nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Orasi Ilmiah Deputi IV Kemenko PMK di Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-64 FEB UGM

Fakhri Rezy, Jurnalis · Kamis 19 September 2019 19:47 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 09 19 65 2106985 orasi-ilmiah-deputi-iv-kemenko-pmk-di-rapat-senat-terbuka-dies-natalis-ke-64-feb-ugm-6wegagTxwc.jpg Alumni UGM Agus Sartono (Foto: Dok UGM)

Pendekatan kedua menggunakan pembanding perusahaan sejenis. Hanya saja kesulitan yang sering muncul adalah bagi bisnis digital, start up maupun fintech sulit dicari perusahaan pembanding. Pendekatan lain yakni menggunakan option pricing model. Karena perusahaan pada prinsipnya dapat dipandang sebagai portfolio aset atau portfolio liabilities/equity. Dari perspektif investor ekuitas, nilai perusahaan dapat diukur dengan option pricing kodel. Nilai perusahaan dikatakan in the money jika lebih tinggi dari exercise price dan sebaliknya.

Terlepas dari model penilaian yang digunakan, Agus mengingatkan risiko dan potensi terjadinya buble. Selain itu Agus mewanti-wanti agar tidak terjadi money illusion, di mana perusahaan gagal menghasilkan free cash flow yang positif. Kegagalan tersebut dapat saja disebabkan karena bisnis digital tidak mampu melakukan monetisasi user ataupun pelanggarnya.

Agus juga mengingatkan potensi buble fintech terlebih yang sudah menjadi unicorn ataupun decacorn. Jika angle investor justru didominasi oleh asing, bisa jadi dengan mudah repatriasi laba keluar negeri dan berdampak buruk terhadap neraca pembayaran. Hal lain yang perlu diantisipasi adalah bahwa angle investor dapat dengan mudah keluar dari bisnis digital. Apabila bisnis digital tersebut menyangkut user atau masyarakat luas, dampak negatif akan sangat besar.

Mengakhiri orasi ilmiah, Agus sebagai Guru Besar Bidang Keuangan justru mengajukan pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut, "Masih relevankah materi pembelajaran selama ini? Masih tepatkan model discounted dalam corporate valuation?"

Meski potensi risiko bisnis digital, startup dan fintech sangat tinggi, Agus masih optimis bahwa buble yan pernah terjadi di negara lain masih belum tentu terjadi di Indonesia. Namun demikian perlu diwaspadai karena sewaktu-waktu dapat saja terjadi.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini