nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Beasiswa PMDSU, Kesempatan Meneliti dengan Ilmuwan Kelas Dunia

Fakhri Rezy, Jurnalis · Kamis 17 Oktober 2019 13:41 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 17 65 2118139 beasiswa-pmdsu-kesempatan-meneliti-dengan-ilmuwan-kelas-dunia-0ggCBJ0Quz.jpg PMDSU (Foto: Kemristekdikti)

JAKARTA - Sebanyak 228 calon Doktor Muda menghadiri Anjangsana Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) tahun 2019. Para peserta yang disebut 'Kopassus' ini merupakan mahasiswa penerima beasiswa PMDSU Batch III yang berasal dari 11 perguruan tinggi pengampu program.

Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti membeberkan Program PMDSU sebagai terobosan yang efektif dan efisien untuk peningkatan mutu pendidikan tinggi serta daya saing bangsa. Dari segi waktu juga lebih singkat, hanya empat tahun masa studi. Beasiswa ini kami berikan bagi sarjana unggul di berbagai penjuru Tanah Air.

 Baca juga: Menristekdikti: Sinergi Penelitian Penting untuk Kemajuan Kendaraan Listrik

"Kuliah dengan beasiswa PMDSU sama dengan membeli satu dapat dua. Artinya mahasiswa meneruskan studi jenjang pascasarjana, namun begitu lulus langsung mendapat Master sekaligus Doktor atau langsung Doktor," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (17/10/2019).

 PMDSU (Foto Kemristekdikti)

Dirinya mengatakan, beasiswa tersebut diberikan bagi sarjana unggul di berbagai penjuru Tanah Air. Mereka akan dibimbing oleh para Promotor andal di bidangnya, serta mendapatkan iklim akademik yang kondusif. Skema beasiswa PMDSU adalah beasiswa penuh, termasuk dengan penelitian dan biaya hidup.

 Baca juga: RI-Korsel Kolaborasi Lewat Asia Cyber University, Apa Itu?

"Mereka juga berkesempatan untuk meneliti di luar negeri bersama ilmuwan kelas dunia. Di sisi lain, para mahasiswa PMDSU diharuskan untuk bisa lulus tepat waktu dan menghasilkan minimal dua publikasi internasional," ujarnya.

Dirinya membeberkan efektivitas dari beasiswa ini, yaitu lulusan PMDSU sudah jelas bahwa kariernya akan menjadi akademisi, baik itu dosen, peneliti, atau perekayasa. Impaknya pun dapat diukur dengan inovasi yang dihasilkan dari pengembangan riset yang dilakukan.

Sementara itu, lanjutnya, dari sisi anggaran, biaya meluluskan Doktor dari program PMDSU kurang lebih Rp280.000.000. Jumlah ini hanya satu per tiga dari biaya studi S-3 di luar negeri.

 Baca juga: Riset-Inovasi dan Paten Indonesia Juara 1 di Asean

"Padahal, dari sisi kualitas mahasiswa PMDSU ini tidak kalah, bahkan lebih produktif," ujarnya.

Mengenai sebutan 'Kopassus', lanjutnya, peserta PMDSU layaknya pasukan khusus yang diproyeksikan untuk menjadi SDM unggul. Para penerima PMDSU di samping cerdas juga harus memiliki sikap mandiri, memiliki integritas dan karakter yang kuat, serta berwawasan kebangsaan.

Di saat yang sama, Pemerintah kini tengah fokus pada pembangunan SDM, bahkan menggelorakan visi “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Pembangunan SDM ini dibutuhkan agar Indonesia dapat melompat dari negara dengan ekonomi berbasis sumber daya alam ke negara dengan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.

"Para lulusan PMDSU inilah yang diharapkan dapat menjadi agent of innovation sehingga daya saing bangsa meningkat, begitu juga dengan perekonomiannya," ujarnya.

Dari pencapaian yang telah dilalui, per September 2019 PMDSU telah ada 547 dokumen publikasi yang dihasilkan oleh 211 mahasiswa dari 133 promotor. Dari jumlah tersebut, 410 di antaranya adalah publikasi di jurnal dan sisanya berupa prosiding dan buku chapter.

"Dilihat dari kualitasnya, publikasi di jurnal q1 sebanyak 59, q2 sebanyak 123, dan q3 sebanyak 148," ujarnya.

Selain publikasi, beberapa mahasiswa PMDSU juga mampu memiliki H-index 4 dan 5. Sedangkan berdasarkan tracer studi alumni PMDSU, 25 alumni kini telah menjadi dosen tetap di berbagai perguruan tinggi, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Andalas (Unand), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Indonesia (UI). PMDSU juga pernah melahirkan Doktor termuda, yakni Grandprix T.M. Kadja yang kala itu lulus di usia 24 tahun.

Sayangnya, lanjut Ali, saat ini memang belum ada formasi khusus bagi alumni PMDSU. Meskipun sudah ada yang menjadi dosen PNS.

"Kami sedang melakukan komunikasi dengan Kemenpan-RB terkait hal ini, dan juga menyisir regulasi-regulasi yang kiranya menghambat perekrutan alumni PMDSU," ujarnya.

Dirinya berharap, perguruan tinggi benar-benar memanfaatkan alumni PMDSU untuk memenuhi kebutuhan dosen-dosen muda berkualifikasi Doktor. Kemeristekdikti bersedia menjadi jembatan, baik bagi alumni PMDSU yang belum memiliki homebase, maupun perguruan tinggi yang kekurangan dosen.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini