nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Taliban: Pintu Kami Terbuka untuk Pembicaraan Damai dengan AS

Rahman Asmardika, Jurnalis · Rabu 18 September 2019 17:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 18 18 2106442 taliban-pintu-kami-terbuka-untuk-pembicaraan-damai-dengan-as-SKSQpjoY8H.jpg Foto: Reuters.

DOHA – Taliban mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) bahwa “pintu mereka terbuka” jika Washington ingin melanjutkan pembicaraan damai di masa mendatang. Hal itu disampaikan pimpinan tim negosiator Taliban Sher Mohammad Abbas Stanikzai dalam sebuah wawancara.

Stanikzai menekankan bahwa negosiasi tetap menjadi “jalan satu-satunya untuk perdamaian di Afghanistan”, sepekan setelah Trump mengumumkan proses negosiasi antara kedua belah pihak telah “mati”.

BACA JUGA: Pembicaraan Damai Dibatalkan, Taliban: Akan Lebih Banyak Pasukan AS yang Tewas

Awal bulan ini, kedua belah pihak tampak mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 18 tahun di Afghanistan. Trump bahkan telah mengundang para pemimpin senior Taliban dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk bertemu di Camp David, Maryland, AS pada 8 September.

Namun, serangan Taliban di Ibu Kota Afghanistan Kabul pada 6 September, yang menewaskan seorang tentara AS dan 11 lainnya, membuat Trump membatalkan pembicaraan. Dia mengatakan Taliban "mungkin tidak memiliki kekuatan untuk bernegosiasi" jika tidak dapat menyetujui gencatan senjata selama pembicaraan.

Pada Selasa malam, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan Taliban baru-baru ini, dengan mengatakan kelompok itu "harus mulai menunjukkan komitmen tulus terhadap perdamaian".

Stanikzai menepis kekhawatiran Amerika, mengatakan kepada BBC bahwa Taliban tidak melakukan kesalahan.

"Mereka (AS) membunuh ribuan Taliban menurut mereka," kata Stanikzai kepada kepala koresponden internasional BBC, Lyse Doucet. "Tetapi sementara itu, jika satu tentara (AS) terbunuh itu tidak berarti mereka harus menunjukkan reaksi tersebut karena tidak ada gencatan senjata dari kedua belah pihak."

"Dari pihak kami, pintu kami terbuka untuk negosiasi," tambahnya. "Jadi kami berharap pihak lain juga memikirkan kembali keputusan mereka mengenai negosiasi."

Taliban, yang kini mengendalikan lebih banyak wilayah daripada sejak saat pasukan pimpinan AS menggulingkan mereka pada 2001, tidak mengakui legitimasi pemerintahan Presiden Ashraf Ghani. Mereka menolak untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan pemerintah Afghanistan sampai kesepakatan AS disepakati.

Stanikzai mengatakan pembicaraan intra-Afghanistan akan dimulai pada 23 September, jika kesepakatan tercapai, dan akan termasuk diskusi tentang gencatan senjata yang lebih luas.

Dia juga membenarkan bahwa Taliban telah mendekati Rusia dan China untuk meminta bantuan dalam negosiasi perdamaian.

Sementara itu penasihat keamanan nasional Afghanistan mengatakan bahwa "taktik intimidasi" Taliban tidak akan berhasil.

BACA JUGA: Capai Kesepakatan dengan Taliban, AS Akan Tarik 5.400 Pasukannya dari Afghanistan

"Satu-satunya cara mereka dapat melihat perdamaian di Afghanistan adalah dengan bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan," kata Dr. Hamdullah Mohibt kepada BBC.

Dia menambahkan: "Diskusi terbuka dengan tetangga kami, dengan mereka yang mensponsori dan mendukung Taliban, yang harus ada di depan diskusi kami, bukan di belakangnya."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini