisasi yang diangkat Menteri Pariwisata Arief Yahya. Karena dunia memang cepat berubah, customers juga berubah, dan tidak mungkin resisten dengan perubahan zaman. “Kalau tidak cepat, kita akan kalah bersaing dengan negara-negara tetangga yang juga menggunakan teknologi digital,” pungkasnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini