nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Guru SD di Purwakarta Ini Ciptakan Bahan Bakar Alternatif dari Limbah Plastik

Mulyana, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 13:28 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 19 65 2080958 guru-sd-di-purwakarta-ini-ciptakan-bahan-bakar-alternatif-dari-limbah-plastik-o8U9z79q5a.jpg Foto: Guru SD Ciptakan Bahan Bakar dari Limbah Plastik (Mulyana/Okezone)

PURWAKARTA – Motekar, atau yang dalam bahasa Indonesia berarti kreatif dan inovatif, merupakan potensi diri yang sampai saat ini tidak banyak orang yang bisa menggalinya.

Padahal, ujung tombak sebuah kesuksesan itu, bisa diukur dari kreatifitasnya itu sendiri.

Biasanya, orang yang kreatif lebih cenderung memiliki jiwa enterpreneur dibandingkan dengan orang yang kurang motekar.

 Baca Juga: Semen Baturaja Sulap Limbah Beracun Jadi Bahan Bakar

Berbicara soal kreatifitas, jauh dari ingar bingar kehidupan kota, tepatnya di Kampung Cisalak, RT 05/03 Desa Karoya, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, ada seorang pria yang bisa di bilang sangat kreatif.

Akhmad Sudarna, begitulah orang di kampung itu biasa menyapa pria kelahiran 1977 itu.

 Guru SD Ciptakan Bahan Bakar

Kesehariannya, pria ini berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah dasar (SD) di kecamatan tersebut. Tapi siapa sangka, karena kreatifitasnya, Akhmad berhasil membuat alat khusus yang bisa menyulap tumpukan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak alternatif.

Saat ditemui Okezone di kediamannya, Akhmad lantas menceritakan asal muasal alat ciptaanya itu. Ide kreatifnya ini, muncul dari kegelisahannya saat melihat sampah plastik yang berceceran di sawah, kebun dan sungai. Hal ini juga yang mendorong dirinya ingin bereksperimen supaya sampah plastik ini bisa bermanfaat.

 Baca Juga: Mahasiswa Indonesia Juara Dunia Teknologi Mobil Berbahan Bakar Sampah Plastik

Awal 2014 lalu, menjadi awal dirinya bereksperimen dengan alat ciptaanya ini. Tak banyak bahan yang diperlukan Akhmad untuk membuat karyanya ini. Hanya bermodalkan kaleng bekas makanan ringan dan pipa besi. Bahan-bahan tersebut kemudian dirakit sedemikian rupa. Setelah itu, dia siapkan bahan pendukung lain seperti kayu bakar dan tungku untuk proses pembakaran.

“Proses pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar ini disebut Pyrolysis. Pyrolysis adalah proses penguraian thermokimia pada suhu tinggi tanpa adanya oksigen,” ujar Ayah dua anak itu.

Adapun proses pengolahan Pyrolysis ini, sebut dia, yakni dengan cara memanaskan sampah plastik pada suhu sekitar 300-400 derajat Celcius. Dalam proses ini, limbah plastik tersebut akan berubah fase menjadi gas. Setelah itu, akan terjadi proses perengkahan (cracking).

Kemudian, lanjut dia, gas yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik ini dikondensasikan. Sehingga, nantinya gas tersebut menjadi cair. Hasil kondensasi inilah yang nantinya bisa digunakan sebagai bahan bakar yang secara komposisi setara dengan bensin dan solar.

“Bahan bakar dari sampah ini akan keluar dari pipa yang sudah tersambung dengan kaleng yang dipanaskan. Kalau dilihat, prosesnya mirip penyulingan,” jelas dia.

Dia menambahkan, alat untuk membuat daur ulang sampah plastik menjadi BBM ini rata-rata dibuat dengan daya tampung lima kilogram sampah plastik. Sedangkan, untuk satu kilogram sampah plastik yang dikondensasikan bisa menghasilkan tidak kurang dari satu liter bahan bakar cair aternatif.

“Itu untuk jenis sampah plastik padat atau kemasan. Misalnya, bekas air mineral. Beda dengan sampah kantong plastik, sampah plastik jenis ini hanya menghasilkan bahan bakar alternatif sedikit untuk ukuran yang sama,” tambah dia.

Selain menghasilkan bahan bakar cair, tambah dia, ampas dari sisa sampah plastik hasil pembakaran ini juga bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar lain. Misalnya, briket. Briket ini bisa menjadi bahan bakar menyerupai lilin. Satu briket ini ukuran 7 cm dan bisa bertahan hingga 8 jam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini