Boeing Beri Rp2 Miliar untuk Keluarga Korban Pesawat Jatuh 737 Max

Rachmat Fahzry, Okezone · Selasa 24 September 2019 10:28 WIB
https: img.okezone.com content 2019 09 24 18 2108545 boeing-beri-rp2-miliar-untuk-keluarga-korban-pesawat-jatuh-737-max-uF5oRT2tvc.jpg Keluarga korban tabur bunga di perairan Karawang lokasi jatuhnya pesawat Boeing 737 Max milik Lion Air. (Foto/Okezone/Arif Julianto)

WASHINGTON – Perusahaan pembuat pesawat terbang Boeing Co menawarkan pembayaran uang sebesar 144.450 dolar AS (sekitar Rp2 miliar) kepada masing-masing keluarga korban pesawat 737 max yang jatuh di Indonesia dan Ethiopia.

Pengelolaan dana tersebut diawasi oleh firma hukum Ken Feinberg dan Camille S Biros di Washington.

Pembayaran ini diambil dari dana bantuan keuangan senilai 50 juta dolar yang telah diumumkan pada Juli 2019.

Firma hukum di Washington itu akan segera mulai menerima klaim dari pihak keluarga korban.

Mengutip Reuters, Selasa (24/9/2019) meski pihak keluarga korban menerima pembayaran Rp2 miliar, bukan berarti hak mereka untuk menggugat ke Boeing telah gugur.

Baca juga: Boeing Akui Kesalahan Sistemnya Sebabkan Dua Kecelakaan Pesawat 737 MAX 8

Baca juga: FAA: Sebagian Boeing 737 Max Mungkin Gunakan Suku Cadang Cacat

Foto/IC

Pesawat Boeing jenis 737 Max telah ditarik dari operasi sejak Maret 2019 setelah jatuh di Ethiopia dan sebelumnya di Indonesia.

Dalam keterangannya kepada kantor berita Reuters pada Senin (23/9/2019), Ken Feinberg mengakui adanya tantangan dalam menemukan semua ahli waris yang berhak dan memastikan dana tersebut aman dan terjamin.

Keluarga korban dalam kedua kecelakaan tersebut tersebar di 35 negara.

Sementara itu CEO Boeing Dennis Muilenburg mengatakan pihaknya terus menyampaikan simpati terdalamnya kepada keluarga dan kerabat para korban.

"Pengalokasian dana ini merupakan langkah penting dalam upaya kami membantu keluarga yang terdampak," katanya.

Pada bulan Juli lalu Boeing mengumumkan akan menyiapkan dana 50 juta dolar AS untuk mendukung pendidikan dan pemberdayaan ekonomi di masyarakat yang terdampak.

Sejauh ini hampir 100 gugatan hukum telah diajukan terhadap Boeing oleh puluhan firma hukum yang mewakili keluarga korban kecelakaan Ethiopian Airlines.

Para penumpang pesawat tersebut berasal dari 35 negara yang berbeda, termasuk sembilan warga AS dan 19 warga Kanada.

Keluarga dari sekitar 60 korban Ethiopian Airlines lainnya belum mengajukan gugatan tapi pengacara tergugat juga mengantisipasi gugatan lainnya.

Sebagian besar gugatan ini tidak mengajukan besaran ganti rugi dengan nilai tertentu, meski ada satu firma hukum yang meminta ganti rugi lebih dari 1 miliar dolar AS.

Gugatan-gugatan tersebut menyatakan bahwa Boeing merancang sistem kontrol penerbangan otomatis yang cacat. Sistem ini diyakini telah berulangkali memaksa hidung pesawat menukik pada kedua kecelakaan tersebut.

Boeing menjelaskan pihaknya berusaha mendapatkan persetujuan agar bisa mengoperasikan kembali penerbangan pesawat itu pada kuartal keempat 2019.

Kepala Administrasi Penerbangan Federal AS Steve Dickson kepada Reuters menjelaskan belum jelas kapan Boeing akan bisa melakukan penerbangan uji sertifikasi.

Namun dia mengatakan badan ini harus menyetujui operasi pesawat itu satu bulan setelah penerbangan ujicoba, kecuali muncul hal-hal yang tidak terduga.

Kemarin, para penyelidik di Indonesia menemukan bahwa penyimpangan desain dan pengawasan berperan penting dalam kecelakaan Boeing 737 MAX pada Oktober 2018 yang menewaskan 189 orang.

Draft kesimpulan ini merupakan temuan resmi pertama versi pemerintah dan disetujui oleh peraturan AS mengenai kelemahan desain pesawat tersebut.

Temuan ini mengidentifikasi serangkaian kesalahan pilot dan kesalahan perawatan sebagai faktor penyebab kecelakaan Lion Air.

Kepala Komite Keselamatan Transportasi Indonesia Soerjanto Tjahjono belum bersedia memberikan penjelasan sebelum laporan akhir ini dirilis pada awal November.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini