nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sistem Pertahanan Udara Arab Saudi Tak Berdaya Hadapi Serangan Drone

Rahman Asmardika, Jurnalis · Rabu 18 September 2019 12:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 09 18 18 2106296 sistem-pertahanan-udara-arab-saudi-tak-berdaya-hadapi-serangan-drone-0wRNjFYoQz.jpg Foto: Reuters.

RIYADH – Miliaran dolar yang dihabiskan Arab Saudi untuk memperoleh sistem pertahanan modern yang didesain guna menangkal serangan dari ketinggian tinggi terbukti tidak berdaya menghadapi drone dan rudal jelajah, seperti yang terjadi dalam serangan terhadap dua fasilitas minyaknya.

Serangan pada Sabtu yang mengurangi separuh produksi minyak telah mengungkapkan betapa tidak siapnya Arab Saudi untuk mempertahankan diri. Serangan itu terjadi meskipun telah ada serangan berulang-ulang terhadap aset vital kerajaan selama empat setengah tahun keterlibatannya dalam perang di Yaman.

BACA JUGA: Houthi Serang Fasilitas Minyak Saudi, Lumpuhkan Sebagian Pasokan Dunia

Pada Selasa, seorang pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa Washington yakin serangan itu berasal dari sebelah barat daya Iran. Sementara tiga pejabat AS mengatakan serangan itu melibatkan rudal jelajah dan drone.

Iran telah membantah tuduhan AS yang menyatakan Teheran berada di balik serangan itu. Iran mengatakan bahwa kelompok Houthi yang berperang melawan Arab Saudi di Yaman-lah yang bertanggungjawab, sementara kelompok Houthi telah mengklaim melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak Saudi.

Foto: Reuters

Kelompok think tank CSIS mengatakan bahwa Iran, yang merupakan rival kawasan Arab Saudi memiliki kapabilitas rudal balistik dan jelajah yang dapat membuat pertahanan Arab Saudi kewalahan. Namun, ternyata serangan dalam skala yang lebih kecil dan terbatas pun tidak mampu ditangkal oleh sistem pertahanan Arab Saudi.

“Kami terbuka (dari serangan). Setiap fasilitas nyata tidak memiliki jangkauan nyata,” kata sumber keamanan Saudi sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (18/9/2019).

Serangan 14 September terhadap dua pabrik milik raksasa minyak negara Saudi, Aramco adalah yang terburuk di fasilitas minyak regional sejak Saddam Hussein membakar sumur minyak Kuwait selama krisis Teluk 1990-91.

Perusahaan itu pada Selasa mengatakan bahwa produksi akan kembali normal lebih cepat daripada yang dikhawatirkan pada awalnya, tetapi serangan itu telah mempengaruhi pasar minyak dunia.

"Serangan itu seperti 11 September untuk Arab Saudi, (serangan) itu adalah pengubah permainan," kata seorang analis keamanan Saudi yang menolak disebutkan namanya.

BACA JUGA: "Locked and Loaded", Trump Nyatakan AS Siap Respons Serangan Fasilitas Minyak Saudi

“Di mana sistem pertahanan udara dan persenjataan AS yang kami habiskan miliaran dolar untuk melindungi kerajaan dan fasilitas minyaknya? Jika mereka melakukan ini dengan presisi seperti itu, mereka juga dapat mengenai pabrik desalinasi dan lebih banyak target.”

Arab Saudi telah lama menggunakan sistem pertahanan udara Patriot buatan AS untuk mempertahankan kota-kota besar dan instalasinya.

Sistem itu telah berhasil mencegat rudal balistik ketinggian tinggi yang ditembakkan oleh Houthi ke kota-kota Saudi, termasuk Ibu Kota Riyadh, sejak koalisi yang dipimpin Saudi melakukan intervensi di Yaman terhadap kelompok itu pada Maret 2015.

Tetapi karena drone dan rudal jelajah terbang lebih lambat di ketinggian yang lebih rendah, mereka sulit dideteksi oleh Patriot dengan waktu yang cukup untuk mencegatnya.

"Drone adalah tantangan besar bagi Arab Saudi karena mereka sering terbang di bawah radar dan karena perbatasan panjang dengan Yaman dan Irak, kerajaan sangat rentan," kata seorang pejabat senior koalisi Teluk.

BACA JUGA: Pasca Serangan Drone, Putin Tawarkan Sistem Pertahanan Rudal Rusia ke Saudi

Seorang sumber Teluk yang akrab dengan operasi Aramco mengatakan sistem keamanan yang ada di Abqaiq tidak sempurna untuk menghadapi pesawat tanpa awak. Pihak berwenang sedang menyelidiki apakah radar mengambil drone yang melakukan pada dini hari.

Ditanya mengapa pertahanan Saudi tidak mencegat serangan itu, Juru Bicara Koalisi Kolonel Turki al-Malki mengatakan kepada wartawan: "Lebih dari 230 rudal balistik dicegat oleh pasukan koalisi ... kami memiliki kapasitas operasional untuk melawan semua ancaman dan melindungi keamanan nasional Arab Saudi. "

Kantor media pemerintah tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Sumber keamanan Saudi dan dua sumber industri mengatakan Riyadh telah menyadari ancaman drone selama beberapa tahun terakhir dan telah berdiskusi dengan konsultan dan vendor untuk kemungkinan solusi tetapi belum menginstal sistem pertahanan baru.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini