nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Keluarga Afghanistan Bersembunyi di Truk demi Diselundupkan ke Eropa

Selasa 29 Oktober 2019 18:37 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 29 18 2123190 cerita-keluarga-afghanistan-bersembunyi-di-dalam-truk-demi-diselundupkan-masuk-ke-eropa-b5Q2uQ81Bl.jpg Nasir Ahmad Ahmani. (Foto/ABC Australia)

Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya kemudian menumbuhkan brewok, mengenakan pakaian seperti Taliban, dan melarikan diri ke Pakistan dengan seorang teman. Namun karena rindu dengan Afghanistan, saya kemudian kembali lagi.

Tahun 2001, ketika Amerika Serikat mengusir Taliban, saya belajar Hukum dan menjadi pegiat hak asasi manusia. Salah satu kerja saya adalah menghadiri pertemuan dengan pemuka agama (mullah) dan setiap kali saya berbicara mengenai hak perempuan, mereka marah.

Mereka mengatakan kepada saya kalau saya tetap bersikeras mengatakan laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, mereka akan membunuh saya. Saya diserang dua kali di jalanan kota Kabul dan harus dirawat di rumah sakit.

Foto/ABC Australia

Kemudian di satu hari seorang tukang roti di dekat rumah membangunkan saya jam 5 pagi dan mengatakan ada kelompok 12 orang bersenjata yang mendatangi kedai rotinya membawa foto saya dan bertanya dimana saya tinggal.

Saya menyadari keadaannya jadi serius. Saya dan istri saya memutuskan melarikan diri malam itu bersama keenam anak kami yang berusia antara dua sampai 14 tahun.

Baca juga: Pengakuan Pria Vietnam yang Menjadi Petani Ganja di Inggris

Ketika itu bulan September 2015. Sepupu saya menemukan seorang penyeludup yang bisa membawa kami ke Turki. Di Afghanistan penyeludup manusia ada di mana-mana.

Foto/Reuters

Diperlukan biaya sekitar Rp200 juta untuk satu keluarga, dan sepupu saya akan menggadaikan rumah kami yang kecil di Kabul untuk membayar penyeludup tersebut ketika kami tiba di Turki.

Kami tidak punya makanan dan hanya dua botol air.  Kami berangkat menggunakan bus ke Nimroz yang berbatasan dengan Iran dan Pakistan di mana ada ratusan restoran dan hotel yang mengiklankan penyeludup manusia.

Ini perjalanan yang berbahaya khususnya bagi warga suku Hazara. Penyeludup manusia ini harus membayar suap kepada Taliban sehingga mereka tidak menyerang.

Penyeludup dan polisi bekerjama seperti sebuah kelompok mafia besar, dan perbatasaan itu dikuasai oleh Taliban dan Al Qaida. Mereka bekerja sama dan ini merupakan bisnis besar.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini