nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mbah Pani 10 Kali Kubur Diri, Polisi: Jika Terjadi Apa-Apa Tanggung Sendiri

Taufik Budi, Jurnalis · Jum'at 20 September 2019 08:17 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 20 512 2107115 mbah-pani-10-kali-kubur-diri-polisi-jika-terjadi-apa-apa-tanggung-sendiri-Ne2HGcIgJY.JPG Mbah Pani jalani ritual kubur diri atau topo pendem untuk ke-10 kalinya (Foto: Taufik Budi/Okezone)

PATI – Seorang warga Pati, Jawa Tengah menjalani ritual topo pendem atau mengubur diri dalam tanah selama lima hari. Ritual ini merupakan yang kesepuluh kalinya ia lakukan, setelah sembilan topo pendem sebelumnya berjalan sukses.

Pria tersebut bernama Supani (63) warga Desa Bendar RT 3/RW 1 Kecamatan Juwana, Pati. Dia mulai menjalani ritual sejak Senin 16 September 2019 selepas salat magrib. Ritual ini terakhir kali dilakukan Supani pada 2001 silam, yang tercatat sebagai topo pendem kesembilan.

Sebelumnya, pria yang akrab dengan panggilan Mbah Pani itu melakukan ritual topo pendem setahun sekali, pada bulan suro atau Muharram. Namun, setelah ritual topo pendem kesembilan, Mbah Pani sempat menderita stroke. Hingga ritual kesepuluh atau yang terakhir baru dilakukan 18 tahun berselang.

Ritual topo pendem awalnya dilaksanakan pada 1991, hingga yang ke sembilan pada 2001. Sembilan kali menjalani ritual, Mbah Pani dikubur selama tiga hari di dalam rumahnya. Pada ritual topo pendem kesepuluh ini merupakan yang terakhir akan dilakukan selama lima hari.

Prosesi topo pendem, mirip seperti penguburan jenazah. Mbah Pani juga dikafani, lengkap dengan pemulasaraan jenazah, termasuk beragam jenis bunga. Bedanya tidak ada azan dikumandangkan, agar tak sepenuhnya seperti pemakaman jenazah.

Untuk kedalaman liang kubur sekira 3 meter, dengan panjangnya 2 meter, dan lebar 1,5 meter. Di dalam liang lahat juga terdapat peti untuk tempat bertapa. Ada pula gelu atau bantal dari tanah yang dibentuk bulat. Terdapat pula lubang untuk sirkulasi udara.

Kapolres Pati, AKBP Jon Wesly Arianto, mengatakan, sebelum pelaksanaan ritual, pihaknya bersama Muspika telah menggelar pertemuan dengan Supani beserta keluarga. Dijelaskan, ritual yang akan dijalani sangat berbahaya terhadap keselamatan.

“Sebelum pelaksanaan kita sudah melakukan pertemuan dengan pihak keluarga dan yang bersangkutan, memberi masukan bahwa ini ritual ini membahayakan terhadap keselamatan yang bersangkutan,” kata Jon.

“Tapi keluarga dan yang bersangkutan mengatakan bahwa ritual ini sudah dilakukan sembilan kali dan tidak apa-apa. Segala risiko, akibat apa yang di dijalani dari ritual itu merupakan tanggung jawab dari yang bersangkutan dan keluarga,” tambah dia.

Polisi secara periodik juga melakukan pemantauan ke rumah Supani untuk mengetahui perkembangan terbaru. “Ya, tetap kita laksanakan patroli, itu kan tugas rutin kita. Untuk sementara belum ada laporan tentang kondisi di sana. Jadi, kondisi sampai saat ini masih aman,” lugas dia.

“Pada intinya kita sebagai aparat keamanan dan pemerintah daerah sudah mengingatkan kepada keluarga dan yang bersangkutan. Dan keluarga semua membuat pernyataan jika terjadi apa-apa itu tanggung jawab sendiri,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini