nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rp1,4 Triliun Tak Cukup untuk Danai 24.000 Proposal Penelitian di RI

Bramantyo, Jurnalis · Senin 09 September 2019 15:31 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 09 65 2102488 rp1-4-triliun-tak-cukup-untuk-danai-24-000-proposal-penelitian-di-ri-Vvb8b8gYn4.jpg Dana Riset untuk Perguruan Tinggi Dinilai Minim. (Foto: Okezone.com)

SOLO - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengakui dana riset yang diberikan pemerintah pada universitas sangat minim.

Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Ocky Karna Radjasa mengatakan kontribusi riset secara nasional hanya 0,25% per PDB dan itu paling rendah di Asean. Korea Selatan 4, 3%, Jepang 2,5 persen, Amerika 2 persen. Kemudian negara Jiran itu 1% (Malaysia).

Menurutnya, tidak mungkin anggaran yang hanya Rp1,4 triliun untuk satu tahun digunakan untuk mendanai riset untuk 297.000 dosen yang berada di 3.250 perguruan tinggi.

Baca Juga: Syarat Bila RI Ingin Produksi Mobil Listrik Sendiri

Misalnya saja di tahun ini, pihaknya menerima proposal penelitian ada 24.000 proposal. Dan kemungkinan yang bisa didanai hanya 6.000 proposal untuk pendanaan tahun 2020.

Untuk itulah pihaknya menggelar Workshop bekerja sama dengan Ristekdikti, LPDP, DIPI (dana ilmu pengetahuan Indonesia) bertema Peningkatan Kualitas Proposal Penelitian dalam Pengajuan Dana Penelitian Internasional.

Skripsi

"Itu menunjukkan dana riset sangat terbatas. Dan kita perlu bekerja sama dengan partner dari luar negeri, selain karena (mereka) punya peralatan yang jauh lebih lengkap dan bagus daripada kita. Dan tidak kalah penting punya networking atau link dengan jurnal jurnal yang bereputasi,"jelas Ocky pada Okezone usai Workshop di Solo, Senin (9/9/2019).

Menurut Ocky pihaknya mencatat kerja sama internasional tahun 2018 itu sekitar Rp 540 Miliar dana itu udah dibawa masuk oleh partner luar negeri.

Baca Juga: Menristek Nasir Beri Sanksi Mahasiswa yang Lakukan Kekerasan Ospek

Kemudian juga dari segi publikasi itu juga terjadi peningkatan kualitas dari jurnal yang tadinya level Q4 menjadi level Q2 atau Q1. Itu adalah dampak dari dari kerjasama itu.

"Tidak kalah penting juga akses rata-rata teman-teman bisa melakukan penelitian dengan hasil yang baik karena punya akses dengan patner luar negeri yang alatnya lebih lengkap," imbuhnya.

Dengan mendapatkan langsung detail dan tips yang akan diberikan oleh mereka yang sudah mendapatkan dana pihaknya berharap betul agar kualitas poropsal akan meningkat sehingga nanti kesempatan yang didanai akan semakin tinggi.

Sementara itu Sekretaris LPPM UNS, Samsul Hadi menambahkan UNS sendiri, meski dana terbatas tetap mendorong para peneliti (UNS) untuk berani membuat kolaborasi internasional. Dengan banyaknya skema-skema bantuan dari DRPM nanti.

Kami sudah mulia mendata (maping) hasil-hasil penelitian nanti akan kita coba arahkan peneliti-peneliti itu untuk mengambil skema-skema yang ada di prioritas riset nasional.

"Nanti kita arahkan pendanaan ke sana," jelasnya.

Pihaknya juga berharap para peneliti dari UNS juga proaktif, nantinya mereka yang sudah mumpuni yang ada di beberapa fakultas yang indeks kinerjanya bagus kita arahkan untuk ke kerja sama dengan luar negeri. Masuk riset-riset yang sesuai dengan tema.

"Dan untuk yang belum itu nanti akan kita arahkan untuk penelitian internal kita sendiri. Karena UNS juga ada dana untuk penelitian internal," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini