nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ternyata Larva Lalat Tentara Hitam Solusi Sampah Organik

Rani Hardjanti, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 11:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 10 07 65 2113721 ternyata-larva-lalat-tentara-hitam-solusi-sampah-organik-E7KA8cp7bm.jpg Foto: Sampah plastik (Okezone)

JAKARTA - Sampah masih menjadi masalah. Akibat kegiatan konsumsi dan produksi yang tidak bertanggung jawab, Indonesia memasok sampah organik sebanyak 63% setiap tahun.

Guna mengurangi jumlah tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memperkenalkan alternatif pemanfaatan larva lalat untuk mengurangi jumlah sampah.

Potret Kemiskinan, Pemukiman Kumuh di Atas Rawa Sampah Plastik 

Bram Dortmans dalam konferensi yang diadakan Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan dan Kebumian ITS ini menyebutkan, mengurangi pemakaian, daur ulang, penimbunan dan pembakaran menjadi solusi permasalahan sampah di Indonesia. Terlebih, pembakaran masih menjadi pilihan utama dari masyarakat.

“Pembakaran bukanlah solusi, masih ada cara lain yang lebih baik, seperti melakukan daur ulang,” ujarnya, seperti dikutip dari laman ITS, Senin (7/10/2019).

Baca juga: Australia Akan Hentikan Ekspor Sampah Daur Ulang

Lebih lanjut, project manager dari Eidgenössische Anstalt für Wasserversorgung, Abwasserreinigung und Gewässerschutz (EAWAG) ini menyayangkan daur ulang sampah organik masih jarang dilakukan di daerah berpendapatan rendah dan menengah. “Padahal sampah organik menjadi kontributor terbesar dari sampah perkotaan,” tambah Bram.

Melalui proyek From Organic Waste to Recycling for Development (Forward) di wilayah Sidoarjo, ia menawarkan solusi untuk mengatasi peningkatan jumlah sampah. Caranya, dengan memanfaatkan sampah organik sebagai makanan larva lalat.

“Tak hanya mengurangi sampah, hal ini juga berguna untuk menghentikan penyebaran bakteri seperti Salmonella spp,” ujar alumni Swedish University of Agricultural Sciences ini.

Lanjutnya, Forward memanfaatkan siklus hidup alami jenis lalat tentara hitam dan iklim hangat di Indonesia yang cocok untuk pertumbuhannya. Makanan lalat sendiri dibuat dengan memotong kecil sampah organik yang sudah dikumpulkan. Selanjutnya, menyesuaikan kadar air hingga mencapai 70%. “Setelah itu, baru kita masukkan ke dalam kontainer diiringi larva lalat,” tambah pria yang mengambil fokus studi pembangunan berkelanjutan ini.

Potret Kemiskinan, Pemukiman Kumuh di Atas Rawa Sampah Plastik

Setelah 12 hari, larva lalat diambil, sehingga menyisakan residu dalam kontainer. Residu tersebut dapat dijadikan kompos maupun diproduksi menjadi biogas. Kemudian, larva yang baru dipanen diproses dengan bahan lain untuk membuat makanan ternak.

“Tujuan kami tidak sebatas mengatasi banyaknya sampah organik di Surabaya, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai jual,” tutur Bram Dortmans.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini