nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kementan Perkuat Kewaspadaan Dini Penyakit ASF karena Berpotensi Bikin Negara Rugi

Minggu 20 Oktober 2019 01:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 20 1 2119201 kementan-perkuat-kewaspadaan-dini-penyakit-asf-karena-berpotensi-bikin-negara-rugi-edoDqyklYJ.jpg Foto: Kementan

BOGOR - Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Diarmita, meminta semua pihak di Kementan, waspada terhadap penyakit African Swine Fever (ASF). Hal itu disampaikan saat Diarmita menjadi keynote speech di Seminar Internasional AFS di Bogor pada Sabtu 19 Oktober 2019.

"Tindakan kewaspadaan dini terhadap penyakit ini harus segera diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis yang meliputi pengamatan/deteksi cepat, pelaporan cepat dan pengamanan cepat,” tegas I Ketut Diarmita.

Ketut menambahkan, Kementan terus berupaya meningkatkan kewaspadaan dini dalam penanganan dan pencegahan penyebaran wabah penyakit tersebut. Langkah terpenting menurut Diarmita adalah pemerintah siap melakukan langkah cepat dan eksekusi bila penyakit ini terjadi.

Dalam perkembangan penyakit tersebut telah mendekati perbatasan wilayah Indonesia, sehingga potensi ancaman terhadap masyarakat sangatlah besar. Terkait dengan kondisi tersebut, tindakan kewaspadaan dini terhadap penyakit ASF harus segera diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis.

Ketut menambahkan, ASF sangat menular pada ternak babi dan babi hutan, dan menyebabkan kematian yang tinggi, sehingga dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi. Indonesia termasuk wilayah terancam, mengingat populasi babi yang sangat tinggi di beberapa wilayah antara lain Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, NTT, Bali, Papua, dan Papua Barat.

Pemerintah telah menyiapkan pedoman kesiapsiagaan darurat veteriner ASF (Kiatvetindo ASF) dengan empat tahapan penanggulangan yaitu Tahap Investigasi, Tahap Siaga, Tahap Operasional dan Tahap pemulihan.

Hal lain adalah sosialisasi terkait ASF di wilayah-wilayah risiko tinggi, membuat bahan komunikasi, informasi dan edukasi untuk di pasang di bandara, pemantauan dan respon terhadap kasus kematian babi yang dilaporkan melalui iSikhnas, membuat penilaian risiko masuknya ASF ke Indonesia sehingga membantu meningkatkan kewaspadaan.

Barantan Siap Antisipasi

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Agus Sunanto menegaskan Badan Karantina Pertanian (Barantan) telah lakukan upaya antisipatif. Di antaranya memperketat serta meningkatkan kewaspadaan pengawasan karantina di berbagai tempat pemasukan negara. Beberapa kali Barantan berhasil menggagalkan masuknya komoditas yang berpotensi membawa virus, seperti daging babi, dendeng, sosis, usus dan olahan babi lainnya.

Sebagai contoh, Karantina Pertanian Soekarno Hatta sepanjang 2019 hingga September, petugas karantina menahan komoditas petensial sebanyak 225,28 kg, yang berasal dari barang bawaan penumpang.

Selain melakukan pengawasan, Agus menjelaskan pihaknya merangkul semua instansi, baik di bandara, pelabuhan dan pos lintas batas negara, seperti Bea dan Cukai, Imigrasi, unsur airlines, agen travel serta dinas peternakan di daerah.

Menurut Agus, Kementan telah mengitung potensi kerugian kematian akibat ASF. Apabila dihitung 30% saja populasi terdampak, maka kerugian peternakan babi dapat mencapai Rp7,6 T.

Selain itu, Indonesia akan kehilangan pasar ekspor dan potensinya, baik untuk babi maupun produknya. Saat ini Indonesia memiliki banyak peternakan babi, dan merupakan salah satu pemasok utama bagi pasar Singapura. (adv)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini