Universitas Terbuka Gelar Seminar Internasional Menyongsong Industri 5.0

Hambali, Okezone · Jum'at 25 Oktober 2019 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 25 65 2121489 -1RTe4Byjh3.jpg Dekan FE UT Ali Muktiyanto dan VP Capital Human Strategic Management Telkom and Board of Commissioners PT. PINS, Dwi Heriyanto (Foto: Hambali/Okezone)

TANGERANG SELATAN - Civitas akademik Universitas Terbuka (UT) menggelar International Seminar on Business, Economics, Social Scienceand Technology (ISBEST 2nd) dan Competition of Public Sector Innovation Award (COPSI 1st) 2019 di UT Convention Centre, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan.

Seminar tersebut terselenggara atas kerja sama Fakultas Ekonomi UT dengan Asosiasi Pengajar Akuntansi Sektor Publik (APSAE) dan Rumah Publikasi Indonesia (RPI). Gelaran ISBEST dan COPSI berlangsung selama 2 hari hingga 24 Oktober 2019.

Kali ini tema yang diangkat adalah "Indonesian Society in 5.0: Innovation Challenges and Opportunities". Turut diundang menjadi narasumber, Dwi Heriyanto selaku VP. Human Capital Strategic Management TELKOM and Board of Commissioners PT. PINS.

Pembicara berikutnya yaitu Datok Yusof Kasim dari Universiti Kebangsaan Malaysia serta Masatsugu Nemoto dari Chungbuk National University, Korea. Seminar terbuka untuk semua kalangan, baik akademisi, peneliti, praktisi dan mahasiswa.

Dekan Fakultas Ekonomi UT, Ali Muktiyanto, menjelaskan, pemilihan tema dalam seminar didasarkan pada guncangan ekonomi, bisnis dan sosial yang disebabkan oleh munculnya teknologi digital. Disebutkan, teknologi digital telah mengubah struktur ekonomi, bisnis, dan kehidupan konvensional secara global.

"Pertama tentu saja karena sesuai dengan kompetensi Fakultas Ekonomi, yang kedua adalah bahwa tuntutan saat ini tidak lagi kita bicara proses bisnis secara tradisional, kita harus menginjak pada usaha digital. Jadi hal itu tidak bisa ditolak," katanya kepada Okezone, Rabu 23 Oktober 2019.

Menurut dia, tema Society 5.0 itu akan mendorong para peserta seminar dari akademisi, praktisi dan mahasiswa untuk saling memberikan kontribusi pemikiran secara luas. Nantinya, kajian itu akan diserahkan kepada pemerintah sebagai rujukan dalam persiapan memasuki industri 5.0.

"Kita berharap, hasil dari seminar ini akan kita kirimkan ke pihak-pihak yang terkait untuk menjadi bahan pertimbangan. Bahwa memang ini adalah keniscayaan, kalau kita tidak (menyiapkannya) kita akan terdistrupsi. Jika tidak mengantisipasinya, kita akan ketinggalan, kita akan kalah," ungkapnya.

Bersamaan dengan era revolusi industri 4.0 yang berpusat pada informasi dan data yang bersifat digital, maka muncul Society 5.0, yaitu sebuah periode yang berpusat pada manusia dengan menyeimbangkan kemajuan ekonomi dalam memecahkan masalah sosial.

Melalui Society 5.0, kecerdasan buatan akan mengubah big data di semua lapisan masyarakat, sehingga Internet of Things (IoT) akan menjadi kebijakan baru. Kondisi demikian dapat didedikasikan guna meningkatkan kemampuan manusia serta membuka peluang baru.

"Lebih dari 90 artikel dipresentasikan di hari pertama penyelenggaraan ISBEST 2019 yang mengeksplorasi tantangan dan peluang yang terbagi dalam 10 sub tema," ujarnya.

Pada hari itu, pembicara utama adalah Dwi Heriyanto, lalu Datok Yusof Kasim dan Masatsugu Nemoto. Sedangkan di hari kedua, dilangsungkan COPSI 1st 2019 yang merupakan wadah untuk memberikan apresiasi terhadap penggiat di sektor publik.

Entitas sektor publik yang dapat mengikuti COPSI 1st 2019 adalah Pemerintah Daerah, Badan Layanan Umum maupun Badan Layanan Umum Daerah (BLU/BLUD), Badan Usaha Milik Negara maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMN/BUMD), rumah sakit, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan lainnya.

Tujuan digelarnya COPSI untuk meningkatkan kualitas produk-produk inovasi dalam domain sektor publik, sehingga mampu secara nyata memberikan kemanfaatan bagi penyelenggara layanan publik maupun bagi masyarakat sebagai pengguna layanan publik.

Beberapa juri dari COPSI 1st 2019 ini adalah Zakiah Saleh dari University of Malaya, Rahmadi Murwanto Direktur PKN STAN, dan Ali Muktiyanto Dekan Fakultas Ekonomi UT dengan didampingi oleh Indra Bastian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Moh. Mahsun Direktur APSAE.

Pada hari kedua penyelenggaraan ISBEST 2nd dan COPSI 1st 2019, digelar pula Coaching Clinic untuk meningkatkan kualitas dari makalah-makalah yang telah dipresentasikan pada hari pertama oleh Zakiah Saleh dari Universityof Malaya dan juga Isma Widiaty serta Abdullah dari RPI.

Di lokasi yang sama, nara sumber lainnya, Dwi Heriyanto, coba membandingkan kemunculan Society 5.0 di Jepang. Kata dia, negara itu menggagas industri 5.0 karena beberapa faktor, yakni kemajuan aktivitas digital broadband yang memadai, lalu juga disebabkan human resource (sumber daya) manusianya yang terbatas.

"Bagaimana dengan Indonesia? tentunya kalau kita komparasikan kita masih jauh. Kita berlomba di industri 4.0, tapi mungkin (kenyataannya) kita masih industri 3.0. Tapi memang bangsa ini sedang menuju ke arah ke sana," ucapnya.

Lebih lanjut, dibeberkan Dwi, bahwa hal terpenting ke depan yang harus dilakukan adalah kolaborasi antara 3 pemangku kepentingan, yaitu akademisi yang terus melakukan riset up to date, pengelola bisnis dan pemerintah. Namun dari 3 instrumen itu, yang paling besar pengaruhnya adalah pemerintah dalam mewujudkan Society 5.0.

"Pemerintah itu sebagai dirigennya," tukasnya. (adv)

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini