nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Maraknya Kos 'Las Vegas' di Kota Pendidikan

Selasa 23 Juli 2019 15:58 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 23 65 2082560 fenomena-maraknya-kos-las-vegas-di-kota-pendidikan-tQyZA0Rfc1.jpg Kos-Kosan Ilustrasi: Shutterstock

YOGYAKARTA - "Ada kamar LV alias Las Vegas?" pertanyaan itu hampir semua pernah dialami oleh owner atau pemilik kos maupun kontrakan. Pengalaman itu diceritakan para pemilik kos saat Gathering Komunitas Owner Kos Jogja di Kafe Cangkir 6, Bintaran Yogya, Sabtu 20 Juli 2019. Pertemuan itu diikuti sekitar 30 pemilik kos tersebar di Kota Yogya, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

Zoel, admin Info Kos Jogja (IKJ) mengungkapkan, istilah LV khususnya dunia kos atau kontrakan di Yogya, muncul tahun 2013. Dari tahun ke tahun sampai saat ini semakin masif dalam pencarian Info Kos Jogja di group Facebook.

Baca Juga: Guru SD di Purwakarta Ini Ciptakan Bahan Bakar Alternatif dari Limbah Plastik

Setelah ditelusuri, yang dimaksud kos LV yaitu kos dengan aturan bebas 24 jam, bebas bawa pasangan, bebas dari segala aturan yang menghalangi unsur kebebasan penyewa kamar.

"Istilah Las Vegas kemudian sangat populer dan digunakan pula sampai hari ini dalam pencarian kos hingga wilayah Solo dan Surabaya," kata Zoel, dikutip dari KR Jogja, Selasa (23/7/2019).

Baca Juga: Pesan Khusus Menhan ke Siswa Baru Taruna Nusantara

Admin Info Kos Jogja, Solo dan Surabaya. Khusus Info Kos Jogja memiliki anggota 60.000 orang lebih.

Diakui Zoel, melihat realitas tersebut dirinya membuat daftar istilah yang kemudian dipahami dan dijadikan referensi acuan anggota group. Di antaranya membedakan istilah pencarian kos LV dan Kos Bebas. Kos LV adalah kos perilaku penyewa kamar serba bebas. Sedangkan Kos Bebas yang dimaksud adalah terkait jam malam, bawa kunci gerbang sendiri.

"Meski harus diakui pemahaman masyarakat, istilah LV dan Kos Bebas masih campur aduk," katanya.

Dalam khasanah dunia kos sangat dikenal, beda istilah, beda aturan dan beda tarif. "Harus diakui, permintaan terhadap kos LV sangat mendominasi sampai saat ini. Ini tanda-tanda apa, menarik kalau diteliti dan dikaji," tandasnya.

Khususnya Komunitas Owner Kos Jogja sudah sepakat, tidak memberi toleransi Kos LV. "Kami Komunitas Owner Kos Jogja pilih jalan lurus, jalan yang baik-baik saja," tuturnya.

Padahal kalau sekadar cari uang, tidak mengingat etika sosial, moralitas agama, bisnis Kos LV itu sungguh sangat menggiurkan. "Tarif tinggi tanpa ditawar penyewa. Sudah menjadi rahasia umum, di kalangan anak kos bahwa Kos LV harganya lebih mahal di banding kos biasa," ujarnya.

Pada pertemuan itu, pemilik kos dr Ade berpendapat, munculnya Kos LV di DIY, apakah pertanda terjadinya degradasi moralitas? 'Itulah yang menjadi perhatian bersama di Yogyakarta yang mendapat julukan kota pendidikan. Munculnya Kos LV menjadi kekhawatiran dan kecemasan orangtua yang punya anak kuliah atau sekolah di Yogya," tuturnya.

Untuk itulah, Komunitas Owner Kos Jogja sudah mengajak bersama-sama masyarakat, tetap memegang teguh tata nilai, moralitas, sosial, budaya dan agama. Meski sikap itu juga mendapat tantangan, adanya jam bertamu/berkunjung, menginap harus memberi tahu pemilik, menginap lapor RT sering dianggap sesuatu yang kuno. Dianggapnya ketinggakan zaman, mengekang kebebasan dan tidak gaul atau modern lagi.

"Kami ingin mencari rezeki yang berkah," tambah Dasa, pemilik kos di Kali Mambu, Wirogunan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini