Sampah Batu Bara yang Menumpuk di Pantai Balikpapan Sudah Lama Mengendap di Laut

Amir Sarifudin , Okezone · Selasa 23 Juli 2019 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 23 340 2082506 sampah-batu-bara-yang-menumpuk-di-pantai-balikpapan-sudah-lama-mengendap-di-laut-Kjiv78JsnR.jpg Sampah batubara cemari pantai Balikpapan (Foto: Amir/Okezone)

BALIKPAPAN - Tumpukan sampah di pantai belakang Asrama Segara, Kelurahan Klandasan Ilir, Balikpapan dipastikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) adalah batu bara. Hal ini setelah pihaknya melakukan pemeriksaan bersama Sucofindo terhadap sejumlah sampel yang diambil.

Kepala DLH Balikpapan, Suryanto mengatakan bongkahan berwarna hitam yang berserakan di sepanjang pesisir pantai kawasan Pasar Baru ini memang batu bara. Namun hasil pemeriksaan sementara jenis batu bara tersebut terbagi dua macam, yakni batu bara yang masih baru dan yang lama.

Sebab dari sampel yang diambil terdapat sejumlah batu bara yang berlubang dan ditumbuhi karang. Jenis batu bara tersebut tentu telah lama berada di laut sehingga biota laut membuat lubang sebagai rumah mereka.

Sampah Batu Bara

Berbeda dengan sampel yang satu lagi yakni bentuk fisik pecahan batu baranya masih tajam dan terlihat lebih cerah. Jenis tersebut masih terbilang baru lantaran belum lama tergerus air laut sehingga bentuk fisik batu bara murni masih terlihat jelas.

"Tanda-tandanya kalau yang lama itu ada kerang yang membuat rumah, lalu ada lubang-lubang yang dibuat binatang lain untuk tempat dia membuat rumah. Nah kalau yang baru itu biasanya masih lancip permukaan batunya karena belum tergulung-gulung dilaut sehingga dia masih bagus bentuknya. Nah artinya proses panjang batu bara ini kan sudah agak lama," jelasnya.

Baca Juga: Sampah Batubara Berserak dan Menumpuk di Pesisir Pantai Balikpapan

Terbaginya jenis batu bara yang lama dan yang baru membuat Suryanto menyimpulkan bahwa sampah batu bara ini kuat dugaan masih banyak di dalam laut hanya saja belum terseret ke pinggir pantai. Pihaknya belum bisa melakukan penelusuran lantaran masih harus memeriksa disepanjang pantai lainnya.

"Ya tidak menutup kemungkinan di bawah laut itu masih banyak sampah batu bara, tapi belum keseret aja dia. Kami kan hanya lihat yang sudah di pinggir pantai saja," tutur Suryanto.

Sampah Batu Bara

Sampah batu bara ini diduga berasal dari aktivitas kapal tongkang yang memang memuat batu bara di perairan Teluk Balikpapan. Di mana Suryanto menduga bongkahan batu bara yang berada di kapal tongkang ini terjatuh dalam skala yang cukup sering.

Namun juga kuat kemungkinan sampah batu bara disebabkan oleh bongkar muat dari kapal satu ke kapal lainnya di kawasan Perairan Manggar. Sebab sebelumnya nelayan Manggar mengeluhkan aktivitas bongkar muat tersebut lantaran bongkahan batu baranya kerap terjatuh ke laut dan merusak daerah tangkapan mereka.

"Kami tidak tahu asalnya, pastinya ya dari pengangkutan mungkin ada yang jatuh atau pas ship to ship terus terlempar ke laut seperti yang kemarin sempat diributkan. Sehingga solusinya ya hati-hati ketika melakukan pengangkutan," ujarnya.

Meski begitu, Suryanto mengatakan sampah batu bara tersebut tidak begitu membahayakan ekosistem dibawah laut. Sebab dari hasil analisanya, batu bara itu sendiri berbahan dasar organik alias dari fosil kayu yang mengendap didalam tanah. Sehingga ketika tenggelam dilaut justru dapat dijadikan sebagai rumah bagi biota laut. Seperti yang sampel yang diambilnya, dimana beberapa batu bara terdapat lubang buatan biota laut seperti kepiting dan lainnya.

"Nah dampak terhadap perairan ketika dia menyebar memang tidak masalah, karena kan bahan dasar batu bara ini adalah organik. Makanya binatang yang masuk kedalam sini nggak masalah karena bahannya organik. Tapi kalau dia menumpuk banyak dan mengkontaminasi di air memang dampaknya bahaya," ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut pihaknya telah membuat surat yang akan dikirim ke Gubernur Kaltim serta Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Kaltim, guna untuk memberikan pengawasan dan pengarahan kepada pelaku usaha transportasi bongkar muat batu bara di perairan Balikpapan. Surat tersebut juga diteruskan kepada Danlanal Balikpapan serta KSOP untuk bersama-sama mengawasi aktivitas di perairan terhadap bongkar muat batu bara ini.

"Nah menyadari hal ini kami akan membuat surat ke Gubernur atau mungkin Pak Sekda membuat surat ke Distamben Provinsi agar mengarahkan perusahaan yang bongkar muat atau ship to ship batu bara di wilayah perairan laut ini diarahkan sesuai teknisnya dalam mengolah batu bara supaya jangan sampai ada yang tertumpah dilaut," terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini