Jadi ada proximitas, unsur kedekatan dengan masyarakat. Sehingga orang itu lebih gampang membayangkan ketika saat KKN dulu. Dimana lokasi KKN yang sepi dan belum dikenal sebelumnya.
"Bisa dipahami ngerinya, dan namanya orang baru penuh dengan ketidakpastian. Ini dari segi pembaca. Sedangkan dari segi tokoh-tokoh lebih simple, tidak hanya KKN desa penari. Itu lebih ke sesuatu yang mistis," ungkapnya.
Dimana ada unsur menyembah sesuatu yang tidak seharusnya disembah (syirik), tidak hanya menghormati. Dirinya melihat dari teori Froit bahwa manusia dalam dekomentasi mental itu akan kembali pada tiga hal, yang merupakan naluri primitif yakni seks, spritual dan agresifitas.
"Kita akan kembali pada tiga itu. Ini kita ngomong pada masalah tokohnya dan simpleman secara keseluruhan. Ini yang dicari spiritual. Salah satu cara mencari spiritual ini dengan kultus menyembah sesuatu yang seharusnya tidak disembah. Dalam islam syirik ini dosa besar," urainya.

Dalam cerita mahasiswa yang bernama Bima dan Ayu meninggal. Dimana keduanya digambarkan seorang yang religius. Disinggung mahasiswa yang mengalami kejadian mistis apa karena berhalusinasi? Damba menyebutkan memang ada gangguan jiwa yang massal.
Namun jika dilihat dari cara penceritaan akun Simpleman, apalagi sampai ada yang meninggal dan seluruh desa sudah percaya, serta ada ritual sebelumnya, jadi tidak bisa dibilang sebagai gangguan mental. Dalam cerita Si Nur juga disebutkan bisa melihat hal yang gaib sebelumnya, tidak ujuk-ujuk bisa melihat saat itu.
"Jika ujuk-ujuk bisa dikatakan halusinasi. Biasanya anak SMP atau SMA pas pengumuman unas tiba-tiba kesurupan massal, itu bisa dikatakan halusinasi. Tapi dalam cerita ini beda, karena memang ada ritual, dibawa ke dukun dan kuburannya diselubung kain hitam. Kalau sudah ada ritual mau tidak mau kita harus percaya karena itu hal-hal metafisika dan hal-hal gaib itu memang nyata. Dokumentasi mental dari psikologi, kalau sisi pembaca kedekatan," tandasnya.