nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengupas Peristiwa Gempa di Selat Sunda, Para Pakar Duduk Bareng di ITB

Delia Citra, Jurnalis · Jum'at 23 Agustus 2019 10:47 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 23 65 2095600 mengupas-peristiwa-gempa-di-selat-sunda-para-pakar-duduk-bareng-di-itb-JR2N3gYTJQ.jpg Mengupas Peristiwa Gempa 2 Agustus di Selat Sunda (Foto: @Irfan Ibrahim)

JAKARTA - Gempa yang terjadi pada awal Agustus, membuat Pusat Unggulan Iptek Sains dan Teknologi Kegempaan (PUI-STG) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung mengadakan Diskusi Terbuka Kejadian Gempa 2 Agustus 2019 di Selat Sunda dan Implikasinya.

Baca Juga: Cerita Mahasiswa Palestina Kuliah S2 di ITB, Apa Cita-citanya?

Diskusi tersebut diisi oleh para pakar yang relevan sesuai tema tersebut yakni Pakar Seismologi Dr. Andri Dian Nugraha, Dr. Irwan Meilano selaku Pakar Geodesi Gempa Bumi, Dr. Astyka Pamumpuni, Pakar Geologi Gempa Bumi, Dr. Zulfakriza selaku Pakar Geofisika Gempa Bumi, dan Aria Mariany, M.T. selaku Peneliti PPMB-ITB. Tidak hanya dihadiri oleh para pakar saja, tetapi kegiatan ini dihadiri juga oleh berbagai kalangan di Kota Bandung, akademisi ataupun para pejabat pemerintahan.

Masih Trauma, Sebagian Korban Gempa Sigi Pilih Bertahan di Pengungsian

Pakar Seismologi Dr. Andri Dian Nugraha menjelaskan, gempa yang terjadi pada tanggal 2 Agustus 2019 lalu di Selat Sunda merupakan gempa tektonik, yakni akibat pergeseran lempeng pada zona subduksi. Gempa dengan Magnitudo 6,9 sebenarnya terbilang cukup rendah dibandingan potensi maksimal gempa di area tersebut.

Baca Juga: Made Adi, Wisudawan ITB Pemegang Hak Paten di Bidang Sistem Jaringan Internet

“Pada area subduksi tersebut, memiliki potensi gempa hingga mencapai Magnitudo 8.7,” ujarnya, dilansir dari akun resmi ITB, Jumat (23/8/2019).

Pada kesempatan yang sama Pakar Geologi Gempa Bumi, Dr. Zulfakriza mengatakan, dari gempa-gempa yang terjadi tersebut menunjukkan pola yang sama di mana gempa tersebut terjadi pada zona kontak antar lempeng pada area subduksi tersebut. Namun gempa 2 Agustus 2019 di Banten ini merupakan gempa jenis intraslab di mana pusat gempa terjadi pada kerak samudera yang menunjam ke bawah kerak benua.

Gempa Banten

“Itu tidak terjadi kontak langsung antar keduanya,” tuturnya.

Selanjutnya, Pakar Geodesi Gempa Bumi, Dr. Astyka Pamumpuni menerangkan, dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya gempa. Faktor pertama berupa intensitas guncangan gempa yang dipengaruhi beberapa variable seperti magnitude, kedalaman, jarak lokasi terkait dari sumber, serta jenis batuan. Kedua, adalah kualitas bangunan yang ada di lokasi terkait.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini