nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

UNS Segera Kukuhkan 3 Guru Besar Teranyar, 2 dari Fakultas Ilmu Budaya

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Kamis 31 Oktober 2019 18:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 31 65 2124235 uns-segera-kukuhkan-3-guru-besar-teranyar-2-dari-fakultas-ilmu-budaya-08u0ZGcQJp.jpg UNS (Foto: Dok. UNS)

JAKARTA - Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta resmi menambah tiga guru besar baru. Prof. Dr. Suciati, M.Pd dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prof. Dr. Leo Agung S., M.Pd dari FKIP, dan Prof. Dr. Istadiyantha, M.S dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang menambah daftar deretan guru besar di UNS.

Prof. Dr. Suciati, M.Pd akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan IPA FKIP UNS, Dr. Leo Agung S., M.Pd akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan FKIP UNS, dan Prof. Dr. Istadiyantha, M.S akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Timur Tengah. Prof. Dr. Suciati, M.Pd merupakan Guru Besar ke-204 UNS dan ke-60 pada FKIP, Prof. Dr. Leo Agung S., M.Pd merupakan Guru Besar ke-205 UNS dan ke-61 FKIP dan Prof. Dr. Istadiyantha, M.S merupakan Guru Besar ke-206 UNS dan ke-23 FIB.

Baca Juga: Tips Sukses dari Lulusan Terbaik UNS: Jangan Lupa Tekad dan Tujuan

Nantinya, mereka bertiga akan dikukuhkan sebagai Guru Besar UNS pada Selasa (5/11/2019) di Auditorium G.P.H Haryo Mataram UNS. Dalam sidang pengukuhan Guru Besar tersebut, Prof. Dr. Suciati, M.Pd akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul “Teknik Scaffolding pada Pembelajaran IPA Berorientasi Inkuiri: Implikasinya terhadap Kemampuan Berpikir Ilmiah”.

“Teknik scaffolding adalah dukungan atau bantuan sementara yang diberikan guru kepada peserta didik untuk menyelesaikan tugas-tugas atau permasalahan. Dukungan atau bantuan bisa diberikan dalam berbagai bentuk dan cara dan akan dilakukan pengurangan/ dihentikan ketika peserta didik sudah mampu menyelesaikan permasalahan sendiri atau mampu mengambil alih tanggung jawab dalam pembelajaran. Menurut Herber (1993) bantuan yang diberikan dihentikan, ketika peserta didik telah memiliki pemahaman yang permanen. Scaffolding dapat diberikan dalam berbagai bentuk yang antara lain melalui pemberian pemodelan atau peragaan perilaku tertentu), pemberian penjelasan, mengajak peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran, verifikasi dan klarifikasi terhadap pemahaman peserta didik serta mengajak peserta didik berkontribusi melalui petunjuk atau kata kunci,” demikian Prof. Dr. Suciati, M.Pd jelaskan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (31/10/2019).

uns

Sementara itu, Prof. Dr. Leo Agung S., M.Pd membacakan pidato pengukuhan dengan judul “Pendidikan Karakter sebagai Fondasi Keterampilan Abad 21 (5CS Super Skills)”.

"Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen penge- tahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah," tuturnya.

"Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Lickona (2000), tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis," lanjut Prof. Dr. Leo Agung S., M.Pd.

uns

Sedangkan Prof. Dr. Istadiyantha, M.S membacakan pidato pengukuhan dengan judul “Pemaknaan Baru Terhadap Hubungan Indonesia - Timur Tengah dalam Rangka Menyongsong ERA 5.0”.

“Guna menyongsong Era 5.0 atau Society 5.0 dengan tema Humanisme, Indonesia dan Timur Tengah berkesempatan untuk merumuskan bentuk-bentuk humanisme yang akan dikontribusikan dalam era tersebut. Humanisme yang dikembangkan harus terkontrol oleh tiga hal yaitu: antroposentris, ekosentris, dan teosentris,” kata Prof. Dr. Istadiyantha, M.S.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini