Share

Simulasi Ungkap Perang Nuklir AS-Rusia Lenyapkan 34 Juta Nyawa dalam Waktu Singkat

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 18 September 2019 13:27 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 18 18 2106317 simulasi-ungkap-perang-nuklir-as-rusia-lenyapkan-34-juta-nyawa-dalam-waktu-singkat-2AwNnJ71wU.jpg Foto: Princeton.

NEW JERSEY - Sebuah simulasi mengerikan mengungkap kemungkinan yang dapat terjadi jika pecah perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Rusia.

Dilaporkan The Sun, video dari simulasi itu memperlihatkan bagaimana hujan bom nuklir akan terjadi di bumi di tengah konflik dua negara kekuatan dunia itu, diperkirakan menewaskan 34 juta orang hanya dalam waktu kurang dari 24 jam. Sebagian besar korban akan tewas dalam 45 menit pertama.

BACA JUGA: Rusia Resmi Bekukan Perjanjian Senjata Nuklir dengan AS

Simulasi dari Universitas Princeton, New Jersey itu juga memprediksi 60 juta orang akan menderita luka-luka akibat ledakan. Para ahli dari universitas mengatakan jumlah korban jiwa nantinya akan melonjak tajam karena curahan radioaktif dan efek bom nuklir jangka panjang lainnya.

Rusia dan NATO saling serang dengan melibatkan 480 hulu ledak nuklir.

"Proyek ini dimotivasi oleh perlunya untuk menyoroti konsekuensi potensi bencana dari rencana perang AS dan Rusia saat ini," demikian disampaikan dalam blog resmi Princeton sebagaimana dilansir dari News.com.au.

"Risiko perang nuklir telah meningkat secara dramatis dalam dua tahun terakhir karena Amerika Serikat dan Rusia telah meninggalkan perjanjian kontrol senjata nuklir yang sudah lama ada."

Simulasi berdurasi empat menit, berjudul "Plan A", menggambarkan bagaimana konflik antara Amerika Serikat dan Rusia dapat meningkat dari perang konvensional menjadi konflik nuklir habis-habisan. Simulasi itu didasarkan pada penilaian independen AS dan jumlah pasukan Rusia saat ini, target senjata nuklir, dan perkiraan jumlah korban jiwa.

Rusia (garis merah) dan NATO saling berbalas tembakan rudal nuklir.

Perang dimulai ketika Rusia meluncurkan tembakan peringatan nuklir dari pangkalan dekat kota Kaliningrad dalam upaya untuk menghentikan gerak maju pasukan AS-NATO di seluruh Eropa barat.

Pertempuran dengan cepat meningkat menjadi perang nuklir taktis di Eropa, dengan Rusia dan pasukan NATO bertukar 480 hulu ledak nuklir melalui pesawat dalam pertempuran mengerikan di langit. Jumlah korban (yang berarti kematian dan cedera) mencapai 2,6 juta dalam waktu tiga jam.

Dengan Eropa dihancurkan, NATO menembakkan 600 hulu ledak dari daratan dan pangkalan kapal selam AS yang ditujukan untuk pasukan nuklir Rusia.

Rusia membalas dengan meluncurkan rudal dari silo dan kapal selam. Pertukaran ini menyebabkan 3,4 juta korban dalam 45 menit selanjutnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Dengan tujuan mencegah pihak lawan memulihkan diri, Rusia dan NATO masing-masing melenyapkan 30 kota terpadat di pihak lawannya dengan menggunakan lima hingga sepuluh hulu ledak di setiap kota. Langkah itu menyebabkan lebih dari 85,3 juta korban dalam 45 menit berikutnya.

BACA JUGA: Putin: Rusia Akan Kembangkan Rudal jika AS Melakukan Hal yang Sama

"(Simulasi) menggunakan set data ekstensif senjata nuklir yang saat ini digunakan, hasil senjata, dan target yang mungkin untuk senjata tertentu," membaca posting blog. Simulasi itu memperkirakan sekira 91,5 juta korban di seluruh konflik, yang termasuk 31,4 juta kematian, dan 57,4 juta cedera.

Kedua belah pihak berusaha melenyapkan 30 kota terpadat lawannya dengan menggunakan lima sampai 10 hulu ledak nuklir.

"Ini menunjukkan evolusi konflik nuklir dari taktis, ke fase strategis ke penargetan kota."

Menurut pimpinan institut perlucutan senjata PBB, dunia saat ini telah semakin dekat pada terjadinya sebuah perang nuklir dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Direktur Institut PBB untuk Penelitian Perlucutan Senjata, Renata Dwan pada Mei memperingatkan bahwa semua negara dengan kapabilitas nuklir melakukan modernisasi senjata mereka, meningkatkan ancaman kiamat akibat perang nuklir.

Dia mengatakan, penting untuk "menyadari bahwa risiko perang nuklir sangat tinggi sekarang, dan risiko penggunaan senjata nuklir, sekarang lebih tinggi daripada kapan pun sejak Perang Dunia Kedua".

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini